Ketika Cara Halus Tak Berjalan Mulus

Ketika Cara Halus Tak Berjalan Mulus - Ketika niat jelek yang didasari dengan kebencian begitu menggebu tidak berjalan mulus alias mengalami kegagalan maka akan menambah bobot dari rasa benci itu dalam diri seseorang. Sehingga mereka akan mencari cara lain, mencari perantara lain, mencari alat lain jika cara yang mereka tempuh sebelumnya mengalami kegagalan. Mereka akan berhenti jika musuh atau orang yang dibencinya menderita atau lebih parah lagi, meninggal dunia. Seperti kisah berikut ini.

Kepulan dupa mengepul memenuhi ruangan, membuat sesak nafas dan kepala pusing bagi mereka yang belum terbiasa mencium dan menghisap aroma asap itu. Namun kedua lelaki itu seolah menikmati dan tenggelam bersama kepulan asap dupa. Seperti sebuah tim yang kompak, mereka bahu-membahu saling membantu mewujudkan keinginan yang sama yaitu melenyapkan Brodin dari muka bumi ini dengan cara halus. Meskipun usaha yang telah mereka lakukan sebelumnya menemui kegagalan, mereka belum menyerah.
gambar dupa

Petruk Mencari Jati Diri 2

Petruk Mencari Jati Diri Bagian II

Tumpasnya Bambang Ekalaya

Meskipun selalu berusaha memahami keadaan sebagaimana apa adanya, Petruk tidak sepenuhnya bisa menerima jalan fikiran tuan-tuanya yang seringkali melanggar “paugeran” (aturan), bahkan tak jarang mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.

Bendoro-bendoronya yang selalu diasumsikan sebagai pihak yang benar, ternyata pada kenyataannya seringkali melakukan tindakan yang cenderung keji. Kenyataan yang mau tidak mau menimbulkan perang di batin Petruk, perang batin yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya.

gambar petruk2
“… midero sak jagat royo, kalingono wukir lan samudro, nora ilang memanise, dadi ati selawase…”
Sayup-sayup tendengar tembang mendayu-dayu, membuat Petruk menghentikan ayunan kapaknya. Dia teringat kejadian yang menyedihkan sekaligus memalukan, kisah tumpasnya Ekalaya.
Awal peristiwa terjadi di suatu siang yang gerah di tepi hutan yang nampak sejuk. Petruk tak mampu menyembunyikan kegelisahan, dia menangkap gejala alam, sesuatu akan terjadi, sesuatu yang tidak menyenangkan.

Semar memejamkan pura-pura tidur, Gareng sibuk menulis puisi tentang kegelisahan hati. sedangkan Bagong mondar mandir dengan wajah seperti arca tanpa ekspresi. Semua gelisah.

Mereka sedang menemani momongan sekaligus tuan mereka, Raden Arjuna yang juga bernama Janaka, Permadi atau Parto, satria lelananging jagat panengahing pandawa. Mereka sadar sepenuhnya bahwa masalah yang akan timbul bersumber pada momongan mereka ini.

Sangat jelas dimata batin Petruk, aura yang nampak dari pancaran wajah ndoronya ini. Aura yang memalukan, aura yang bersifat “rendah”. Dan Petruk pun sudah sangat hafal dengan tabiat tuannya yang satu ini.

Kegelisahan para punakawan ini segera terjawab. Tiba-tiba dihadapan mereka mucul seorang kesatria tampan (meskipun tak serupawan Arjuna), berkacak pinggang dengan wajah marah. “Hai Arjuna, kalau kamu memang merasa laki-laki hadapi aku, Ekalaya”

Laki-laki ini adalah Bambang Ekalaya, raja kerajaan Nisada. Apa pasalnya sehingga lelaki gagah ini sedemikian murkanya?

Beberapa saat yang lalu saat matahari baru saja memancarkan sinarnya ke bumi, ditepi hutan ini, ada seorang wanita cantik yang sedang dikejar-kejar oleh segerombolan raksasa. Setelah terkejar wanita ini dikepung rapat. Raksasa-raksasa ini berhaha-hihi, bagai segerombolan kucing yang berebut seekor tikus.

Dewi Angraeni nama wanita cantik ini. Apa daya seorang wanita dihadapan segerombolan raksasa? Dia hanya bisa berteriak meminta tolong.

Teriakannya terdengar oleh Raden Arjuna. Bagi Arjuna yang sakti mandraguna, bukanlah hal yang sulit untuk bertindak. Dengan sekali sentakan, hilang sudah nyawa semua raksasa.

Arjuna memandang Anggraeni dengan tatapan mata aneh, tatapan mata yang muncul karena bangkitnya dorongan yang bersifat rendah. Senyum Arjuna juga senyum kurang ajar. Anggraeni bukannya tidak merasakan hal ini.

Sang dewi mengucapkan terimakasih atas pertolongan yang diterimanya.

Tapi ternyata ucapan terimakasih saja, tidak cukup bagi Raja Madukara ini. Den Bagus Casanova Raden Janaka, playboy kelas internasional yang jumlah isterinya sudah tak terbilang ini menginginkan yang lebih dari itu!!! Dia menginginkan dilayani bercinta sebagai imbalan jasanya!!! Duh Gusti…

“Saya sudah bersuami, Raden”, tampik Anggraeni

“Apa masalahnya kalau kamu sudah bersuami? aku bisa membunuh suamimu”, jawab Arjuna enteng. 

“Dan lagi pula apakah suamimu setampan aku? Apakah dia sekaya aku? Aku ini Raja agung”

Anggraeni juga tahu Arjuna gagah perkasa tampan tiada banding, dia juga tidak memungkiri sesungguhnya dia juga tertarik. Namun bagi Anggraeni, cinta terlalu agung untuk diperjualbelikan. Dia bercinta karena memang mencintai. Baginya tidak ada cinta bagi laki-laki macam Arjuna. 

Anggraeni adalah pribadi yang bahagia dengan bersetia kepada cintanya.

Dia menolak keras!!!

Sebelumnya, Arjuna tak pernah menerima penolakan dari wanita. Ratusan wanita dan dewi-dewi dari kahyangan pun berebut untuk jatuh dalam pelukan Don Juan titisan Batara Indra ini.

Penolakan ini semakin menyulut birahi Arjuna. Kobaran nafsu membuat buta hatinya. Dia hendak memaksakan kehendaknya. Anggraeni terancam menjadi korban perkosaan. Apalah daya Anggraeni berhadapan dengan kesaktian Arjuna? Dia berlari…. sampailah ke tepi jurang!!! Dead end!!! Jalan buntu!!!

Dalam putus asa nya, Anggraeni melompat ke jurang. Luncuran tubuhnya ke jurang yang sangat dalam membuatnya pingsan. Untunglah seseorang menyambar tubuhnya sebelum terbentur dasar jurang, orang itu adalah Dewi Ipri, ibunya sendiri.

Dewi Anggraeni adalah isteri Bambang Ekalaya yang sedang berhadapan dengan Arjuna. Dia menuntut pertanggungjawaban atas perlakuan yang diterima isterinya.

Sangat wajar kalau Ekalaya jadi berang. Jangankan seorang raja, Petruk pun akan mengangkat pecoknya kalau isterinya diganggu orang.

Tantangan Ekalaya dilayani oleh Arjuna. Duel berlangsung singkat. Hanya satu jurus, Arjuna terkapar tak bernyawa!!!

Bagaimana bisa jagoan andalan Pandawa yang sakti mandraguna, murid terkasih Pendeta Durna, kalah oleh seorang yang tidak terkenal?

Sepuluh tahun sebelumnya, Ekalaya pernah datang menghadap Durna untuk diterima sebagai murid. Durna menolak, karena Ekalaya hanyalah raja sebuah kerajaan kecil. Durna hanya menerima murid dari kalangan kerajaan-kerajaan besar dan elit macam Astina, Nisada tidak masuk itungannya.

