Terompet Sangkakala Telah Berbunyi, Apakah Kita Sudah Bertobat ?

Terompet Sangkakala Telah Berbunyi, Apakah Anda Sudah Bertobat ?

Masyarakat dunia gempar, orang-orang dari berbagai belahan dunia ketakutan dan sekaligus  penasaran setelah mereka mendengar apa yang mereka yakini sebagai suara mirip terompet yang terdengar dari langit namun lokasinya tak diketahui.

Terompet Sangkakala
Tidak ada perayaan tahun baru atau pesta pora apapun. Tapi gemuruh yang menyerupai bunyi terompet sempat terdengar di sebagian belahan dunia. Tepatnya di Kanada, Australia, Jerman, dan Amerika Serikat.

Dari sisi ilmiah, NASA menganggap suara terompet sangkakala merupakan fenomena alam.  Tapi bagaimana menurut pendapat masyarakat pada umumnya?


Tukang Pijat Keliling

Sebenarnya tidak ada keistimewaan khusus mengenai keahlian Darko dalam memijat. Standar tukang pijat pada layaknya. Namun, keramahannya yang mengalir menambah daya pikat tersendiri. Kami menemukan ketenangan di wajahnya yang membuat kami senantiasa merasa dekat. Mungkin oleh sebab itu kami terus membicarakannya.
pijat

Entah darimana asalnya, tiada seorang warga pun yang tahu. Tiba-tiba saja datang ke kampung kami dengan pakaian tampak lusuh. Kami sempat menganggap dia adalah pengemis yang diutus kitab suci. Dia bertubuh jangkung tetapi terkesan membungkuk, barangkali karena usia. Peci melingkar di kepala. Jenggot lebat mengitari wajah. Tanpa mengenakan kacamata, membuat matanya yang hampa terlihat lebih suram, dia menawarkan pijatan dari rumah ke rumah. Kami melihat mata yang bagai selalu ingin memejam, hanya selapis putih yang terlihat.

Cinta


Betapa tua usia cinta. Tak terjelaskan oleh hitungan: angka-angka. Semenjak Tuhan ingin dicintai dan disembah oleh manusia, Dia jadikan seorang lelaki yang kemudian diberinya nama Adam.

Tuhan menghendaki dari tubuh Adam ini mengalir cinta, kasih sayang, dan juga—tentu pula—benci dan dendam. Cuma untuk melahirkan dan mengalirkan cinta itu, mesti ada kawan. Maka diciptakan lagi seorang teman bagi Adam, yaitu seseorang berkelamin perempuan. Namanya Hawa.
cinta

Hawa dicipta bukan dari tulang rusuk lelaki—yaitu Adam—seperti kerap kalian dicekoki selama ini. Tuhan tak perlu harus mencopot satu tulang rusuk Adam hanya untuk mencipta Hawa. Apa guna kun fayakun-Nya?

Ngrowot, Episode Terakhir

Ngrowot III - Sejak kejadian itu, Brodin jatuh sakit.

Pada siang hari ia merasakan badannya panas sepanas bara api, saking panasnya sampai-sampai Brodin harus merendam badannya di dalam kamar mandi.  Menjelang Maghrib badannya berubah menjadi dingin, karena rasa dingin yang teramat sangat sehingga ia harus mengenakan baju hangat hingga berlapis-lapis untuk mengurangi rasa dingin.

Belum lagi igauan dan rancauannya, hampir terjadi setiap malam, kadang seperti sedang berbicara dengan seseorang, kadang seperti orang bertengkar, atau sedang menerima petuah atau nasehat sementara kalau diajak berbicara langsung, jawabannya tidak pernah nyambung. 

Totok teman satu Mess-nya, merasa prihatin lalu berusaha membujuknya untuk segera pergi ke dokter. Akhirnya dengan susah payah ia berhasil mengajak  Brodin pergi ke dokter.

Setelah beberapa kali melakukan pemeriksaaan, dokter mengatakan kalau Brodin sehat, hanya kurang tidur dan kurang istirahat saja.

Sungguh aneh.

Begitulah keadaan yang dirasakan Brodin setiap hari, sampai tujuh hari lamanya, setelah itu sakitnya dengan perlahan hilang dengan sendirinya, tanpa obat, tanpa dokter dan tanpa pengobatan lainnya.

Baca Juga : Ngrowot I, Ngrowot II

Sebenarnya apa yang terjadi pada diri Brodin.

