Artis Terjerat Narkoba

"Narkoba adalah one way ticket, sekali kita memakai tidak ada lagi tiket atau cara kembali. Hanya Kuasa Tuhan yang membantu saya sembuh dari Narkoba." Kata Ari Lasso.

Berikut ini adalah nama-nama artis yang pernah terjerat kasus narkoba, setelah Ari Lasso, Bimbim Slank dll.

1. Yoyo 'Padi'
Drummer band Padi tertangkap memiliki 0,5 gram sabu di sebuah apartemen pada tanggal 27 Februari 2011. Yoyo didakwa pasal 112 subsider 127 UU No 35 tahun 2009 tentang narkotika. Yoyo divonis satu tahun penjara

Rajah Kala Cakra

Rajah Kala Cakra - Adalah salah satu bentuk ajian untuk menolak bala yang diciptakan oleh Mpu Barada, Mahapatih dari kerajaan Airlangga. Ajian ini terdiri dari rangkaian mantera yang disusun menggunakan aksara Jawa dengan tujuan menolak mara bahaya atau melemahkan musuh. Biasanya rangkaian mantera ini ditulis dalam kain, lontar atau media lainnya sehingga menjadi sebuah rajah.

Menurut cerita, ajian ini pernah digunakan oleh salah satu penasehat Arya Penangsang pada saat terjadi pertentangan antara Jaka Tingkir dengan Arya penangsang memperebutkan tahta kerajaan Demak. Namun, gagal.

Mengenai asal-usul ajian Rajah Kala Cakra, penulis gambarkan dalam kisah berikut ini.

Konon dalam sejarah, di Kerajaan Kahuripan yang mempunyai raja yang terkenal bernama Airlangga,  sedang gelisah ketika tahu rakyatnya sedang menderita wabah dan bencana, terror dan gannguan keamanan lainnya yang ditimbulkan karena amarah, kebencian dan dendam Nyai Calon Arang. Nyai Calon Arang menebar teluh, santet, tenung, modong dan jengges serta provokasi lainnya kepada siapa saja yang tidak disukainya, karena ketinggian ilmunya, maka belum ada manusia yang sanggup mengalahkannya.

Nyai Calon Arang pada saat itu adalah menggambarkan keserakahan, kemarahan dan rasa dendam orang yang terbuang dari lingkungannya, kesaktiannya setinggi langit sehingga iblis laknat, ifrit, jin, setan, peri parayangan, gandarwa, dan lain sebagainya bertekuk lutut menjadi anak buah dan sekutunya. Dia bisa mengirimkan bencana dalam bentuk teluh, wabah penyakit, banjir bandang, angin puyuh, kebakaran dan lain sebagaianya. Sehingga sampai sekarang di Pulau Bali nama “Calon Arang” masih menjadi legenda.

Akhirnya Prabu Airlangga memerintahkan kepada Narotama sebagai patihnya untuk menumpas Nyai Calon Arang. Patih Narotama adalah seorang brahmana yang sakti mandraguna, bijaksana dan berbudi luhur.

Alkisah bertarunglah Patih Narotama dengan Nyai Calon Arang setelah semua taktik dan strategi diterapkan sebelumnya, sehingga benturan keduanya tidak dapat dihindari lagi. Kebaikan melawan kejahatan, keduanya berimbang tak ada yang kalah dan menang, sampai pada akhirnya Patih Narotama menyadari bahwa kebaikan dan kejahatan adalah kehendak dari Sang Hyang Manon, maka teringatlah ia pada salah satu ajian yang diciptakan oleh Dewa Wisnu ketika bertemu dengan Batara Kala. 