Penolakan Durna tidak membuat Ekalaya patah semangat. Dia menyepi dan mendirikan sebuah tenda di sebuah tempat rahasia. Di dalam tenda itu dia mengukir sebongkah kayu menjadi patung Durna. Setiap hendak mengasah ilmu kanuragan, dia selalu bersemedi di depan patung Durna, memohon bimbingan dari “guru”nya. Dia bukan sekedar murid yang hanya “menerima” tapi dia adalah murid yang “mencari”, murid yang “mencari” akan selalu lebih hebat daripada seorang murid yang hanya “menerima”. Oleh karena itu Ekalaya jauh lebih sakti ketimbang Arjuna.

Ekalaya menginjak dada Arjuna dan berkata “Kalau ada yang tidak menerimakan kematian keparat ini, silahkan datang padaku”. Dan kemudia dia berlalu.

Wajah Petruk pucat pasi, tidak tahu harus berbuat apa. Dia faham betul siapa yang bersalah. Gareng meratap dan bersiap dengan bait-bait sajak duka nya. Bagong menangis menjerit-jerit.

Menangis memang adalah salah satu tugas punakawan, mereka menangis bukan karena menangisi kepergian tuannya. Mereka menangis menyesali alasan kematian Arjuna. Mereka malu mengetahui kelakuan tidak bermartabat tuannya.

Semar tetap mendengkur. Petruk tahu persis bahwa bapaknya itu hanya pura-pura tidur…

Gareng sudah mulai dengan sajaknya, “Bumi akan berduka, langit akan menangis bertahun-tahun, mengiringi kepergian Raden Arjuna. Seluruh rakyat akan berkabung dan meratapi pemakaman raja yang agung…”

“Tidak ada pemakaman dan tidak ada perkabungan!!!”, tiba-tiba saja Sri Kresna sudah berdiri dihadapan Gareng dan membentak.

“Gimana toh Ndoro Kresna ini, apa jasad Den Rejuno dibiarkan dimakan anjing hutan, kok nggak dimakamkan, pripun toh, nganeh-anehi?” Bagong nimbrung.

“Arjuna belum waktunya mati, ” Kresna berujar.

“Oooo… jadi Yamadipati si Dewa Maut salah administrasi ya?” Bagong memang tidak sopan.

“Perang Baratayudha memerlukan keberadaan Arjuna. Adik iparku ini harus hidup lagi” Kresna semakin tegas, sembari mengeluarkan pusaka Kembang Wijayakusuma untuk menghidupkan lagi Raden Arjuna

“Biyuh… orang mau mati kok nggak boleh. Apa hanya gara-gara Baratayudha trus Den Rejuno harus hidup terus? Lha kok enak” Bagong makin tak terkendali, “Lha apa para dewa di kahyangan sudah terlanjur mengeluarkan biaya yang besar untuk skenario perang Baratayudha? Sehingga perang nggak boleh batal?”

“Kamu bisa diam atau tidak???” Kresna membentak, wajah Bagong tetap datar dan dingin seperti dinding candi.

“Apa yang terjadi Kanda Prabu?” Yudistira datang dan bertanya, diikuti oleh Bima, Nakula dan Sadewa. Lengkaplah Pandawa!!!

“Ah… Dimas Yudistira sudah datang, aku akan menghidupkan lagi Dimas Permadi yang baru saja dibunuh oleh penjahat Ekalaya, lalu…”

“Yang penjahat bukan Ekalaya!!!” Petruk memotong kalimat Kresna yang belum selesai.

“Jaga mulutmu Petruk!!!”

“Justeru karena saya menjaga mulut, maka saya bicara yang sebenarnya!!!”

Dengkuran Semar yang mendadak makin keras menghentikan perdebatan Kresna-Petruk.

Suasana jadi kaku. Yudistira nampak bersedih. Bima menggeretakkan gigi tanpa mengeluarkan satu kata pun. Bima adalah orang yang jujur, dia marah bukan karena Arjuna terbunuh, tapi dia sangat malu mengetahui alasan mengapa adiknya menemui ajal.

Kresna menghampiri jasad Arjuna. Sekali usap hiduplah kembali Raden Arjuna!!!

“Terimakasih Kakang Kresna, sekarang saya akan pergi menuntut balas”, kalimat pertama yang keluar dari mulut Arjuna membuat Petruk mendadak mual hebat.

Kresna tersenyum, “Seribu Arjuna tak akan mampu menandingi kesaktian satu orang Ekalaya, Dimas harus faham hal ini”

“Kalau begitu biarkan saya mati menebus malu, saya, Arjuna, tidak mau hidup satu atap langit dengan Ekalaya”

“Baiklah kalau begitu, biarkan saya yang akan menyelesaikan masalah kecil ini. Dimas Yudistira, ajak adik-adikmu pulang ke Amarta. Gareng, Petruk, Bagong ikut aku. Eee lhadalah… Kakang Semar lha kok malah tidur terus?”

“Hemmm….., Anakmas Prabu tahu persis apa yang saya lakan lakukan kalau saya tidak tidur, oaahmmmm” Semar menjawab pertanyaan Kresna, dan tidur lagi.

Petruk tahu persis bahwa Kresna adalah rajanya ahli tipu muslihat, dia berusaha menerka apa yang akan dilakukan titisan Wisnu ini.

Dan Petruk juga gemas melihat bapaknya tidak berkomentar apa-apa. Sambil menahan gejolak hati dia mengikuti langkah kedua saudaranya, dia bisa merasakan akan ada kejadian yang lebih memalukan.

Ternyata Kresna mengendap bagaikan maling, masuk kedalam tenda rahasia Ekalaya, kemudian bersembunyi dibelakang patung Resi Durna!!! Petruk semakin mual disertai dengan nyeri dada hebat melihat hal ini.

Ekalaya masuk ke dalam tenda beberapa saat kemudian. Dia berlutut didepan “guru”nya, semedi, menghaturkan terimakasih yang tak terhingga, karena atas restu gurunya, dia memiliki kesaktian melebihi Arjuna, murid terkasih Resi Durna, murid “guru”nya.

“Ekalaya! Apa yang telah kamu lakukan?” Patung Durna bersuara,”Kamu telah membunuh murid ku yang paling kusayangi!”

Ekalaya bersujud, “Maafkan saya Guru, saya membunuh Arjuna adalah sebuah kewajaran”

“Kalau begitu, adalah sebuah kewajaran juga kalau aku sekarang marah kepadamu”

“Baiklah Guru, jika demikian, ijinkan saya menerima kewajaran berikutnya. Kalau Guru menginginkan nyawaku, ambil saja, saya ikhlas”

“Tidak Ekalaya, aku tidak menghendaki nyawamu. Tapi serahkan cincin di jari manismu itu”

Ekalaya seratus persen sadar, bahwa cincin ampal gading yang melingkar di jari manisnya adalah akumulasi daya kesaktian yang didapatkan selama ini. Tanpa cincin itu dia bukan lagi Ekalaya yang sakti, dia akan menjadi manusia biasa.

Namun Ekalaya beranggapan bahwa kesaktiannya selama ini dia dapatkan berkat bimbingan Resi Durna. Dan karena itu Durna sangat berhak memintanya kembali. Dengan hati yang tulus ikhlas, Ekalaya sujud semakin dalam, melepaskan dan menyerahkan cicin itu.

Pada saat yang bersamaan, sebilah keris melayang dari belakang patung Durna, menembus dada kiri Ekalaya!!! Inilah saat yang kritis, detik-detik yang merupakan batas, batas yang kabur antara duka dan bahagia seorang anak manusia.

“Keparat kamu Durna…”, Ekalaya tersungkur !!! Dia sangat kecewa atas keculasan Durna!!! Gurunya!!! Nyawanya meninggalkan raga dengan sejuta dendam.

Dari kejauhan, para punakawan ribut berteriak melihat kejadian ini.