Sejak pertemuannya dengan mahluk halus di jembatan dekat kuburan, hampir setiap saat ia bertemu dengan mahluk-mahluk halus lainnya, terutama arwah-arwah penasaran yang meninggal karena sebab-sebab tidak wajar seperti kecelakaan, pembunuhan dan penyebab lainnya.

Mereka seolah tahu atau diberitahu kalau ada seorang manusia yang baru saja mendapatkan berkah berupa penglihatan batin sehingga dapat melihat dan berkomunikasi dengan mahluk gaib. Berbondong-bondong mereka mendatangi Brodin, hanya untuk sekedar numpang lewat atau menunjukkan keberadaannya atau memperkenalkan diri.

Jiwa Brodin belum siap menghadapi situasi seperti ini, sehingga rasa kaget, rasa takut, dan perasaan lainnya berbaur menjadi satu mempengaruhi jiwanya, akibatnya badannya menjadi panas-dingin.
Namun setelah tujuh hari berlalu, Brodin menjadi terbiasa dengan kehadiran mahluk-mahluk gaib tersebut.

Biasa bagi Brodin namun tidak biasa atau berbeda menurut pandangan orang-orang di sekelilingnya.

“Gila ilmu.” Kata Dani bosnya di kantor.

Kabotan ngelmu.” Kata Totok temannya.

Gendeng, edan, miring, saraf dan lain-lain sebutan yang diberikan kepada Brodin.

Bagaimana tidak, apa yang dilihat oleh Brodin tidak dapat dilihat oleh orang lain. Saat Brodin berbicara dengan salah satu mahluk gaib yang sedang menemuinya, terlihat oleh orang lain. Mereka melihat, Brodin ngomong sendiri, tersenyum dan tertawa sendiri. Maka orang-orang mengatakan 

“Brodin sudah Gila.”

Tapi sepertinya Brodin tenggelam dalam lingkungannya yang baru, bergaul dengan jin, arwah-arwah penasaran dan mahluk gaib lainnya. Sehingga ia dianggap menyimpang menjadi manusia yang berbeda, sampai-sampai ia melupakan kewajibannya sebagai seorang karyawan.

Sering tidak masuk kerja, melalaikan tugas yang diberikan atasannya, masuk kerja seenaknya dan perbuatan buruk lainnya.Padahal, sebelumnya ia adalah salah seorang karyawan yang tekun dan rajin bekerja.

Hal ini mengusik perasaan Totok, teman dekatnya. Sudah lebih satu minggu Brodin tidak masuk kerja tanpa ijin, bisa dipecat dengan tidak hormat. Totok lalu berusaha mencari dan menemui Toha, sosok yang pernah diceritakan Brodin kepadanya. Setelah ketemu, Totok menceritakan keadaan Brodin sekarang.

Arek gendeng, ini akibatnya, melakukan ‘laku’ tidak berbicara terlebih dahulu sama saya.” Kata Toha.

“Kenapa Cak?” Tanya Totok.

“Saya memang pernah bercerita sama Brodin, tentang puasa ‘ngrowot’ agar dapat melihat mahluk gaib. Tapi saya tidak menyangka kalau dia akan menjalankan laku-nya.”  Jawab Toha.

“Terus bagaimana cara menyembuhkannya? Sepertinya dia belum kuat memiliki ilmu seperti itu.” Lanjut Totok.

Yo wis, nanti malam saya akan menemui dia.” Kata Toha.

Malam harinya, Toha datang menemui Brodin.

Entah apa yang dilakukan Toha terhadap Brodin sehingga keesokan harinya Brodin sudah bertingkah-laku normal.

“Brodin sudah sembuh.” Kata Totok kepada teman-temannya.

Brodin sendiri hanya tersenyum mendengar komentar dari teman-temannya. Baginya kejadian ini adalah pengalaman baru dalam menjalankan tirakat spiritual.

“Harus ada yang membimbing dalam menjalankan ‘laku’ spiritual, kalau tdak, bisa menjadi gila.” Batin Brodin.


Ngrowot, Episode : Ketemu Demit

Ngrowot II - Nasehat Toha tertanam dalam benak Brodin. Selama ini ia memang tertarik dengan hal-hal yang berbau supra natural, namun belum menemukan seorang pembimbing atau guru spiritual yang sesuai dengan apa yang sedang dicarinya.  Untuk mempelajari hal-hal tertentu, Ia lebih suka belajar dari orang-orang yang sudah dikenalnya.