Dewa Wisnu adalah dewa yang memelihara Alam Semesta, sementara Batara Kala adalah sumber Kejahatan yang ada di Alam semesta ini.Ajian “Kala Cakra” adalah keseimbangan antara “Kala” yang menjadi bibit kejahatan dimuka bumi dengan “Cakra” yang merupakan senjata Batara Wisnu untuk memusnahkan kejahatan, maka dihayatinya dan diterapkannya untuk menghadapi Nyai Calon Arang

Ya  maraja jaramaya
Ya marani niramaya
Ya silapa palasiya
Ya midosa sadomiya
Ya miroda daromiya
Yadayuda dayudaya
Ya siyaca cayasiya
Ya sihama mahasiya

Heh Pangrancana mariya luwih
Heh Kang anekani ilanga kaluwihane
Heh Kang aweh luwe amaregana
Heh Kang aweh mlarat anyukupana
Heh Kang anyikara marca nangsaya
Heh Kang amerangi laruta kuwatira
Heh Kang para cidra kogel welasa
Heh Kang dadi hama yogya asiha

Begitu ajian itu diterapkan oleh Patih Narotama maka dengan perlahan tapi pasti kekuatan Nyai Calon Arang berkurang dan akhirnya sirna dan musnah hingga dia lemas tak berdaya, diantara ketidakberdayaanya Patih Narotama datang menghampirinya dan berkata “tidak ada yang bisa melawan hukum Yang Maha Tunggal, sebenarnya kebaikan dan kejahatan adalah kehendakNya untuk menjaga keseimbangan Alam semesta ini, ketika ada yang tidak seimbang maka Hyang Manon sendiri yang akan menyeimbangkan.”

Dari kisah itu, keseimbangan adalah hal mutlak untuk membuat Alam Semesta menjadi serasi, indah dan seimbang. Karena semua yang ada diciptakan di Alam semesta ini adalah berpasang-pasangan, keduanya harus berjalan seimbang. Demikian pula dalam diri setiap manusia, diperlukan keseimbangan antara lahir dan batin, baik dan buruk, spriritual dan material, yang akan membuat manusia bisa berjalan lurus di jalan Tuhan.

Alam semesta adalah ayat-ayat Tuhan yang tersirat dalam firmannya, dan kisah-kisah nenek moyang dulu adalah pelajaran bagi generasi selanjutnya untuk selalu membuat keseimbangan dalam diri, lingkungan maupun alam semesta ini. Hanya kebodohan dan kesombongan yang membuatku lalai akan contoh dan pelajaran dari nenek moyang.

ORHIBA

ORHIBA adalah satu-satunya olah raga badan yang sangat sederhana namun sangat bermanfaat untuk kesehatan jiwa dan raga, bahkan penuh dengan keajaiban yang terkadang sangat sulit dipikirkan secara akal sehat tetapi sudah begitu banyak bukti kesembuhan total yang didapatkan warga ORHIBA, diantaranya penderita sakit jantung, kencing manis, stroek, kanker, tumor, HIV/AIDS, darah tinggi, darah rendah, asma, sulit tidur, sulit punya keturunan, maag, lever, saraf, alergi, termasuk warga yang sakit tanpa terdeksi oleh Dokter (non medis). Dengan melakukan ORHIBA minimal 3x setiap hari maka tubuh akan terasa di-charge kembali sehabis capek bekerja ataupun melakukan aktifitas yang sudah mengeluarkan energy tubuh kita.

ORHIBA is the only body exercise that is very simple but very useful for the health of body and soul, even full of wonders that are sometimes very difficult to think in common sense but it is so much evidence obtained complete recovery ORHIBA citizens, including people with heart disease, diabetes, stroek, HIV / AIDS, high tention, lower tention, cancer, asthma, difficulty sleeping, ulcers, liver, nerves, allergies, including non medical diseases. By doing ORHIBA least 3 times per day then your body will feel better than before, and having good healthy everyday. We will feel like a battery that is after re-charged.

Perjanjian Dengan Genderuwo

Perjanjian Dengan Genderuwo  - Apakah mungkin manusia melakukan perjanjian dengan mahluk gaib seperti Genderuwo dan lain-lain? Namun dalam kehidupan masyarakat tradisional khususnya di pedesaan, hal ini sering terjadi.

Akan tetapi, bagaimana jika yang melakukan perjanjian itu adalah leluhur kita seperti kakek atau buyut kita lalu menurun kepada kita?
 
Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti kisah dalam bentuk cerita pendek berikut ini.

Siang itu sinar matahari sangat menyengat kulit. Brodin mau pergi ke Gramedia untuk mencari buku, namun terik matahari membuat ia mengurungkan niatnya. Karena sudah terlanjur jalan, ia membelokkan arah motornya, lalu mampir ke rumah Agung, yang rumahnya berada di pinggir jalan yang ia lewati.

Saat itu Agung sedang kedatangan tamu, seorang wanita yang berdandan nyentrik ala gipsy. Melihat kedatangan Brodin, Agung langsung mengenalkan dengan tamunya. Namun saat berkenalan, sang tamu yang bernama Erika itu hanya menundukkan muka seolah sedang berhadapan dengan seseorang yang menakutkan atau menjijikkan. Brodin tersinggung.

Agung melihat gelagat itu cepat-cepat menjernihkan suasana.
"Erika ini seorang peramal Bro, dia mempunyai kemampuan supra natural termasuk melihat mahluk gaib."

"Terus, apa hubungannya denganku? Melihatku seperti melihat hantu saja." Jawab Brodin ketus.

"Maaf mas, saya memang melihat mahluk gaib di belakang mas, wujudnya sangat mengerikan." Kata Erika.
Brodin terperanjat.

"Mana mungkin, saya tidak percaya!"

"Kalau tidak percaya, boleh saya pegang tangannya?"

Brodin mengangsurkan tangan kananya, Erika memegangnya lalu menyentuh jari-jari dan bagian tangan lainnya. Erika menarik nafas dalam-dalam.

"Mas ini keturunan orang-orang yang punya kelebihan, namun ada leluhurnya yang mengikat perjanjian dengan mahluk gaib. Dan mahluk itu sekarang mewaris kepada keturunan yang paling disukai yaitu mas Brodin."

"Seperti apa mahluk gaib itu?"

"Wujudnya seperti manusia purba, rambutnya panjang dengan bulu-bulu ditubuhnya, tidak mengenakan pakaian hanya selembar kain cawat saja."

"Mas Gondo."

"Ya, kalau kita menyebutnya Gondoruwo. Makanya saya tadi menunduk saja waktu kita berkenalan, karena yang saya lihat itu."

"Oh begitu, saya pikir karena melihat saya."

"Bukan, kalau mas Brodin ini orangnya gagah tapi di belakangnya itu .. Hii."

"Bagaimana ceritanya orang gagah seperti saya ini bisa diikuti oleh mas Gondo?" Brodin mulai menggombal.

"Karena leluhurnya mas Brodin ada yang mengikat perjanjian dengan mereka."

"Kok mereka? Berarti banyak jumlahnya?"

"Mereka seperti kita, beranak-pinak dari generasi ke generasi, sampai yang sekarang ikut mas Brodin."

"Waduh, repot dong."

"Mbak Erika ini mau buka praktek disini, jadi kalau mau tanya macam-macam harus pakai biaya. Betul mbak?" Sela Agung.

Erika mengangguk.

Brodin tersenyum kecut, dalam hatinya masih banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban.

Pulang dari rumah Agung, Brodin duduk termenung memikirkan kejadian tadi. Logikanya mengatakan, "itu hanya trik peramal saja." Namun pengalaman sebelumnya, pertemuannya dengan penghuni pohon rambutan, penjaga rumah Sigit dan penghuni rumah kost, mengatakan sebaliknya. Dan kisah kakeknya yang pernah menikah dengan mahluk gaib, membuatnya membenarkan omongan Erika.

Baca Juga :
 
"Saya harus cari perbandingan, biar dapat informasi yang lebih detail."

Brodin teringat kalau Agung pernah bercerita tentang tetangganya yang mempunyai kelebihan dapat berhubungan dengan mahluk gaib melalui media anaknya. Mahluk gaib itu dimasukkan ke dalam tubuh anaknya, komunikasi terjalin dengan mahluk itu lewat anaknya yang kerasukan. Terbukti beberapa teman-teman Agung yang sakit dapat disembuhkan, khususnya mereka yang terkena guna-guna, teluh atau santet.

