Bulan Madu?

Bulan Madu?


Bulan Madu - Setelah satu minggu menikah, Brodin berencana mengajak istrinya pergi ke Malang, untuk menengok sekaligus mengenalkan istrinya kepada Emaknya.

Sebetulnya menurut adat istiadat yang berlaku bagi masyarakat pada umumnya, jangka waktu sepasang pengantin boleh meninggalkan rumah untuk keluar kota adalah setelah sepasar atau sebelas hari.  Namun karena keperluan untuk mendapatkan restu dari Emaknya  itu dianggapnya lebih penting, Brodin mengabaikan larangan itu.

Pernikahan Sang Kelana

Pernikahan - Setelah Sigit berkunjung ke rumah Fatimah, bertemu dengan kedua orangtua Fatimah lalu menceritakan hubungan adiknya dengan Brodin, maka terbukalah tirai yang selama ini menyelubungi hati H. Badrun dan istrinya.

gambar pernikahan

Mereka merasa bersalah telah menuduh calon menantunya macam-macam seperti buaya darat, playboy kampung, tak tahu diuntung dan predikat jelek lainnya.

Sekarang mereka menyadari siapa sebenarnya calon menantunya, cintanya kepada Fatimah tulus sehinga mampu menolak cinta yang lain. Sungguh jarang lelaki seperti itu di jaman ini, seperti sebuah mutiara dalam selokan, sedikit bau dan kotor namun berkilau saat dibersihkan.

Keesokan harinya, mereka diantarkan Fatimah menemui Brodin di kost-nya, daerah Mampang Prapatan.

Kamar kost Brodin adalah sebuah kamar berukuran 3 x 4 dengan kamar mandi di dalam. Hanya ada tempat tidur dan lemari plastik.

Brodin terkejut menerima kedatangan mereka, karena tidak memiliki ruang tamu, bergegas ia merapikan kamarnya lalu mempersilahkan mereka masuk ke dalam kamar. Berdesak-desakan mereka duduk di bawah beralaskan karpet berwaran hijau yang saking lamanya sedikit berlumut. Maklum, kamarnya laki-laki.

Setelah berbasa-basi sebentar, H. Badrun segera memulai pembicaraan.

"Gue dan Nyak lu, minta maaf atas kesalah-pahaman kita selama ini. Fatimah anak gue satu-satunya, makanya gue ingin melihatnya bahagia. Menjadi istri lu satu-satunya bukannya dimadu."

"Tidak apa-apa Be, memang ini resikonya punya calon menantu ganteng seperti saya. Banyak yang naksir."

"Muke lu penyok.." Semprot H. Badrun sambil tersenyum.

"Sekarang, lu balik ke Pasar Minggu. Minggu depan kalian gue nikahin. Bagaimana?"

Brodin diam. Karena ditunggu beberapa lama Brodin masih diam, H. Badrun mengulangi lagi pertanyaannya.

Brodin menarik nafas panjang, tapi belum membuka suara.

"Bagaimana Bang? Minggu depan kita menikah? Abang mau?"

Brodin menghela nafas panjang sekali lagi lalu berkata, "bukan maksud saya menolak, tapi jika saya datang ke sana hanya membawa badan saja, nanti bila saya melakukan kesalahan lagi, saya akan ditendang seperti hewan. Biar kere, saya masih punya harga diri."

"Maafkan kami telah berbuat seperti itu kepadamu, sungguh, kami menyesal melakukannya."

"Bagi saya, kejadian itu sudah memberi pelajaran yang sangat berharga tentang harga diri seorang lelaki."

"Terus bagaimana Bang?" Tanya Fatimah. Sementara H. Badrun hanya bisa diam.

"Saya merasa minder, Emak, orangtua saya satu-satunya tidak menyetujui pernikahan ini, sementara saya tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi. Saya merasa sendiri. Pantaskah saya jadi suamimu? Pantaskah saya jadi menantu Babe, seorang tuan tanah yang kaya?"

"Jangan ngomong begitu, Bang. Fatimah tulus mencintai Abang." Kata Fatimah.

"Ya Din, Babe sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Sudah, buang prasangka yang macam-macam, buang rasa ragu, kita buka lembaran baru. Bagaimana?" Kata H. Badrun.

"Kalau hanya mengikuti emosi dan ego masing-masing, selamanya kita tidak akan menjadi satu keluarga. Kami sudah menyadari kesalahan kami, makanya kami kemari untuk memperbaikinya." Sambung Nyak Fatimah.

Brodin menyadari kesalahannya.

"Maafkan saya Nyak, Be.." Jawab Brodin sambil mencium kedua tangan orangtua itu..

"Maafkan saya Non." Sambil mencium tangan Fatimah, saat mau mencium pipi, tangan H. Badrun menahannya.