Petruk terduduk lemas dengan tatapan kosong.

“Reng…, lihat itu… itu….!!! yang membunuh Ekalaya bukan Durna, tapi Kresna!!!” Bagong yang tak tahu tata krama memang seringkali memanggil orang tanpa embel-embel penghormatan

“Bagong menyun, Bagong druhun!!! Meskipun mataku tidak sebesar matamu, tapi aku, Gareng, Kakangmu ini tidak buta!!! Aku juga tahu kalau Prabu Kresna pelakunya!!! Aduh Gusti kang Moho Widhi, mengapa kau biarkan semua ini terjadi”

Semar mendengkur semakin keras. Ketiga anaknya hanya ribut tak berani melakukan apa-apa, karena bapakanya juga tak melakukan apa-apa, mereka hanya menunggu reaksi Semar.

Petruk semakin tidak mengerti sikap bapaknya yang membiarkan semua ini terjadi. Apa sulitnya bagi Semar untuk menghalangi keculasan Kresna?

Kesaktian Semar tak tertandingi oleh siapapun juga. Seluruh dewa-dewa dikahyangan maju bersama ditambah dengan seribu Kresna pun tak akan mampu menandingi kesaktian Sang Hyang Ismoyo ini. Tapi ternyata Semar tak kunjung melakukan sesuatu.

Hati Petruk terguncang!!! Jiwanya terluka!!! Tanpa disadari, dia berjalan meninggalkan kakak dan adiknya yang masih ribut, meninggalkan bapaknya yang tetap tidur, meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu tragedi kehidupan.

Perasaan Petruk semakin teriris mengetahui Dewi Anggraeni yang bersedih dan berkabung sepanjang hidupnya. Dia ingin menghibur tapi tidak punya keberanian, dia malu bertatapan mata. Malu karena tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya memandang Dewi anggraeni dari kejauhan, setiap hari, setiap saat, hingga penghujung hayat Sang Dewi.

Duh… Gusti Kang Murbeng Dumadi yang kuinginkan hanyalah cintaMu

Petruk menghela nafas panjang, mengenang semua peristiwa itu. Kemudian dia kembali mengayunkan kapaknya membelah kayu bakar. Sambil mengalunkan tembang asmorondhono, tembang kerinduan.

“…naliko niro ing dalu, atiku lam-lamen siro wong ayu, nganti mati ora bakal lali, lha kae lintange mlaku

Petruk Mencari Jati Diri I

Petruk Mencari Jati Diri Bagian I

Sudah berabad-abad Petruk menyaksikan perubahan jaman. Berjuta-juta tingkah-polah manusia dia saksikan. Ratusan generasi sudah dia lalui. Tetap saja dia tak bisa paham sepenuhnya bagaimana jalan fikiran makhluk yang bernama manusia.

Sebagai salah satu punakawan. Petruk sudah mengabdi kepada puluhan”ndoro” (tuan), sejak jaman Wisnu pertama kali menitis ke dunia. Hingga saat Wisnu menitis sebagai Arjuna Sasrabahu, menitis lagi sebagai Rama Wijaya, menitis lagi sebagai Sri Kresna.
gambar petruk
Petruk
Petruk hanya bisa tersenyum kadang tertawa geli, dan sesekali melancarkan nota protes akan kelakuan “ndoro-ndoro” (tuan-tuan)-nya yang sering kali tak bisa diterima nalar. Tapi ya memang hanya itu peran Petruk di mayapada ini. Dia tidak punya wewenang lebih dari itu. Meskipun sebenarnya kesaktian Petruk tidak akan mampu ditandingi oleh tuannya yang manapun juga.

Berbeda dengan Gareng yang meledak-ledak dalam menanggapi kegilaan mayapada, berbeda pula dengan Bagong yang sok cuek dan selalu mengabaikan tatakrama. Petruk berusaha lebih realistis dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Meskipun nyeri dadanya acapkali muncul saat melihat kejadian-kejadian hasil rekayasa ndoro-ndoro nya.

Siang itu Petruk sedang membelah kayu bakar, guna keperluan memasak isterinya. Sudah seminggu lebih pasokan elpiji murah dan minyak tanah tak sampai ke desanya.

Di desa Karang Kedempel jaman kontemporer seperti saat ini apapun bisa saja terjadi. Harga beras yang tiba-tiba melonjak melebihi harga anggur Amerika. Minyak goreng yang mendadak menguap di pasaran. Bahkan beberapa dekade yang lalu, orang-orang yang suka protes pun bisa saja mendadak lenyap tanpa bekas. Dan semua pasti akan ditanggapi oleh penguasa Karang Kedempel dengan mengeluarkan “press release”sebagai sebuah “dinamika pembangunan”

Kelangkaan bahan bakar di pasaran, melonjaknya harga sembako, mahalnya biaya pendidikan. Yang berujung pada melebarnya jurang perbedaan kaya-miskin. Adalah hal yang selalu saja terjadi dari jaman ke jaman. Keadaan masyarakat yang “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto tur raharjo” hanyalah sebuah utopia. Yang sering dikatakan kyai-kyai di langgar-langgar dan surau negara yang “baldatun thoyyibatun wa robbun gofuur ” hanyalah sekedar lips service semata.

Seperti yang sudah diduga oleh Petruk, Kang Gareng pasti memberikan reaksi dengan caranya sendiri. Hari ini adalah hari ketiga Gareng berorasi di depan Poskamling, sejak pagi hingga matahari hampir tenggelam. Berusaha menarik perhatian semua warga desa.

“Saudara-saudaraku, mengapa semua ini bisa terjadi?” dengan cengkok khas ala Kang Gareng. “Desa kita ini sedang mengalami degradasi moral dan dekadensi kepribadian. Kebijakan pamong desa kita tidak terarah dan miskin inovasi.”

“Seharusnya kita mulai introspeksi, mengevaluasi situasi dan berani melakukan redifinisi. Sehingga kita bisa meberikan sebuah revitalisasi menuju suatu solusi definitif, guna mendapatkan outcome terbaik dari apa yang kita harapkan”, bagaikan orang kesurupan Gareng berorasi tanpa henti. Tak perduli apakah orang-orang yang berkumpul mengerti apa yang diomongkannya.

Petruk tak habis pikir, dari mana Gareng mendapatkan perbendaharaan kata dan kalimat yang tak ubahnya anggota DPR. Padahal Gareng tidak pernah “makan” bangku sekolahan. Memang orang pintar tidak selalu terkenal dan orang terkenal tidak selalu pintar, tapi Petruk tahu persis bahwa Gareng tidak termasuk diantara keduanya.

Petruk sudah hafal betul dengan model paham kekuasaan di Karang Kedempel dari waktu ke waktu. Kalau mau, sebenarnya bisa saja Petruk mengamuk dan menghajar siapa saja yang dianggap bertanggung jawab atas kesemrawutan pemerintahan. Dengan kesaktiannya, apa yang tak bisa dilakukan Petruk, bahkan (dulu) pernah terjadi, Sri Kresna hampir saja musnah menjadi debu dihajar anak Kyai Semar ini.

Tapi Petruk sudah memutuskan untuk mengambil posisi sebagai punakawan yang resmi. Dia sudah bertekat tidak lagi mengambil tindakan konyol seperti yang dulu sering dia lakukan. Baginya, kemuliaan seseorang tidak terletak pada status sosial. Pengabdian tidak harus dengan menempati posisi tertentu.

Seperti yang terjadi pada episode “Petruk Dadi Ratu” contohnya, sebagai Prabu Kanthong Bolong, Petruk dia melabrak semua tatanan yang sudah terlanjur menjadi “main stream” model kekuasaan di mayapada. Dia menjungkirbalikkan anggapan umum, bahwa penguasa boleh bertindak semaunya, bahwa raja punya hak penuh untuk berlaku adil atapun tidak.