Kejadian yang baru saja dialami membuatnya sadar bahwa Toha yang selama ini dikenalnya, seorang sopir bis, ternyata mempunyai kemampuan supra natural yang hebat. Hanya dengan memegang tangan saja ia bisa menyalurkan kemampuannya hingga orang lain dapat merasakan atau melihat apa yang dilihatnya.

gambar ketemu demit
Di jaman sekarang ini, sungguh jarang orang seperti dia, penampilannya sederhana, mengenakan sandal jepit, celana jeans belel, kaos oblong dan selalu menutup kepalanya dengan songkok hitam. Sikapnya konyol, lucu dan suka berbuat iseng.

Bagi Brodin, Ngrowot selama empat puluh hari adalah sebuah tantangan yang cukup berat. Kebiasaan makan sate, rawon apalagi bakso sangat sulit dihentikan dan dihindari. 

Namun keinginan untuk bisa melihat mahluk gaib dan keinginan untuk memiliki kemampuan seperti Toha, sangat mempengaruhi pikirannya. Dalam benaknya, kemampuan seperti ini bisa dibanggakan dan dipamerkan dihadapan teman-temannya. 

Dengan niatnya itu ia mencoba menjalankan laku ‘ngrowot’, namun baru satu minggu berjalan, godaan yang membatalkan laku-nya datang, teman-temannya dari Jakarta mengunjunginya. Mereka mengajak makan “sego kikil” yang terkenal di Mojosongo.  Demi menghormati tamunya, Brodin terpaksa membatalkan puasa-nya dan ikut makan “sego kikil”.

Minggu berikutnya, Brodin memulai lagi tirakatnya, setelah dua minggu berjalan, datang lagi godaan yang membatalkan puasa-nya. Kali ini teman-temannya dari Malang yang datang mengunjunginya. Mereka mengajak makan “rawon” yang terkenal di Jombang. Brodin mencoba menolak dengan memesan menu makanan lainnya, namun aroma “rawon” yang menyengat hidung dan melihat begitu lahapnya teman-temannya makan, terpaksa ia membatalkan lagi puasanya.

“Aduh, susah betul mau melihat demit. Batal lagi tirakat-ku.” Batin Brodin.

Namun keinginannya belum padam, minggu berikutnya ia menjalankan lagi tirakat “ngrowot”. Dengan satu kemantapan tekad, “kali ini, harus berhasil.”

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, pada waktu sahur dan berbuka, ia hanya makan nasi putih dengan lauk sayur ditambah tempe dan tahu saja. Dengan perlahan ia dapat melupakan rasa daging, ikan dan ayam.  Dua minggu pertama, badannya lemas tak bertenaga namun ia bertahan sehingga semakin lama tubuhnya menjadi terbiasa. 

Tanpa terasa empat puluh hari sudah dilewatinya. 

Namun meskipun tirakat ‘ngrowot’ nya sudah selesai, Brodin menjadi terbiasa dengan pola makannya. Ia merasakan banyak perubahan yang terjadi di dalam dirinya, menjadi lebih sehat, lebih tenang dan tidak emosional seperti biasanya, pengaruh makanan.

Sehingga ia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian.

“Terus kapan aku bisa melihat demit? Kok sampai sekarang belum bisa.” Pertanyaan yang terngiang dalam hatinya.

Malam itu, adalah malam Jum’at Kliwon, malam yang keramat bagi masyarakat Jawa. 

Brodin naik sepeda menyusuri jalanan kota Jombang.

Jombang juga dikenal dengan sebutan Kota Santri, karena banyaknya sekolah pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayahnya. Bahkan ada pameo yang mengatakan Jombang adalah pusat pondok pesantren di tanah Jawa karena hampir seluruh pendiri pesantren di Jawa pasti pernah berguru di Jombang. Di antara pondok pesantren yang terkenal adalah Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, Pesantren Attahdzib (PA), dan Darul Ulum (Rejoso).

Banyak tokoh terkenal Indonesia yang dilahirkan di Jombang, di antaranya adalah mantan Presiden Indonesia yaitu KH Abdurrahman Wahid, pahlawan nasional KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim, tokoh intelektual Islam Nurcholis Madjid, serta budayawan Emha Ainun Najib dan seniman Cucuk Espe.