"Sudah kebelet juga, masih jual mahal." Kata H. Badrun, sementara Brodin hanya tersenyum kecut.

Akhirnya Brodin kembali ke Pasar Minggu untuk mempersiapkan pernikahannya. Karena tidak ada seorang pun dari keluarga Brodin yang ada di Jakarta, maka Brodin meminta tolong kepada atasannya di kantor agar menjadi walinya.

Waktu pernikahan Brodin dan Fatimah pun tiba.

Hari Jum'at menjadi hari yang bersejarah bagi Brodin dan Fatimah. Tahap demi tahap proses adat Betawi seperti Ngedelengin, Nglamar, Bawa Tande Putus, Akad Nikah, Acara Negor, Tradisi Palang Pintu dan Resepsi, mereka jalani dengan penuh penghayatan. Sampailah pada acara resepsi pernikahan yang di meriahkan dengan acara musik dangdut.

Cukup meriah, tamu undangan bergiliran memberi ucapan selamat. Fatimah dan keluarganya sangat gembira, sementara Brodin sempat menitikkan air matanya. Emaknya, orangtuanya sendiri meskipun orangtua angkat tidak hadir di tengah kebahagiaannya.

Kehadiran teman-teman kantornya, Dani dan rombongan dari Blok M, Sigit dan keluarganya, Kang Anto dan tetangganya di Mampang, membuatnya terhibur. Tidak ketinggalan rombongan Mbah Gondo dan teman-temannya, meskipun kehadirannya tidak terlihat oleh tamu yang lain. Sementara para penunggu pohon ditugaskan untuk menjaga keamanan.

Acara berlangsung lancar dan aman, hingga tiba pada acara hiburan musik dangdut. Saat musik didendangkan dan penyanyi sedang bergoyang sambil mendendangkan lagunya, tiba-tiba lima orang naik dan menguasai panggung. Dengan pengeras suara mereka berteriak menantang sang pengantin laki-laki untuk berkelahi.

Penonton protes dan marah, namun kelima orang itu lebih garang. Sehingga mereka diam saja, menunggu apa yang akan terjadi.

"Ini Jakarta, kampung gue, jangan petentang-petenteng pamer kekuatan disini. Ayo kalau memang lelaki, keluar,  mari bertarung, kita buktikan siapa yang lebih jago. Biar semua orang di sini menjadi saksinya." Tantang salah satu orang tersebut.

Brodin gelisah mendengar tantangan itu, kalau di hari biasa mungkin ia bisa mengabaikannya. Tapi ini adalah hari pernikahannya, maka darah mudanya bergolak, matanya menyala merah, segera dilepaskan baju pengantinnya mau melabrak penantangnya. Tapi Fatimah dan keluarganya menahannya.

Tanpa sepengetahuan Babe dan Nyaknya, Mbah Gondo mendatanginya lalu berbisik, "Angger masuk ke kamar dulu, biar Mbah yang menangani mereka."

"Baik Mbah." Jawab Brodin.
"Saya mau pergi ke kamar, kalau ada yang nyari, bilang saja saya lagi buang air." Bisiknya kepada Fatimah, sambil berlalu masuk ke kamar pengantin.

Di atas panggung terjadi keributan ketika penonton melihat sang pengantin laki-laki bersama empat temannya menaiki panggung.

"Jawara tidak tahu aturan seperti kalian memang seharusnya dihajar. Datang ke pernikahan tidak memberi angpau malah membuat keributan, mari segera kita selesaikan urusan kita, mau berkelahi sendiri-sendiri atau main keroyokan." Kata Brodin garang.

"Cukup gue sendiri yang akan menghajarmu, tidak perlu bantuan teman-teman gue." Kata Burhan, pemimpin pengacau itu.

"Baik, mari kita mulai."

Terjadi perkelahian tangan kosong. Gerakan Burhan kuat dan cepat, menyerang dengan jurus-jurus dari Cimande. Namun yang dihadapinya adalah Mbah Gondo  dalam wujud Brodin, gondoruwo penguasa gunung Sumbing, pada masa hidupnya adalah seorang panglima perang di jaman Sultan Agung.

Sehingga serangan-serangan Burhan dengan mudah dipatahkan.  Dan, Brodin palsu segera menyerang musuhnya bertubi-tubi, ia ingin cepat menyelesaikan kekacauan ini.

Tendangan dan pukulannya laksana angin puting beliung melabrak musuhnya. Burhan kewalahan dan menjadi lengah sehingga pada suatu kesempatan, pukulan tangan miring Brodin tepat mengenai leher Burhan. Burhan terpelanting jatuh, belum sempat bangun sebuah tendangan telak menghantam perutnya. Burhan terjajar mundur lalu muntah, isi perutnya seakan diaduk-aduk.