Baca Juga : Santet : Alasan dan Cara Menghindarinya

Keesokan harinya Brodin membuat janji temu di rumah Agung, waktunya habis sholat Maghrib.

Tiba pada waktunya, Brodin, Agung dan sepasang paranormal (ayah dan anak) itu berkumpul di ruangan yang sudah dipersiapkan Agung. Sang Ayah yang bernama Edi membaca doa-doa lalu membakar dupa, segera harum dupa memenuhi ruangan. Seiring asap dupa mengalun, tubuh sang anak bergetar hebat beberapa saat lalu terdiam. Kemudian terjadi percakapan antara Edi dengan mahluk yang memakai tubuh anaknya.

Mahluk : "Ada apa ini?"
Edi        : "Asalamu alaikum datuk. Dengan datuk siapa ini?"
Mahluk : "Sanggul."
Edi : "Kenapa datuk Sanggul yang datang sedangkan yang saya panggil Deng Teba?"
Mahluk : "Saya mau kenalan sama orang ini."
Lalu Agung dan Brodin bergantian memperkenalkan diri.
Edi : "Begini datuk, cucu Brodin ini mau bertanya, apakah benar ada mahluk gaib yang mengikutinya?"
Mahluk : "Benar."
Edi : "Bagaimana wujudnya?"
Mahluk : "Orangnya jorok, tidak pakai baju."
Edi : "Masuk golongan jin atau manusia?"
Mahluk : "Manusia."
Edi : "Bisa kah datuk panggilkan, agar cucunya bisa bicara."
Mahluk di dalam tubuh anak itu mengangguk lalu diam. Beberapa saat kemudian tubuhnya bergetar lagi lalu diam.
Mahluk : "Ada apa ini?" Tanya mahluk itu dengan suara berbeda. Dan tangannya memberi isyarat agar dupa dimatikan. Edi segera mematikan dupa yang menyala itu.
Edi : "Apa betul datuk yang mengikuti cucu Brodin ini?"
Mahluk : "Benar."
Edi : "Mengapa datuk memilih mengikuti dia?"
Mahluk : "Karena dia lemah hati."
Edi : "Apakah datuk sebelumnya juga mengikuti leluhur dari cucu ini."
Mahluk : "Ya benar."
Edi : "Siapakah nama datuk?"
Mahluk : "Hasan."
Edi : "Bagaimana caranya agar cucu ini dapat berhubungan dengan datuk?"
Mahluk itu tidak menjawab namun tangannya digerakkan seperti mengelus-elus bahu kirinya.
Edi : "Terima kasih datuk, maaf telah mengganggu."
Mahluk di dalam tubuh anak itu mengangguk.
Kemudian tubuh anak itu bergetar saat sang mahluk itu meninggalkan tubuhnya. Jiwa anak itu kembali lagi.
Setelah proses pemanggilan itu selesai, Edi bercerita berbagai hal tentang roh atau arwah yang pernah dipanggilnya. Kedudukan dan keadaan mereka di alamnya. Setelah beberapa lama akhirnya Brodin pamit pulang.

Sudah dua orang dengan caranya masing-masing yang menyatakan bahwa dirinya diikuti oleh mahluk gaib.
"Siapa diriku, aku sendiri belum tahu ditambah lagi ada mahluk gaib yang mengikuti aku, dengan suatu perjanjian lagi." Meskipun bukan Brodin yang membuat perjanjian itu, tapi leluhurnya. Namun beban itu ia yang harus menanggungnya sekarang, dan ia berjanji untuk menyempurnakan perjanjian itu, jika tidak nanti perjanjian itu akan menurun kepada anak cucunya.

"Ah, biarlah waktu yang akan mengungkap ini semua." Batin Brodin gamang.

Ngrowot, Bagian I

Ngrowot - Jam 5 sore, Brodin sudah duduk manis di bangku bis jurusan Jombang-Malang, deretan paling depan, dekat dengan sopir.