Konon, kata Jombang merupakan akronim dari kata berbahasa Jawa yaitu ijo (Indonesia: hijau) dan abang (Indonesia: merah). Ijo mewakili kaum santri (agamis), dan abang mewakili kaum abangan (nasionalis/kejawen). Kedua kelompok tersebut hidup berdampingan dan harmonis di Jombang. Bahkan kedua elemen ini digambarkan dalam warna dasar lambang daerah Kabupaten Jombang.

Pada hari-hari biasa, pusat perbelanjaan dan toko-toko tutup jam 9 malam, namun jika hari malam Jum’at pusat perbelanjaan tutup lebih awal lagi. Sehingga Brodin dengan leluasa mengendarai sepedanya karena arus lalu lintas tidak terlalu ramai, hanya satu dua mobil dan sepeda motor yang lewat.

Dikayuh sepedanya dengan santai, melewati jalanan yang lenggang, saat melewati sebuah jembatan yang menghubungkan sebuah sungai, ia berhenti. Dari kejauhan, Ia melihat adanya keramaian seperti pasar malam yang sering diadakan di lapangan-lapangan desa. Lampu-lampu menyala terang, menyinari aktifitas hiburan, judi dan warung makan dadakan.

Brodin mendekat. Ditaruhnya sepedanya di tempat yang aman lalu ia berjalan memasuki keramaian pasar malam itu. Ada permainan ‘Dadu’, “Tjap ji kie’ dan permainan judi lainnya. Saat ia mau ikut bertaruh di permainan Dadu, sang Bandar menolaknya, demikian di permainan-permainan judi lainnya, semuanya tidak menerimanya.

Brodin menjadi kesal, ia kembali ke permainan Dadu, dikeluarkannya uang puluhan ribu yang ada di kantongnya.

“Saya bawa uang.” 

“Maaf Mas, disini bukan tempat untuk sampean.” Jawab Sang Bandar.

“Terus tempat untuk saya dimana?” Tanya Brodin geram. Sang Bandar acuh. Brodin menjadi semakin kesal, ditendangnya alat permainan  dadu yang sedang dipegang oleh Bandar. Dadu itu berhamburan, sang Bandar terkejut lalu serentak bersama teman-temannya, berdiri mau mengeroyok Brodin.

Brodin berdiri tegak dengan tenang, menunggu serangan yang akan datang. Namun beberapa saat mereka hanya diam saja. Brodin mendekati sang Bandar, berdiri berhadapan. Namun jantungnya terkesiap saat melihat wajah orang itu tidak memiliki garis yang menghubungkan antara hidung dengan mulutnya. Garis kehidupan.

Terngiang di telinganya kata-kata Toha, “Kalau orang tidak memiliki garis itu, maka dia bukan manusia, dia golongan mahluk gaib.”

Reflek Brodin mengucapkan, “Astagfirullah ...”

Selesai mengucap kalimat itu, seketika Brodin mendapati dirinya berada di tengah sungai, untung waktu itu adalah musim kemarau sehingga air sungai hanya sebatas telapak kaki.  Semua pemandangan yang dilihatnya, keramaian pasar malam, orang-orang yang sedang bermain judi lenyap tanpa bekas. Tempat itu menjadi gelap gulita, seperti hari biasa saat ia melewatinya.

Sadar apa yang sedang terjadi, Brodin bergegas meninggalkan tempat itu.  Gelapnya malam menghalangi pandangannya sehingga ia harus berulang kali terpeleset dan terjatuh.  Setelah menemukan sepedanya, dengan cepat ia naik lalu dikayuhnya, pulang dengan hati bergetar dan perasaaan tidak menentu.

“Tidak saya duga, ternyata aku baru saja ketemu demit.” Batin Brodin.

Adipati Karna

Adipati Karna adalah nama tokoh pewayangan, yang merupakan saudara tua para Pandawa, namun berpihak kepada Kurawa yang telah menolongnya. sehingga pada saat terjadi perang Baratayuda, Karna harus berperang melawan saudaranya sendiri.

Karna adalah anak dari Dewi Kunti hasil pemujaan Betara Surya, sang dewa matahari. Karena  rasa malu kemudian bayi karna dibuang ke sungai dan ditemukan seorang sais kereta bernama Adirata. 