Karuan saja, Ulah Prabu Kanthong Bolong membuat resah raja-raja lain. Bahkan, kahyangan Junggring Saloka pun ikut-ikutan gelisah. Kawah Candradimuka mendidih perlambang adanya “ontran-ontran” yang membahayakan kekuasaan para dewa.

Maka secara aklamasi disepakati, skenario “mengeliminir” raja biang keresahan. Persekutuan raja dan dewa dibentuk, guna melenyapkan suara sumbang yang mengganggu alunan irama yang sudah terlanjur dianggap indah.

Hasilnya? Ibarat jauh panggang dari api.

Bukannya Kanthong Bolong yang mati. Tapi raja jadi-jadian Petruk ini malah mengamuk. Siapapun yang mendekat dihajarnya habis-habisan. Kresna dan Baladewa dibuat babak belur. Batara Guru sang penguasa kahyangan lari terbirit-birit.

Kesaktian dan semua ajian milik dewa-dewa dan raja-raja, seperti tak ada artinya menghadapi Kanthong Bolong. Tahta Jungring Saloka pun dikuasai raja murka ini.

Keadaan semakin semrawut. Sampai akhirnya Semar Bodronoyo turun tangan.

Ngger, Petruk anakku!”, Semar berujar pelan, suaranya serak dan berat seperti biasanya. “Jangan kau kira aku tidak mengenalimu, ngger!”

“Apa yang sudah kau lakukan, thole? Apa yang kau inginkan? Apakah kamu merasa hina menjadi kawulo alit? Apakah kamu merasa lebih mulia bila menjadi raja? “

“Sadarlah ngger, jadilah dirimu sendiri“.

Kanthong Bolong yang gagah dan tampan, berubah seketika menjadi Petruk (yang semua orang tahu, dia sangat jelek). Berlutut dihadapan Semar. Dan Episode “Petruk Dadi Ratu” pun berakhir anti klimaks.

Petruk tersenyum mengingat peristiwa itu. “Ah… hanya Hyang Widi yang perlu tahu apa isi hatiku, selain Dia aku tak perduli”

Kembali dia mengayunkan “pecok”nya membelah kayu bakar. Sambil bersenandung tembang pangkur:

Mingkar-mingkuring angkoro, akarono karanan mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinubo sinukarto….”

Memang tidak mudah jadi seorang Petruk…

Baca Juga : Petruk Mencari Jati Diri Bagian II

Jual Beli Genderuwo?

SORE itu areal persawahan di Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban cukup semarak. Di areal persawahan yang melingkupi desa berpenduduk 628 kepala keluarga tersebut memang tengah memanen hasil bumi berupa kacang. Pria, wanita, tua dan muda tumpah ruah turun ke sawah, memungut hasil panenan. Kehidupan pertanian di Besowo memang cukup maju. Sayangnya, kehidupan damai masyarakat tani di Desa Besowo itu tertutup mitos genderuwo yang telah melingkupinya selama bertahun-tahun.

Kyai Sapujagat, Sang Pelindung

Hari menjelang siang di pemakaman gang tujuh, Malang. Teriknya sinar matahari terhalang rimbunnya daun-daun pinus yang tumbuh subur di sepanjang pemakaman.

Ditengah-tengah pemakaman, tampak seorang anak muda sedang membersihkan sebuah makam tua. Mencabuti rumput-rumput liar dan membuang daun kering dan ranting yang berserakan di sekeliling makam itu.

Setelah makam itu bersih,  ia menyiram air dalam botol serta menaburkan bunga tujuh rupa di sepanjang permukaan makam. Kemudian ia membakar dupa di sisi kepala makam.

Dilema Putra Mas Gondo

Malam Jum'at Kliwon adalah malam yang dianggap keramat bagi masyarakat Jawa, khususnya yang berada di pedesaan. Malam itu diyakini adalah malam dimana mahluk-mahluk gaib yang dikeramatkan keluar dari sarangnya.
Anak Gondoruwo
Malam itu, di bawah sebuah pohon sawo besar tampak seorang pemuda duduk menyendiri, menjauh dari hiruk pikuknya kesibukan para santri yang sedang mengaji atau melakukan aktifitas keagamaan lainnya. Disandarkan tubuhnya di batang pohon. Pandangannya menerawang jauh, menelusuri kegelapan malam, menunggu datangnya seseorang.

Setelah beberapa saat lamanya, tiba-tiba angin berhembus kencang lalu muncul sesosok mahluk besar, hitam berbulu, beberapa langkah di hadapan Gufron sang pemuda itu.
Baca Juga : Misteri Genderuwo dan Kesukaannya

"Asalamu alaikum.." Tegur Gufron, mahluk itu mengangguk dan tersenyum menampilkan deretan gigi-gigi yang putih dan runcing, sangat kontras dengan penampilannya yang hitam mengerikan.

"Ada perlu apa Ngger kok memanggil bapak?" Tanya mahluk itu.

"Saya mau ikut bapak saja, saya sudah tidak tahan lagi menerima hinaan, ejekan dan sindiran orang-orang." Jawab Gufron sambil menitikkan air mata.

Mahluk itu diam sambil menundukkan kepalanya. Sambil menarik nafas panjang dia berkata, "kalau kamu ikut aku, bagaimana dengan ibumu?"

"Biarkan saja ibu bersama suaminya, saya mau ikut bapak saja." Jawab Gufron.

Mahluk itu semakin tertunduk diam. Beberapa lama kemudian, "sebaiknya kamu minta ijin kepada Pak Kyai terlebih dulu, jika Pak Kyai mengijinkan, Bapak akan membawamu. Karena beliau yang merawatmu sejak kamu bayi."

"Ya Pak, tapi Bapak jangan ingkar ya?"

"Asalkan Pak Kyai mengijinkan, Bapak tidak akan ingkar." Kata mahluk itu lalu seperti kedatangannya, kepergiannya diiringi angin berhembus. Wuss .. Maka mahluk itu hilang dari pandangan Gufron.

Gufron merenung sejenak kemudian bangkit berdiri, dihirupnya udara malam lalu dihembuskan seolah membuang beban hidupnya. Dilangkahkan kakinya dengan perlahan, seolah enggan meninggalkan tempat itu. Diterobosnya gelapnya malam tanpa rasa takut, karena ketakutannya adalah menghadapi manusia-manusia yang menganggapnya berbeda, ganjil dan aneh.

Saat sinar rembulan menyinari tubuhnya, terlihatlah bahwa tubuhnya penuh bulu, bahkan mukanya juga penuh dengan bulu-bulu hitam. Seburuk-buruknya penampilannya, ia adalah manusia juga meskipun berdarah campuran.

Di bawah sebuah pohon, tampak seseorang memperhatikan gerak langkah Gufron.

"Kasian anak ini, dia harus menanggung hasil perbuatan orang tuanya." Batin orang itu.

Orang itu, ternyata adalah Kyai sang pemangku pondok yang mengasuh Gufron sejak bayi. Kedua orang tua Gufron dulunya adalah santri di pondok asuhannya.

Sambil mengawasi Gufron, ingatan sang Kyai menerawang ke masa sebelum Gufron lahir.

Surti dan Tejo adalah pasangan pengantin baru yang tinggal di desa dekat pondok pesantren ini. Layaknya pengantin baru kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi bunga-bunga asmara.

Tejo adalah seorang sopir bis antar kota, antar propinsi. Saat bekerja kadang seminggu bahkan satu bulan baru pulang ke rumahnya. Belum habis masa bulan madunya, Tejo harus pergi bekerja. Dengan berat hati Tejo meninggalkan Surti di rumah sendirian. Sementara Surti harus menerima dan melepaskan Tejo untuk mencari nafkah keluarga.

Dua jam berselang sejak kebarangkatannya, Tejo kembali pulang dengan alasan kendaraan yang harus dibawanya masih rusak sehingga dia boleh pulang.