Sudah hampir satu bulan lamanya ia tidak pulang ke kampungnya di Malang. Biasanya setiap seminggu sekali ia pulang, namun di bulan itu banyak pekerjaan  yang harus diselesaikan, membuatnya harus tetap berada di Jombang. Baginya waktu satu bulan terasa  sangat lama sekali. Kangen bertemu emaknya khususnya masakan emaknya, rindu teman-temannya.Bayangan mereka melintas dalam lamunannya hingga tidak terasa bis sudah berangkat menuju kota Malang.

Perjalanan menuju kota Malang kurang lebih 2 jam lamanya disambung dengan angkutan kota menuju rumahnya, kira-kira jam 8 malam dia akan sampai.

Baca Juga : Misteri Waktu Maghrib, Misteri Genderuwo  dan Kesukaannya

Rute perjalanan ini sudah sering dilaluinya sehingga sebelum melewati jalanan yang berkelak-kelok, ia menyempatkan dirinya tidur barang sejenak atau hanya sekedar melepaskan ketegangan otot-ototnya untuk kemudian bersiap menghadapi rute yang membuat mual dan pusing.

Pada siang hari, pemandangan pegunungan yang sangat indah ditambah hamparan sawah nan hijau, akan membuat perjalanan terasa menyenangkan. Namun pada senja hari, gelapnya malam seolah menghalangi untuk menikmati keindahan alam. Apalagi ketika memasuki jalan yang berkelok-kelok, bagi yang belum terbiasa, akan membuat kepala dan lambung terasa berputar-putar.

Sopir bis, Toha namanya, sudah sangat dikenalnya, sudah lebih 10 kali ia naik bis ini dengan sopir yang sama sehingga ia tahu kebiasaan dan sifatnya. Merasa aman, brodin lelap dalam tidurnya. Tidak lama kemudian terdengar suara ngoroknya, seperti suara gergaji kayu. Toha hanya tersenyum melihatnya, dengan songkok hitam di kepalanya dan sebatang rokok di mulutnya, ia mengendarai bis menyusuri jalanan dengan tenang.

Jam 6 sore bis sudah melewati daerah Kandangan kemudian memasuki rute yang penuh dengan kelokan yang tajam, karena jalanan sempit dan kanan-kirinya adalah jurang maka sopir bis harus sangat berhati-hati. Brodin bangun, dan bersiap menghadapi rute itu.
“Sudah jadi berapa Din, kusen dan pintunya?” Tanya Cak Toha.

Kusen apa Cak?”
“Kamu tadi tidur, suara ngorokmu seperti tukang kayu yang sedang menggergaji kayu buat kusen dan pintu.”
Mosok Cak? Kesel aku, lek kesel biasane aku ngorok.”

Raimu Din.. kesel gak kesel yo tetep ae koen ngorok.”

Brodin hanya tersenyum.

Terdengar suara adzan Maghrib berkumandang, seperti di komando, para penumpang bis bangun dan duduk dengan sikapnya masing-masing. Ada yang sholat sambil duduk, ada yang duduk tapi mulutnya komat-kamit membaca doa, ada juga yang cuek memejamkan matanya tapi mungkin berdoa dalam hati. Mereka semua paham kalau sekarang memasuki daerah yang angker, pada siang hari mungkin bisa diabaikan, tapi jika pada malam hari, khususnya saat Maghrib, mereka harus waspada.

Brodin cuek saja.

Tiba-tiba Cak Toha mencolek tangan Brodin.

“Coba lihat ke samping kirimu, ada orang tua memikul kayu.”

Brodin menoleh ke arah yang ditunjukkan Toha.

“Tidak ada apa-apa Cak.”

“Orang tua itu dari tadi mengikuti bis kita, padahal beban yang dipikulnya kelihatannya sangat berat, tetapi dia mampu mengejar kecepatan bis ini.”

Mosok Cak? Sampean iki iso-iso ae.” Kata Brodin acuh. Cak Toha tersenyum,  bis meninggalkan jalanan berkelok dan melaju memasuki perkampungan. Tidak lama kemudian setelah melewati kota Batu, bis sudah memasuki terminal Landungsari.