Setelah tumbuh dewasa Karna ikut ke kerajaan Astina, melihat adu tanding antara Pandawa melawan Kurawa yang dimenangkan Pandawa. Arjuna sebagai ksatria yang mendapatkan nilai tertinggi di setiap perlombaan.
adipati karna
Karna yang sejak semula menyaksikan acara itu, merasa panas hati melihat kesombongan dan keangkuhan Arjuna. Sehingga dengan nekad Karna menantang Arjuna untuk adu tanding dalam ketrampilan keprajuritan dengan dirinya. Tantangan Karna ini ditolak Arjuna, karena sebagai seorang putra raja Arjuna merasa dirinya tidak pantas melayani tantangan Karna yang hanya anak seorang sais kereta.

Tantangan Karna itu memang mengejutkan semua orang, termasuk para Kurawa. Duryudana, si Sulung dalam keluarga Kurawa segera memanfaatkan peristiwa itu. Dengan pengaruh yang dimilikinya selaku putra Prabu Drestarastra, saat itu juga Duryudana mengangkat Basukarna sebagai adipati di Kadipaten Awangga. 

Dengan kedudukan Karna sebagai seorang adipati, tidak ada lagi alasan bagi Arjuna untuk menolak tantangan itu. Adu tanding pun dimulai. Dan ternyata keduanya sama kuat dan sama mahirnya. Resi Krepa dan Begawan Drona akhirnya memberikan penilaian tidak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Keduanya seimbang sama kuat.

Dewi Kunti yang menyaksikan acara pertandingan itu, saat itu sudah yakin benar bahwa Karna sesungguhnya adalah anak sulungnya, yang belasan tahun sebelumnya dihanyutkan di sungai. Selain wajahnya yang amat mirip dengan Arjuna, gerak-gerik Karna boleh dibilang sama dengan Ksatria Panengah Pandawa itu. Lagi pula. dari telinga Karna memancar sinar kemilau Anting Mustika yang telah menempel sejak dilahirkan. Namun untuk segera mengakuinya sebagai anak,ia merasa malu.

Karna sempat pula berguru pada seorang brahmana sakti bernama Rama Parasu alias Rama Bargawa. Sesudah mewariskan berbagai ilmunya, barulah Rama Bargawa sadar bahwa Karna sebenarnya bukan dari golongan brahmana, melainkan seorang ksatria. 

Penyamaran Basukarna ini terbongkar manakala Rama Bargawa tidur berbantal paha muridnya. Saat itu seekor ketonggeng, sejenis kalajengking berbisa, menyengat paha Basukarna. Namun untuk menjaga jangan sampai gurunya terbangun, dengan sekuat tenaga Karna menahan rasa sakit yang alang kepalang itu, sehingga keringatnya bercucuran. Rama Bargawa justru terbangun ketika peluh Karna menetes ke wajahnya. Sewaktu tahu apa yang terjadi, sadarlah Sang Guru bahwa muridnya itu tentu berasal dari golongan ksatria. 

Hanya seorang ksatria yang tangguh sanggup menahan rasa sakit yang demikian hebat. 

Karena merasa ditipu, dengan marah Rama Bargawa mengucapkan kutukannya: Kelak dalam Baratayuda, pada saat yang genting yang menentukan hidup atau mati, Karna akan lupa bunyi mantera ilmu Bramastra

Dan, ternyata, kutukan itu terbukti.

Demikianlah, hari itu Karna kehilangan dua pusaka yang merupakan perisai dirinya, tetapi mendapat pusaka pengganti sebuah senjata pamungkas. Sehari menjelang Baratayuda,karna akhirnya berperang dipihak kurawa sebagai ksatria yang membela negaranya dari penjajah bukan sebagai pembela keangkara murkaan.

Menurut salah satu versi Mahabarata di India, Basukarna gugur karena siasat licik Kresna. Waktu itu salah satu roda kereta perang Karna terperosok ke dalam lumpur. Karna lalu melepaskan seluruh senjatanya, turun dari kereta, kemudian mencoba mendorong kereta itu untuk membebaskan roda kereta yang terbenam di lumpur. Pada saat itu Kresna memberi isyarat, agar Arjuna melepaskan anak panahnya. Jadi, Karna terpanah dalam keadaan tidak bersenjata; sesuatu yang sebenarnya terlarang dalam Baratayuda.

Baca juga : Gatotkaca Gugur

Gatotkaca Gugur

Gatotkaca Gugur 

Gatotkaca Gugur adalah salah satu lakon dalam pewayangan yang mengisahkan gugurnya Gatotkaca, Ksatria sakti yang terkenal memiliki 'otot kawat balung wesi', oleh panah sakti Adipati Karna, yang dulunya menjadi pemotong puser Gatotkaca.