Berpisah dua jam bagi pengantin baru merupakan waktu yang lama sehingga mereka menumpahkan kerinduan itu dengan memadu asmara. Surti merasakan adanya perbedaan, Tejo sekarang lebih perkasa, namun Surti tidak merasa curiga. Hampir semalaman mereka memadu kasih.

Keesokan harinya Tejo pergi, dua jam kemudian kembali pulang lalu mereka memadu asmara lagi. Begitu setiap hari sampai hampir satu bulan lamanya.

Hingga pada suatu hari ketika Tejo pulang, Surti sudah mempersiapkan diri dengan berdandan cantik dan mengenakan pakaian yang menggoda hasrat laki-laki. Namun Tejo bersikap dingin tidak seperti biasanya. Surti heran tapi dia tidak mau bertanya.

Keesokan harinya Surti muntah-muntah, hamil. Tejo heran dan curiga dengan siapa Surti berhubungan, satu bulan lamanya dia tidak pulang ke rumah.

"Kamu selingkuh dengan siapa?" Tanya Tejo sambil gemetar menahan amarah.

"Mas Tejo kok ngomong begitu? Setiap hari Mas Tejo pulang ke rumah dan setiap kali kita berhubungan badan." Jawab Surti.

"Enak saja, baru kemarin sore saya pulang ke rumah ini."

"Lalu yang setiap hari pulang itu siapa? Wajahnya sama, bentuk tubuhnya sama, cara bicaranya sama, ya sampean yang pulang."

"Tidak, demi Allah, demi Rasulullah baru kemarin saya pulang." Sergah Tejo.

Mereka berdua diam, di dalam hati mereka muncul kecurigaan adanya kehadiran orang ketiga. Untuk menghindari pertengkaran lebih dahsyat mereka menghadap Kyai di pondok pesantren.

Sang Kyai tanggap akan apa yang menimpa kedua santrinya itu. Untuk menyelesaikan permasalahan mereka, diambil jalan tengah, Surti tidak bersalah karena dia tidak tahu. Namun Surti sudah mengandung, maka jika anaknya lahir  akan diasuh Kyai di pondok pesantren sementara kedua suami istri itu dipersilahkan memilih jalan yang terbaik.
   
Sekarang Gufron, anak Surti dengan mahluk yang menyerupai Tejo sudah tumbuh menjadi seorang pemuda. Permasalahannya karena bentuk fisiknya berbeda dengan pemuda lain maka dia dikucilkan dalam pergaulan dan sering menerima hinaan dari teman-temannya atau orang yang bertemu dengannya. Teman-temannya memanggilnya Gufron Angon atau Gufron Anak Gondoruwo.

"Asalamu alaikum."

Sang Kyai tergagap kaget ketika dihadapannya telah berdiri Gufron.

"Wa alaikum salam."

"Kebetulan saya bertemu romo Kyai di sini, ada yang akan saya utarakan." Kata Gufron.

"Ehm, apa yang mau kamu utarakan."

"Saya mau ikut bapak saja, di sini saya tidak tahan jika setiap hari dihina dan diperlakukan seperti saya ini bukan manusia."

Sang Kyai terdiam, "sekarang kamu sudah besar, jika memang itu pilihanmu, maka akan saya ijinkan. Pesan saya jangan lupa sholat, di alam bapakmu masih banyak yang belum beragama dengan benar. Kamu harus menjadi teladan yang baik."

"Baik Kyai, terima kasih atas kebaikan Kyai selama ini, saya mohon pamit."

Maka sejak saat itu Gufron menghilang dari kehidupan pondok pesantren. Teman-temannya menyesal telah memperlakukan Gufron dengan kasar.

Semoga Gufron mendapatkan kehidupan yang lebih baik di alam barunya. Dan semoga tidak ada lagi Gufron-Gufron yang lain.

Baca Juga : Jual Beli Genderuwo

Togel Membawa Hikmah Lagi?

Suasana di kota santri
Asik senangkan hati
Suasana di kota santri
Asik senangkan hati

Tiap pagi dan sore hari
Muda mudi berbusana rapi
Menyandang kitab suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang pergi mengaji

Duhai ayah ibu berikanlah izin daku
Untuk menuntut ilmu pergi ke rumah guru
Mondok di kota santri banyak ulama kiai
Tumpuan orang mengaji, mengkaji ilmu agama
Bermanfaat di dunia menuju hidup bahagia
Sampai di akhir masa


Syair-syair di lagu itu adalah gambaran kehidupan di pondok pesantren. Pada umumnya niat semua santri memilih belajar di pondok pesantren adalah untuk lebih mendalami ilmu agama.

Togel Membawa Hikmah?

Bau harum setanggi menyeruak menusuk hidung Brodin yang baru saja menaruh pantatnya di bangku jaga sebuah lembaga pendidikan di depan rumahnya. Secara reflek ia membentengi dirinya dengan doa-doa, memohon perlindungan karena malam itu adalah malam Jum'at Legi.

Kesurupan, sebuah fenomena tata krama



Kesurupan - Siang hari di sebuah lembaga pendidikan di tengah kota Balikpapan. Di salah satu ruangan  di lantai 3 gedung lembaga pendidikan, tampak sepasang siswa baru mendapatkan tugas untuk membersihkan ruangan.  Seorang, yang cowok sedang menyapu lantai sementara yang cewek sedang membersihkan meja dan kursi yang ada di ruangan itu.  Mereka berdua mengerjakan tugas itu dengan riang gembira, sambil bercanda dan bergurau.

Tiba-tiba sang cowok terjatuh lalu berkelojotan seperti seseorang yang terjangkit ayan. Matanya terbalik dan mulutnya bergumam dengan suara tidak karuan. 

Melihat temannya seperti itu, siswa cewek terkejut dan ketakutan kemudian menjerit histeris minta pertolongan. Para staff dan karyawan yang berada di lantai 1 dan lantai 2 berhamburan berlari untuk memberi pertolongan ketika mendengar teriakan itu.  Mereka mengerumuni dan memegangi siswa yang kesurupan tersebut, beberapa orang berusaha menyembuhkan namun tidak berhasil mengusir roh atau jin yang merasuki siswa itu.

Akhirnya mereka berusaha meminta bantuan orang pintar, tiga orang pintar yang biasa menangani kasus seperti ini tidak berhasil menyembuhkan siswa itu.  Mereka menyerah.

Saat mereka kebingungan menghadapi situasi ini, datang Pak Amad seorang petugas kebersihan kampung yang kebetulan melewati tempat ini. Orang dengan penampilan yang sederhana, mengenakan sarung dan baju kedodoran serta peci haji di kepalanya.

Pak Amad berusaha menolong, dipegangnya ubun-ubun anak yang kesurupan itu lalu dibacakan ayat kursi beberapa kali.  Anak itu sembuh tapi jin atau roh yangmerasuki berpindah kepada siswa cewek. Begitu seterusnya, bergantian kedua siswa tersebut kesurupan.

Pak Amad menjadi bingung.

Saat giliran siswa cowok kesurupan, Pak Amad memegang kepalanya lalu membisikkan sesuatu di telinganya.

“Saya tinggal di belakang tempat ini, tolong jangan ganggu anak-anak ini.” Bisik Pak Amad.

Tiba-tiba siswa itu berkata dengan logat suara yang berbeda.

“Saya lagi enak-enak duduk, mereka tanpa permisi menyapu saya, tepat di muka saya. Dasar manusia tidak tahu aturan.”

“Maafkan mereka, kalau kamu bisa dilihat mereka mungkin mereka akan minta ijin dan tidak akan berbuat seperti itu.” Kata Pak Amad.

“Enak saja minta maaf, saya tidak terima diperlakukan seperti ini. Saya lebih dulu dan sudah lama tinggal di tempat ini, mereka datang tanpa permisi menempati tempat ini lalu berbuat seenaknya seolah kami tidak ada.”