Suwun Cak Toha.” Kata Brodin sambil meninggalkan bis.

Dua minggu kemudian Brodin naik bis yang sama menuju kota Malang, Toha sudah standby di kursi sopir. Songkok hitam dan kepulan asap rokok menjadi ciri khasnya.
“Pulang lagi Din?”

“Ya Cak, malam minggu ndek kene sepi. Enak ndek Malang.”

Setelah saling mengabarkan keadaan mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Brodin mengatur posisi bersiap untuk tidur.  Tidak lama kemudian bis berjalan melenggang meninggalkan kota Jombang.

Menjelang Maghrib, Toha mencolek tangan Brodin.
“Disamping spion sebelahmu, ada cewek cantik.” Kata Toha.

Endi Cak?” Brodin segera mencari namun tidak ada seorang pun yang dilihatnya, hanya bayangan pohon-pohon yang mulai kabur.

Gak onok Cak, sampean iki nggedabrus ae.”

Ancene matamu bidok, Nanti saja kalau ada lagi, saya kasih tahu kamu.” Jawab Toha kesal.

Bis berjalan pelan menyusuri jalan yang penuh dengan tikungan pendek, saat melewati pohon randu tua, Toha memperlambat bisnya. Tangannya memegang erat tangan Brodin.

Ndek isore wit onok koncomu, deloken.”

Brodin terperanjat saat Toha memegang tangannya, namun ketika menoleh ke arah pohon randu tersebut.  Jantungya seperti copot, hampir saja ia melompat dari tempat duduknya. Dalam pandangannya tampak mahluk hitam berbulu dengan mata merah menyala dan mulut menyeringai, hingga kelihatan taring-taringnya yang tajam berkilau. Mahluk itu melambaikan tangannya ke arah Brodin seolah mengucapkan, “selamat jalan bro.”

Brodin bergidik ngeri, dikibaskan tangan Toha. Setelah terlepas, pandangannya kembali hanya menatap kegelapan malam.

Opo iku Cak?” 

“Itu mahluk penunggu pohon waru.”

“Kok sekarang saya bisa melihat?”

“Karena saya memegang tanganmu.”

“Berarti sampean selama ini bisa melihat mahluk halus?” Tanya Brodin, Toha mengangguk.

“Bagaimana caranya supaya bisa seperti sampean?”

“Mahluk halus atau mahluk gaib itu darahnya dingin, kalau kita mau melihatnya, kita harus mendinginkan darah kita.”

“Caranya ?”

Ngrowot, suatu laku tirakat yang biasa dilakukan orang Jawa dengan cara makan nasi sama sayur saja, tidak makan ayam, daging dan makanan yang bernyawa lainnya.”

“Kalau pakai kuahya saja boleh Cak? Nasi ditambah kuah rawon, soto atau bakso?”

“Tidak boleh.”

“Berapa lama Cak?”

“Empat puluh hari. Buat apa kamu tanya? Memang kamu mau mengamalkannya?”

“Nggak Cak, tanya saja.”

Telek koen.” Hardik Toha, Brodin hanya nyengir saja.

Baca Juga : Ngrowot II : Ketemu Demit

Batu Akik, Sebuah Hoby atau Pemborosan

Batu Akik bagi sebagian masyarakat kota Balikpapan dapat menjadi hobi tapi juga merupakan pemborosan karena ketika bosan, batu-batu akik tersebut ditelantarkan begitu saja, tidak sebanding dengan saat memburu koleksinya yang harus merogoh kocek dan mengurangi anggaran belanja istri.

Dalam dua bulan terakhir masyarakat negeri kita dilanda demam batu.

Pameran batu di adakan hampir di setiap kota-kota besar di seluruh Indonesia dalam setiap bulannya. Bahkan di Bandung, peserta Konferensi Asia Afrika, masing-masing mendapatkan souvenir berupa liontin batu Kalimaya Banten.