Mari kita ikuti kisah selengkapnya.

Hari sudah gelap, sang surya sudah lama meninggalkan jejak sinarannya di ladang Kurusetra.

Harusnya perang dihentikan, masing – masing pihak beristirahat dan mengatur strategi untuk perang esok hari. Namun entah mengapa Kurawa mengirim senopati malam – malam begini. Adipati Awonggo ngamuk punggung menerabas dan menghancurkan perkemahan pasukan Pandawa di garda depan. Penjaga perkemahan kalang kabut tidak kuasa menandingi krida Sang Adipati Karno. Secepat kilat berita ini terdengar di perkemahan Pandawa Mandalayuda.
Gatot Kaca
Gatot Kaca
Sri Kresna tahu apa yang harus dilakukan. Dipanggilnya Raja Pringgondani Raden Haryo Gatotkaca, putra kinasih Raden Brataseno dari Ibu Dewi Arimbi. Disamping Sri Kresna, Raden Brataseno berdiri layaknya Gunung memperhatikan dengan seksama dan waspada pembicaraan Sri Kresna dengan putranya.

”Anakku tersayang Gatotkaca….Saat ini Kurawa mengirimkan senopati nya di tengah malam seperti ini. Rasanya hanya kamu ngger yang bisa menandingi senopati Hastina di malam gelap gulita seperti ini”

”Waduh, wo prabu…..terimakasih Wo. Yang saya tunggu – tunggu akhirnya sampai juga kali ini. Wo prabu, sejak hari pertama perang baratayuda saya menunggu perintah wo prabu untuk maju ke medan perang. Wo prabu Kresna, hamba mohon do’a restu pamit perang. Wo hamba titipkan istri dan anak kami Danurwindo. Hamba berangkat wo, Rama Wrekudara mohon pamit….”

“Waaa………Gatot iya…..“

Sekejap Gatotkaca tidak terlihat. Sri Kresna merasakan bahwa inilah saatnya Gatotkaca mati sebagai pahlawan perang Pandawa. Dia tidak mau merusak suasana hati adik – adiknya Pandawa dengan mengutarakan apa yang dirasakannya dengan jujur. Namun perasaan wisnu nya mengatakan Wrekudara harus disiapkan untuk menerima kenyataan yang mungkin akan memilukannya nanti.

“Wrekudoro…“

“Kresna kakangku, iya ….“

“Aku kok agak merasa aneh dengan cara pamitan Gatotkaca, mengapa harus menitipkan istri anaknya ??“

“Wah…Kakang seperti anak kecil. Orang berperang itu kalau nggak hidup ya mati. Ya sudah itulah anakku Gatotkaca, dia mengerti tugas dan akibatnya selaku satria.“

“Oo..begitu ya, ya sudah kalau begitu. Kita sama – sama doakan mudah-2an yang terbaik yang akan diperoleh anakmu Gatotkaca.“. Sebenarnya Kresna hanya mengukur kedalaman hati dan kesiapan Wrekudara saja. Paling tidak untuk saat ini, Wrekudara terlihat sangat siap dengan apapun yang terjadi.

Malam gelap gulita, namun di angkasa ladang Kurusetra kilatan ribuan nyala obor menerangi bawana. Nyala obor dari ribuan prajurit dua belah pihak yang saling hantam gada, saling sabet pedang, saling lempar tombak, saling kelebat kelewang dan hujan anak panah. Gatotkaca mengerahkan semua kesaktian yang dimilikinya. Dikenakannya Kutang Antakusuma, dipasangnya terompah basunanda, dikeluarkan segala tenaga yang dimilikinya. Terbang mengangkasa layaknya burung nazar mengincar mangsa. Sesekali berkelebat menukik merendah menyambar buruannya. Sekali sambar pululan prajurit Hastina menggelepar tanpa daya disertai terpisahnya kepala – kepala mereka dari gembungnya.

Semenjak lahir, Gatotkaca sudah menunjukkan tanda-tanda kedidgyaannya. Ari – arinya berminggu – minggu tidak bisa diputus dengan senjata tajam apapun. Kuku pancanaka Wrekudara mental, Keris Pulanggeni Arjuna tiada arti, Semua senjata Amarta sudah pula dicobai. Namun ari – ari sang jabang bayi seperti bertambah alot seiring bertambahnya usia si jabang bayi. Para pinisepuh Amarta termasuk Sri Kresna pun kehabisan reka daya bagaimana menolong Sang jabang bayi Dewi Arimbi ini.