“Sekali lagi saya atas nama mereka minta maaf, mereka tidak tahu keberadaan kalian disini. Sekarang pergilah, tinggalkan tubuh anak ini.”

“Tidak mau.”

“Kalau kamu tidak mau pergi, kamu akan saya pindahkan dari tempat ini.” Ancam Pak Amad sambil membaca ayat-ayat suci.

Akhirnya jin atau roh itu menyerah lalu pergi meninggalkan tubuh siswa tersebut, masalah di lembaga pendidikan itu untuk sementara selesai.

Dari kejadian tersebut dapat diambil pelajaran bahwa mahluk gaib pun ingin diketahui keberadaannya, ingin dihargai layaknya mahluk ciptaan Tuhan lainnya, sementara pendidikan tata krama di kalangan anak-anak mulai luntur di jaman ini. Jangankan terhadap  mahluk gaib, terhadap manusia yang jelas kelihatan saja mereka kurang menghargai.

“Saya ini orang tua Mas, tapi saat mereka lewat di depan saya, jangankan ngomong ‘permisi’, tersenyum saja tidak.” Tutur Pak Yanto penjaga malam lembaga pendidikan itu.

Alangkah menyedihkan jika rasa hormat terhadap sesama mahluk  khususnya terhadap orang yang lebih tua mulai diabaikan oleh anak-anak baik kecil, remaja atau dewasa.

Semoga kejadian ‘Kesurupan’ ini memberi pelajaran kepada kita semua sehingga kita sebagai orang tua mulai menanamkan tata krama dan budi pekerti kepada anak-anak kita.

Semoga.

Perempuan Bergaun Putih, Arwah yang Terlupakan

Perempuan Bergaun Putih

Arwah yang Terlupakan 


Malam ini adalah kesempatan terakhir bagi Brodin untuk menyelesaikan tugas kuliahnya, besok harus segera dikumpulkan.  Permasalahannya adalah ia tidak memiliki komputer meskipun kuliah di jurusan Manajemen Informatika yang mengharuskan mahasiswanya setiap hari bergelut dengan komputer.

Pada era tahun 1980-an, komputer yang digunakan di kampusnya masih Pentium 1 dengan monitor hijau putih dan media penyimpanan menggunakan diskette 3.5 atau 5 inch. Meskipun begitu, harga sebuah komputer kala itu belum terjangkau bagi Brodin, sehingga ia harus memanfaatkan laboratorium komputer untuk menyelesaikan tugasnya.

Sialnya, pada hari itu, jadwal praktikum tidak ada yang kosong sama sekali, mulai jam 8 pagi sampai jam 9 malam sudah terisi. Maklum, sudah mendekati akhir semester. Biasanya masih ada satu atau dua jam dimana laboratorium kosong sehingga ia dapat menggunakan salah satu komputernya. Hari ini, terpaksa ia harus menunggu sampai praktikum selesai.

Tepat pukul 9 malam praktikum berakhir, setelah minta ijin kepada petugas laboratorium, Brodin diperkenankan menggunakan salah satu komputer di laboratorium yang berada di lantai dua gedung utama. Laboratorium komputer itu memiliki 12 unit komputer yang diatur dalam tiga kelompok, masing-masing empat unit komputer. Brodin memilih komputer paling belakang, komputer yang sering ia gunakan saat praktikum.

Setelah mempersiapkan peraltannya, mulailah Brodin mengerjakan tugasnya. Karena tenggat waktunya sudah mendesak, maka dengan konsentrasi penuh, ia berusaha menyelesaikannya.

Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat, hari sudah tengah malam. Namun belum selesai juga tugasnya, Brodin menjadi gelisah. Teman-temannya sudah pulang semua, tinggal petugas keamanan yang meringkuk di posnya sambil mendengarkan siaran radio.

Permasalahan baru muncul yang harus segera ia selesaikan.

Bagaimana caranya pulang? Pada jam begini, semua angkutan sudah tidak ada yang melewati kampus ini lagi. Terpaksa malam ini, ia harus menginap di kampus ini. Tapi dimana? Semua ruangan sudah dikunci, hanya laboratorium ini yang tersisa.

Brodin mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari tempat untuk merebahkan badannya. Tapi ruangan laboratorium ini sudah penuh dengan komputer, printer dan meja yang menyisakan sedikit jalan.

"Sudahlah di jalan ini tidak apa-apa, yang penting dapat meluruskan badan. Besok setelah mengumpulkan tugas, saya mau tidur seharian dirumah." Batin Brodin sambil meneruskan mengerjakan tugasnya.

Ketika tenggelam dalam konsentrasinya, tiba-tiba printer yang ada di sebelahnya berbunyi.

"Kreek .. Kreek .. Krieek .."

Brodin menoleh sebentar lalu kembali mengerjakan tugasnya, dalam benaknya, saat itu hari masih siang sehingga dianggapnya wajar jika orang lain yang menyalakan printer.

Selang beberapa menit kemudian, komputer di sebelah kirinya menyala, tampak sebuah tulisan di layar monitor.

"Lembur Mas?"
"Ya, besok harus dikumpulkan." Jawab Brodin acuh.

Merasa diacuhkan, sang penanya menuliskan lagi sebuah pesan di monitor.
"Makanya kalau dikasih tugas, buruan dikerjakan! Sudah mepet baru kebingungan."

Brodin melirik ke arah monitor itu, hatinya sedikit kesal tapi ia acuhkan saja. Tugasnya sebentar lagi selesai, hanya kurang beberapa tahap saja sehingga ia lebih mencurahkan konsentrasinya.

Tiba-tiba printer dan komputer di sebelah kanan dan kirinya menyala bersamaan. Suara bisingnya mengganggu  Brodin, untungnya tugasnya sudah selesai, segera ia menyimpannya ke dalam diskette yang dibawanya. Kemudian ia menoleh ke sebelah kiri dan kanannya, alangkah terkejutnya ketika tidak ada seorang pun di ruangan itu.

"Siapa yang menyalakan komputer dan printer tadi?" Batinnya.

Bulu kuduknya merinding, perasaannya menjadi tegang dan gelisah. Segera ia mematikan komputer lalu bergegas keluar ruangan laboratorium.

Belum sempat ia berdiri dari tempat duduknya, lampu ruangan tiba-tiba padam, aroma bunga kenanga menyeruak memenuhi ruangan. Brodin menjadi panik, pandangan matanya berusaha meyesuaikan dengan kegelapan dan aroma yang sangat dikenalnya ketika akan bertemu mahluk gaib jenis tertentu membuat bulu kuduknya meremang.

"Aduh, ketemu hantu lagi." Batinnya.

Dalam gelap ia meraba-raba, mencoba mencari jalan menuju pintu ruangan. Darahnya terkesiap ketika tangannya memegang suatu benda berkulit tapi dinginnya seperti es. Ia merasa penasaran, dirabanya lagi, benda itu mencengkeram lengannya, ternyata sebuah tangan. Disurukkan mukanya ke depan, mau melihat siapakah yang punya tangan itu.

Jantungnya terasa copot, serasa putus nyalinya ketika di hadapannya telah berdiri seorang perempuan bergaun putih. Wajahnya pucat pasi, berambut panjang, matanya sayu, sebagian rambutnya menutupi wajahnya. Kedua tangannya memegang lengan Brodin dengan erat, seolah menahannya agar tidak lari.

gambar perempuan bergaun putih
Baca Juga :

Brodin diam terpaku, nafasnya menggemuruh, aliran darahnya menjadi cepat dan jantungnya berdegup dengan kencang. Belum pernah ia mengalami kejadian seperti ini, bersentuhan langsung dengan hantu.

Sesaat, hilang kendali dirinya. Rasa takut  begitu menguasai dirinya, tulang belulangnya seolah tercabut dari sendinya sehingga tubuhnya terkulai tak berdaya.