Di Balikpapan, Pandansari dan Pasar Baru (Balcony) yang menjadi sentra batu, dipadati oleh ratusan penggemar batu, hampir semua lapak yang ada, penuh. Para penggemar batu rela antri untuk membeli batu atau hanya sekedar menggosok batu, memotong bongkahan batu, juga mencari wadah batu (mban).

Banyak keuntungan yang diraih para pedagang atau pemilik lapak batu, harga gosok per batu 50 ribu, harga potong batu 20-25 ribu, harga mban antara 50-70 ribu. Belum lagi keuntungan dari berjualan cincin yang sudah jadi. Musim panen bagi para pedagang batu.

Yudi, seorang sales mobil, berawal dari hobi, rela melepaskan pekerjaannya hanya untuk menjadi seorang pedagang batu. Darah pedagang yang mengalir di tubuhnya, warisan dari Bapaknya yang berasal dari Padang, seolah  mendorongnya menjadi seorang pedagang batu.
"Masuk lagi bos.." Katanya, saat memasuki warung kopi.
"Makan-makan dulu lah .." Sambut Cak Rokim.

Tapi apakah semua penggemar batu seberuntung Yudi?

Pak Udin, seorang karyawan perusahaan mobil adalah salah satu penggemar batu yang masuk dalam kategori "Gila". Pertama kali datang ke warung kopi yang menjadi tempat berkumpulnya, hanya mengenakan dua buah cincin batu di jari-jarinya. Tapi sekarang, seluruh jari-jarinya terisi cincin batu dengan ukuran besar dari berbagai jenis batu seperti bacan, phyrus, ophal dan badar besi.

Namun ketika pulang ke rumahnya, hanya dua cincin saja yang dikenakannya, yang lain disimpan di dalam tasnya. Takut istrinya marah.

Bagaimana istrinya tidak marah? Saat anaknya minta dibelikan baju baru, malah dibelikan batu. Saat istrinya minta dibelikan makanan tertentu, malah dibelikan mban batu. Tentu saja istrinya marah-marah, sekarang dilakukan audit secara ketat terhadap suaminya.

Setali tiga uang, Pak Yahya seorang pekerja freelance, setiap mengantar istrinya pergi ke pasar, di larang mengenakan cincin. Sebab, setiap kali mengenakan cincin, pulangnya, cincin akan bertambah banyak. Namun ketika istrinya meminta uang belanja,dia bilang tidak ada.

Begitulah fakta yang terjadi di masyarakat saat ini,ketika bbm naik, gas elpiji naik tidak berpengaruh bagi para penggemar batu. Mereka tetap berburu batu.

Bagi mereka ini adalah hobi, investasi dan lain-lain, tapi bagi para istri ini adalah pemborosan.

Dulu biasa saja, tetapi sekarang bisnis batu akik menjadi fenomena. Entah siapa yang memulainya sehingga menjadi bisnis yang sangat ramai. Orang menyebutnya sebagai bisnis monyet (monkey bussiness). Kenapa disebut bisnis monyet, silakan baca tulisan di Jawa Pos ini. Saya kutip saja sebagain dari tulisan itu agar anda tidak penasaran:

Monkey business adalah sebuah permainan yang diawali satu atau beberapa pihak pemodal besar yang mendesain agar suatu komoditas bernilai tertentu. Perlahan namun pasti, komoditas tersebut bakal mempunyai nilai yang terus bertambah, kendati komoditas itu tidak memiliki manfaat yang jelas serta ilmiah. Kemudian, dengan suatu cara, para pemodal akan mendapat keuntungan karena telah menyusun skenario. Ketika barang itu mencapai puncak booming, mereka melepas stok yang disiapkan sejak lama. Setelah itu, karena terlalu banyak suplai di pasaran dan permintaan yang tidak sebanding, perlahan harga barang tersebut otomatis turun mengikuti mekanisme pasar mencari harga yang wajar. 

Nah, ternyata demam batu akik itu hanya jebakan orang sesaat saja. Kalau sudah mencapai puncak booming dan over suplly, bisnis ini akan merosot kembali.