Maka lelaki kekasih Dewata – Sang Paman Raden Arjuna – menyingkirkan sejenak dari hiruk piruk dan kepanikan di Kesatrian Pringgondani. Atas saran Sri Kresna, Raden Arjuna menepi. Semedi memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kiranya memberikan kemurahannya untuk menolong Pandawa mengatasi kesulitan ini.

Di Kayangan Suralaya, permintaan Arjuna didengar oleh para dewa. Bethara Guru mengutus Bethara Narada untuk memberikan senjata pemotong ari – ari berupa keris Kunta Wijayandanu. Bethara Narada turun dengan membawa senjata Kunta bermaksud menemi Arjuna yang kala itu diiringi oleh para punakawan, abdi tersayang.

Sahdan di tempat lain, Adipati Karno sedang mengadu kepada Ayahnya Dewa Surya, dewanya Matahari. Adipati Karno, memohon welas asih kepada Sang Ayah untuk memberikan kepadanya senjata andalan guna menghadapi perang besar nanti. Dewa Surya menyarankan anaknya untuk merampok Senjata Kunta dari Bethara Narada. Karno dan Arjuna adalah saudara seibu yang wajah dan perawakkanya sangat mirip melebihi saudara kembar. 

Hanya suara saja yang membedakan keduanya. Maka ketika Adipati Karno dirias oleh Dewa Surya menyerupai Arjuna, Bathara Narada tidak akan mengenal Adipati Karno lagi melainkan Arjuna. Kelicikan Dewa Surya tidak cukup di situ. Siang yang terik dan terang benderang itu tiba – tiba meredup seolah menjelang malam. Dengan upaya dan rekayasanya, terjadilah gerhana surya. Narada, dewa yang sudah tuwa dengan wajah yang selalu mendongak ke atas itu, semakin rabun karena gerhana ini.

Adipati Karno mencegat Bethara Narada, tanpa perasaan curiga diberikannya senjata Kunta kepada ”Arjuna”. Merasa tugas selesai Narada berniat kembali ke Kahyangan. Ternyata masih ditemuinya Arjuna lagi yang kali ini tidak sendiri melainkan diiring para punakawan. Sadar Narada tertipu, diperintahkannya Arjuna untuk merebut senjata kunta dari Sang Adipati Karno. Perang tanding tak bisa dielakkan, namun hanya warangka senjata yang dapat direbut oleh Arjuna dari kakak tertuanya itu. Dengan warangka senjata itulah ari – ari jabang bayi arimbi yang kelak bernama Raden Gatotokaca dapat diputus. Keanehan terjadi ketika sesaat setelah ari – ari jabang bayi diputus, seketika warangka hilang dan menyatu ke badan si jabang bayi.

Sekarang, saat perang besar terjadi takdir itu sudah sampai waktunya. Senjata Kunta mencari warangkanya, di tubuh Raden Gatotkaca. Tidak berarti sesakti apapun Gatotkaca, setajam pisau cukur tangannya memancung leher musuhnya. Konon pula otot gatotkaca sekuat kawat tembaga, tulangnya sealot besi tempa. Kesaktiannya ditempa di Kawah Candradimuka. Namun garis tangan Gatotkaca hanyalah sampai di sini.

Di gerbang yang memisahkan antara alam fana dengan alam baka, sukma Kalabendono, paman yang sangat menyawangi Gatotkaca menunggu “sowan ke pengayunan yang Maha Pemberi Hidup”. Begitu sayangnya Kalabendono kepada keponakannya, sukmanya berjanji tidak akan kembali ke asal kehidupan jika tidak bersama sang keponakan.

Di sisi seberang ladang pertempuran, Karno telah siap dengan busur panahnya dengan anak panah Kunta Wijayandanu. Dalam hatinya berbisik “Anakku bocah bagus, belum pupus bekas ari – arimu….berani – beraninya kamu menghadapi uwakmu ini. Bukan kamu yang aku tungggu ngger…Arjuna mana? Ya ya ..sama – sama menjalani darma satria, ayo aku antarkan kepergian syahidmu dengan Kunta Wijayandanu”.