Dalam ketidak-berdayaannya, bayangan hantu-hantu di pemakaman gang Tujuh, melintas kembali satu per satu dalam ingatannya, arwah perempuan di bawah pohon, pocong, 'ndas gelundung' dan yang terakhir muncul adalah wajah Eyang Sapu. Bayangan-bayangan itu semakin menambah rasa takutnya, namum ketika wajah Eyang Sapu muncul, timbul harapan dihatinya. Selama masa pengembaraannya di pemakaman gang tujuh, Eyang Sapu lah yang melindungi dirinya.

Brodin berkata dalam hati, "Mbah, cucumu dalam bahaya."

Entah darimana datangnya, Brodin merasa mendapatkan kekuatan yang mengalir melalui peredaran darahnya. Rasa takutnya perlahan hilang.

Sementara wanita itu terkejut seolah ada kekuatan lain melawannya sehingga dengan mudah Brodin melepaskan tangannya, lalu ia berlari menuju pintu, membukanya dan menutupnya kembali. Saat pintu tertutup, lampu ruangan itu menyala kembali, dan sayup-sayup terdengar suara wanita menangis tersedu-sedu.

Setelah mengunci pintu, Brodin dengan nafas terengah-engah dan jantung berdebar-debar  meninggalkan ruangan itu.

Brodin bingung mau pergi kemana, harapannya hanya menemui Pak Pardi, petugas keamanan kampus.

Sampai di pos satpam, Pak Pardi tidak ada sementara ruangan pos berantakan, seperti telah terjadi sesuatu.

"Kemana Pak Pardi? Kok, pos satpam dibiarkan kosong." Batin Brodin sambil merapikan barang-barang yang berserakan di lantai.

Setelah ruangan rapi kembali, Brodin duduk di kursi satpam, menunggu Pak Pardi kembali. Waktu sudah menunjukkan jam setengah dua malam namun Pak Pardi belum juga kembali. Brodin menjadi gelisah, rasa takutnya belum hilang. Bayangan perempuan bergaun putih itu masih lekat dalam ingatannya. Timbul rasa khawatir apabila hantu itu akan menyusulnya. Tujuannya pergi ke pos satpam ini untuk mencari teman agar rasa takutnya sedikit berkurang, namun orang yang dicarinya malah menghilang.

Dari persawahan di depan pos satpam, suara jangkrik dan katak bersaut-sautan, sayup-sayup terdengar suara anjing melolong membuat suasana menjadi lebih mencekam. Kampus ini jauh dari pemukiman penduduk sehingga jika terjadi sesuatu sulit mencari pertolongan.

Brodin duduk membatu di kursi satpam, matanya nyalang mengawasi lingkungan sekitarnya. Hatinya terkesiap ketika dari kejauhan nampak titik hitam dan putih yang berjalan ke arahnya. Semakin lama semakin mendekat, dan berhenti di pos satpam.

"Selamat malam.." Kata sosok berbaju putih dengan logat asing. Di belakangnya, berdiri sosok hitam, tinggi besar. Hanya terlihat matanya yang putih memancarkan sinar menakutkan.

"Selamat malam Romo .." Jawab Brodin ketika melihat dengan jelas sosok yang menegurnya.

"Malam-malam begini belum tidur?"
"Belum Romo."
"Tidak takut sendirian di sini? Kata orang, di sini banyak hantunya."
"Sebetulnya takut, tapi mau pulang sudah tidak ada angkutan lagi. Romo sendiri mau kemana?"

Suara anjing melolong memecah kesunyian malam.

"Boleh saya beritahu sebuah rahasia?"
Brodin mengangguk.

"Saya berdua ini sebetulnya adalah hantu gentayangan yang mau menghantui orang seperti kamu. Ha.. Ha.. Ha.." Bisik sosok itu sambil menunjukkan wujud aslinya.

Tubuh tanpa daging, hanya tulang belulang dengan tengkorak kepala yang hampir lepas dari sendinya. Jerangkong. Sementara sosok hitam dibelakangnya melepaskan kepalanya lalu ditenteng mendekati Brodin.

Brodin melompat mundur saking kagetnya. Badannya seperti terpaku di tanah, tidak bisa bergerak. Wajahnya pucat, matanya melotot dan jantungnya berdegup dengan kencang.

Kedua hantu itu seolah menemukan permainan baru, mereka tertawa bergelak menyaksikan korbannya ketakutan.

Di saat seperti ini, sekali lagi, bayangan wajah Eyang Sapu melintas dalam benak Brodin. Disebutnya nama itu, “Eyang Sapu, tolong cucumu.”

Kedua hantu itu terkejut seolah mendengar nama yang ditakutinya, mereka menghentikan tawanya,  melangkah mundur lalu menjauhi pintu satpam dan menjauhi Brodin.

Sementara itu, seolah mendapatkan kekuatan baru, Brodin berlari meninggalkan pos satpam sambil berteriak minta tolong. Di belakangnya, kedua hantu itu tertawa getir, tawa yang bermakna ganda, takut dan sedih.

Brodin berlari mengambil jalan memutar mengelilingi kampusnya lalu berhenti di kantin kemudian duduk mengatur nafasnya. Matanya menoleh kesana kemari, takut apabila kedua hantu itu mengejarnya.

"Apes betul aku hari ini."

Setelah merasa kedua hantu itu tidak mengejarnya lagi, ia merasa sedikit tenang. Tanpa ia sadari, tangannya merogoh kantong celananya lalu mengeluarkan sesuatu. Sebuah kunci, kunci ruang senat. Kebetulan letaknya di sebelah kantin dan kebetulan pula ia yang memegang kunci ruangan itu.

Segera Brodin masuk ruang senat lalu menyalakan lampu ruangan. Ruangan itu berantakan, Brodin membersihkannya lalu mengatur tempat untuk meluruskan badannya. Beralaskan spanduk-spanduk yang sudah tidak terpakai, ia merebahkan badannya mencoba mengendurkan syaraf dan ketegangannya.

Namun saat ia merbahkan badannya, ia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan dan mengawasi gerak-geriknya sehingga ia bangun lalu berkeliling mencari tahu. Tidak ada apa pun dan siapa pun di ruangan itu, hanya meja dan kursi yang diam membisu.

Brodin mematikan lampu lalu merebahkan badannya lagi. Perasaan itu bertambah kuat, ia yakin ada seseorang yang sedang mengawasinya. Brodin bangun lalu menyalakan lampu kembali, tidak ada siapa-siapa.

Dimatikan lagi lampu ruangan itu sambil berkata, "saya ini orang susah, mbok jangan diganggu." Lalu ia merebahkan badannya di lantai. Perasaanya menjadi sedikit lebih tenang, karena ketegangan dan lelah berlari, sebentar saja ia sudah terlelap dalam tidurnya.

Dalam tidurnya ia bermimpi, bertemu dengan seorang wanita bergaun putih. Wanita itu bercerita. Ternyata dia adalah anak pemilik rumah yang sekarang menjadi kampusnya, keluarga misionari dari Belanda.

Saat meletusnya peristiwa 1965, keluarganya menjadi korban keganasan oknum-oknum yang mengatasnamakan ideologi. Saat itu usianya masih lima tahun. Dia menyaksikan kedua orangtuanya dibunuh dan jasadnya dikubur dalam satu lubang. Sedangkan dia sendiri bersembunyi  lalu terjebak di dalam ruangan yang sekarang menjadi laboratorium komputer. Karena ketakutan dan kengerian yang teramat sangat serta tidak ada orang yang menolongnya, akhirnya dia meninggal di ruangan itu.

Arwahnya penasaran sehingga mengganggu setiap penghuni rumahnya. Dia berharap ada orang yang mau memperhatikan atau bisa menyempurnakan arwahnya. Dia sudah lelah bergentayangan.

Brodin terharu mendengar cerita wanita itu, ia berjanji akan menceritakannya kepada pengelolah kampus tentang keberadaannya.