Gatotkaca, mata elangnya sangat tajam melihat gerak – gerik seekor tikus yang baru keluar dari sarangnya. Pun meski dia melihatnya dari jarak ribuan tombak diatas liang tikus itu. Begitu pula, dia tahu apa yang sedang dilakukan Sang Adipati Karno. Dia tahu riwayatnya, dia tahu bahwa warangka senjata Kunta ada di tubuhnya dan menyokong kekuatannya selama ini. Dicobanya mengulur takdir. Dia terbang diantara awan – awan yang gelap menggantung nun di atas sana. Dicobanya menyembunyikan tubuhnya diantara gelapnya awan yang berarak – arakan di birunya langit.

Namun takdir kematian sama sekali bukan di tangan makhluk fana seperti dia. Takdir itu sejengkal pun tidak mungkin dipercepat atau ditunda. Sudah waktunya Gatotkaca, sampai di sini pengabdian kesatriaanmu. Kunta Wijayandanu dilepaskan dari busurnya oleh Adipati Karno. Di jagad ini hanya Arjuna yang mampu menyamai keahlian dan ketepatan Basukarno dalam mengolah dan mengarahkan anak panah dari busurnya. 

Kuntawijandanu melesat secepat kilat ke angkasa, dari Kereta perang Basukarno seolah keluar komet bercahaya putih menyilaukan secepat kilat melesat. Di angkasa….Kalabendono yang sudah siaga menunggu tunggangan, dengan sigap menumpang ke senjata Kunta. Senjata kunta dan Kalabendono, menghujam ke dada Gatotkaca, membelah jantung Sang Satria Pringgandani. Dalam sekaratnya, Gatotkaca berucap ”Aku mau mati kalau dengan musuh ku….”. 

Seperti bintang jatuh yang mencari sasaran, jatuhnya badan Gatotkaca tidak lah tegak lurus ke bawah, namun mengarah dan menghujam ke kereta perang Basukarno. Basukarno bukanlah prajurit yang baru belajar olah kanuragan setahun dua tahun. Dengan keprigelan dan kegesitannya, sebelum jasad Gatotkaca menghujam keretanya dia melompat seperti belalang menghindar dari sergapan pemangsa. Jasad gatotkaca menimpa kereta, Keretapun hancur lebur, pun delapan kuda dengan kusirnya tewas dengan jasad tidak lagi bebentuk. Selesailah episode Gatotkaca dengan perantaraan Uwaknya, Adipati Karno Basuseno.

Gugurnya Gatotkaca menjadi berita gembira di kubu kurawa. Para prajurit bersorak sorai mengelu – elukan sang Adipati Karno. Kepercayaan diri mereka berlipat, semangat perang mereka meningkat. Keyakinan diri bertambah akan memenangi perang dunia besar yang ke empat ini.

Sebaliknya, kesedihan mendalam tergambar di kubu Pandawa. Wrekudara hampir – hampir tidak mampu menguasai diri ”Gatot…, jangan kamu yang mati biar aku saja bapakmu…Hmmm Karno…..!!! beranimu hanya dengan anak kemarin sore..Ayo lawanlah Bapaknya ini kalau kamu memang lelaki sejati…!”. 

Arimbi, sang ibu, tidak kuasa menahan emosi. Selagi para pandawa meratapi dan merawat jasad Gatotkaca, Arimbi menceburkan ke perapian membara yang rupanya telah disiapkannya. Sudah menjadi tekatnya jika nanti anak kesayangannya mati sebelum kepergiannya ke alam kelanggengan, dia akan nglayu membakar diri. Dan itu dilakukannya sekarang. Pandawa, dengan demikian kehilangan dua keluarga dekat sekaligus di malam menjelang fajar ini. Wrekudara kehilangan anak tersayang dan istri tercintanya. Namun keturunan tidaklah terputus, karena baik Antareja maupun Gatotkaca telah mempunyai anak laki – laki sebagai penerus generasi Wrekudara.

Fajar menjelang, jenazah Gatotkaca dan abu Arimbi telah selesai diupakarti sesuai dengan ageman dan keyakinan mereka. Sri Kresna sudah bisa menenangkan Wrekudara dan para pandawa yang lain. Sekarang saatnya mengatur strategi. Tugas harus dilanjutkan. Pekerjaan harus diselesaikan, perang harus dituntaskan. Dunia akan segera mengetahui, gunjingan dunia mengenai perang besar antar dua saudara kembar akan segera terjadi siang ini.