"Dok .. Dok .. Dok .." Suara pintu diketuk. Brodin terbangun lalu membuka pintu, ternyata teman-temannya sudah menunggunya di depan pintu mengajak minum kopi di kantin.

Saat mereka sedang asik ngobrol, muncul Pak Pardi dengan baju seragam satpam berlepotan lumpur.
“Din, saya mau bicara berdua denganmu.” Kata Pak Pardi sambil melangkah meninggalkan kantin. Brodin beranjak lalu mengikuti langkah Pak Pardi.
“Ada apa Pak?”

“Semalam kamu ada di laboratorium komputer?”

“Iya Pak, kenapa? Apakah ada barang yang hilang?”

“Tidak ada, tapi semalam saya diteror hantu, sampai-sampai saya jatuh ke sawah.”

"Semalam saya mencari Pak Pardi ke pos satpam tapi tidak ada, kemudian saya duduk disana selanjutnya saya didatangi jerangkong dan manusia tanpa kepala."

"Hantu itu yang menakuti saya."  Tukas Pak Pardi.

Brodin lalu menceritakan kejadian yang dialaminya semalam, tidak lupa menyampaikan pesan dari wanita bergaun putih yang ditemui dalam mimpinya.

"Coba Pak Pardi berbicara dengan pengelolah kampus ini, bikin selamatan dan panggil orang 'pintar', agar arwah-arwah di lingkungan ini tidak mengganggu kita lagi."

“Baik, nanti saya sampaikan kepada bapak Dekan.” Kata Pak Pardi.

“Semoga arwah-arwah di lingkungan kampus ini menjadi tenang.” Batin Brodin.

Nabi Muhamad Orang Jawa?

Nabi Muhamad Orang Jawa?

gambar kaligrafi muhamad

Nabi Muhamad ternyata adalah orang Jawa.

Benar kah?

Benar, menurut pengakuan Kang Bayu seorang yang memiliki banyak profesi, direktur sebuah perusahaan dan pedagang batu akik, saat mereka bercengkerama di depan kampus LP3I.

Malam itu, Yanto, Anto, Brodin, Bayu dan Anang sedang berbincang tentang berbagai hal, dari mulai bisnis sampai ke ranah spiritual. Sore hari mereka membahas masalah bisnis, masalah keduniawian. Beranjak malam perbincangan mereka beralih ke masalah spiritual.

Baca Juga : Kisah Hidup Nabi Muhamad  : Teladan Yang Utama

"Masalah dunia sudah selesai, sekarang mari kita bicara tentang Akhirat atau masalah spiritual." Kata Brodin.

"Saya mau tanya Kang Bayu, apa pengertian Bismillah menurut pendapat sampean?" Tanya Anto.

Bayu diam sebentar, dihisap rokoknya perlahan lalu dihembuskan membentuk bulatan-bulatan asap.

"Menurut saya, Tuhan pernah berkata dalam salah satu ayatnya, 'Takkan sehelai daun yang gugur ke muka bumi ini tanpa kehendakNya.' Berarti semua kejadian atau perbuatan seluruh mahluk ciptaanNya di muka bumi ini atau di seluruh alam semesta ini adalah kehendakNya. Tanpa ijin beliau, tidak akan terjadi."

"Makanya kita harus selalu menyadari bahwa sesungguhnya manusia itu tidak bisa berbuat apa-apa, hanya Tuhan, Allah, Gusti Allah atau Gusti Pangeran yang mampu melakukan apa pun. Sehingga sebagai mahluk kita selalu mengucap basmalah sebelum melakukan sesuatu." Lanjut Bayu.

Anto dan Yanto  manggut-manggut mendengar penjelasan Bayu. Sementara Brodin menguap dan Anang tertunduk memikirkan sesuatu.

"Wuihh .. Lama tidak bertemu, semakin dalam saja pemikirannya." Seloroh Brodin. Bayu tersenyum simpul.

Kemudian Bayu bercerita bahwa dulu dia pernah berguru kepada salah seorang Kyai sepuh, Kyai Fathur Rahman dari Banyuwangi. Bagaimana dia mulai belajar sampai dia menyatakan keinginannya untuk "uzlah", namun sang Kyai melarangnya.

"Sebaiknya kamu menikah dulu untuk melengkapi kewajibanmu sebelum kamu menikah secara 'hakiki'." Kata Kyai Fathur Rahman.

Bayu menurut, namun setelah menikah dan mempunyai seorang anak, keinginan untuk uzlah sudah banyak berkurang kadarnya. Bagaimana anak istrinya kalau ditinggal? Ketika hal itu disampaikan kepada Kyai Fathur Rahman, sang Kyai berkata, "saya sudah menduganya. Sebetulnya kamu masih bujangan atau sudah menikah, Tuhan akan selalu mencukupi kebutuhan semua mahluknya. Namun kebanyakan manusia merasa ragu."

Bayu tertunduk malu.

"Kenapa harus uzlah, Kang?" Tanya Anto.

"Dalam menjalankan spiritual, uzlah adalah salah satu cara mendekatkan diri yang paling efektif, seperti yang pernah dilakukan Nabi Muhamad dulu. Tanpa itu, hanya omong kosong belaka."

"Saya berfikir, Nabi Muhamad itu adalah orang Jawa. Kenapa? Karena yang biasa menyendiri di dalam gua dan bertapa adalah orang Jawa. Jadi Nabi Muhamad adalah orang Jawa yang merantau ke jazirah Arab." Lanjut Bayu.

"Saya setuju." Sahut Anang.

"Bukannya Nabi Muhamad itu orang Arab?" Sergah Brodin.

"Coba bayangkan! Waktu itu orang-orang Arab masih bodoh, jahiliah. Punya anak perempuan merupakan aib bagi mereka sehingga anak-anak perempuan mereka dikubur hidup-hidup. Apakah orang-orang seperti ini dijadikan Nabi?" Jawab Bayu.

"Saya setuju, coba kalau kita lihat tayangan televisi yang menyiarkan acara makan bangsawan Arab. Mereka, para pangeran Arab, makan seperti orang kelaparan, tangan kiri pegang paha ayam dan tangan kanan menyuap makanan. Sementara Nabi Muhamad makan hanya menggunakan tiga jarinya saja." Kata Anang sambil mencontohkan cara makan Nabi menggunakan tiga jari.

"Kalau meniru Nabi, repotnya, kalau kita sedang makan soto. Bagaimana menghabiskan kuahnya?" Sahut Bayu.

Anto, Yanto dan lain-lain meskipun bingung, mereka tetap manggut-manggut.

"Jangan-jangan Nabi Muhamad adalah Eyangku yang hilang dulu." Kata Brodin disambut suara, "huu,." koor teman-temannya.

Saking cintanya Bayu dan teman-temannya kepada Nabi Muhamad sehingga mereka merasa bangga kalau Nabinya berasal dari daerahnya, kelompoknya dan leluhurnya.

Saya teringat obrolan beberapa tahun yang lampau dengan Mbah Tarjo, salah seorang kakek penjual dawet yang mangkal di depan rumah, seorang Marhaen.

"Bill Clinton itu adalah salah seorang anak Bung Karno. Kenapa? Karena saat pergi ke Amerika, Bung Karno yang terkenal flamboyan, menikah dengan putri Amerika." Kata Mbah Tarjo dengan bangganya.

Saya hanya bisa mengamini saja, tapi jika Nabi Muhamad adalah orang Jawa, pasti berasal dari kota Malang. Kenapa? Karena orang Malang mempunyai ciri khas suka membolak-balik kalimat, bahasa prokem yang mirip bahasa Arab, dikenal dengan bahasa 'walikan'.

"Benar." Kata Brodin yang berasal dari Malang.

"Muhamad yang saya kenal, salah satunya adalah Mohamad Sukri, juragan besi tua, kemudian Muhamad Jupri pemain catur dari Pandaan." Lanjut Brodin.

???