Namun sebagai seorang Jawara pilih tanding, Burhan cepat menguasai dirinya, amarahnya mendidih, kini ditangannya tergenggam sebilah golok tajam. Diputar-putarnya golok itu, suara goloknya berdesingan seolah membelah udara, cahayanya berkilatan ditimpa sinar lampu. Tanpa basa-basi dan amarah yang memuncak, Burhan menyerang kembali. 

Brodin sudah bersiaga menyambut serangan lawan, ia bergerak menghindar ke sana kemari. Gerakannya lincah seperti burung Sikatan. Sudah berpuluh-puluh jurus dikeluarkan namun Burhan belum juga dapat melukai lawannya. Karena memegang senjata, Burhan merasa berada di atas angin, sehingga ia menyerang semakin cepat dan semakin kuat. Dan kesempatan itu datang, goloknya tepat menebas batang leher Brodin.

"Pletakk .." Bukan leher itu yang terbelah lepas dari tubuh, tapi golok yang dipegangnya itu patah menjadi dua. Burhan sangat terkejut melihat kenyataan itu, sampai-sampai mulutnya menganga, melongo. Belum habis rasa terkejutnya, sebuah tendangan Brodin tepat mengenai ulu hatinya.

"Hegg.." Burhan jatuh terduduk. Brodin mencengkeram lehernya, "bagaimana? Masih mau dilanjutkan?"

"Ampun Mas, gue menyerah."

"Bagaimana? Masih ada yang belum puas?" Tanya Brodin kepada keempat teman Burhan.

Dua orang teman Burhan melompat maju ke arena, disambut dua teman Brodin. Segera terjadi perkelahian dalam dua arena, satu lawan satu. Namun kedua teman Burhan bukan lawan teman-teman Brodin, para Gondoruwo anak buah Mbah Gondo. Dalam waktu tidak terlalu lama, keduanya terlempar dari arena dengan mulut perot dan muntah darah.

"Masih ada lagi?" Tanya Brodin.

Kedua orang yang tersisa, menyerah, mereka keder melihat ketiga temannya sudah dikalahkan lawan yang masih muda. Brodin lalu mengajak kelima orang itu duduk di meja tamu, menjamunya dan mengobati luka mereka.

Hiburan musik dangdut pun dilanjutkan kembali, dan para penonton kembali bergoyang mengikuti irama.

Ternyata, Burhan dan kawan-kawannya adalah orang-orang suruhan H. Bokir, orangtua tunangan Fatimah yang sakit hati melihat pinangan anaknya ditolak. Padahal sudah lama Fatimah dan anaknya dijodohkan tapi Fatimah berpaling kepada Brodin. Mereka memang disuruh H. Bokir untuk mengacaukan acara pernikahan itu, namun gagal, maka mereka pulang dengan kepala tertunduk.

Setelah keributan dapat diatasi, Brodin keluar, lalu kembali ke kursi pelaminannya.

"Abang tidak apa-apa?" Tanya Fatimah khawatir.

"Lu, tidak apa-apa Din?" Tanya Babenya, setelah melihat menantunya bertarung diatas panggung.

"Tidak apa-apa Be." Jawab Brodin.

"Siapa mereka?"

"Orang-orang suruhan H. Bokir, Be."

H. Badrun menghela nafas panjang, rupanya H. Bokir belum dapat melepaskan Fatimah bersama orang lain, malah berusaha membatalkan dan mengacaukan pernikahan ini.

Acara demi acara terus berlanjut dan hari bergeser semakin malam. Saat tamu-tamu sudah mulai berkurang, Brodin mencolek pinggang Fatimah.

"Masuk yuk, istirahat dulu, saya lelah." Ajak Brodin. Fatimah mengangguk.

Setelah minta ijin kepada kedua orang tuanya, mereka masuk ke kamar pengantin.

Di dalam kamar pengantin, Brodin langsung merebahkan badannya di atas ranjang. Rasa lelah seharian berdiri menyambut tamu, membuatnya mengantuk, sehingga sebentar saja ia terlelap.

Sementara Fatimah duduk di pinggir ranjang menantinya dengan sabar. Sambil menunggu, Fatimah membongkar kado-kado kecil yang diterimanya, lalu mencatatnya dalam sebuah buku. Siapa yang memberi kado, apa isi kadonya, sehingga suatu saat harus membalasnya. Kebiasaan yang masih dijalankan masyarakat kita untuk menjaga tali silaturahmi.

Lewat tengah malam Brodin bangun, segera ia membersihkan badannya, menggosok gigi dan mencuci mukanya. Fatimah tersenyum menyambutnya. Bukannya menghampirinya tapi Brodin malah mematikan lampu kamar lalu berjalan mengendap-endap keluar rumah.

Tiba-tiba ada suara berisik dari arah jendela dan atap rumah, tepatnya di atas kamar pengantin.

"Hhuaaah .. Gedubrak." Seseorang jatuh dari atap rumah, bangun lalu lari, disusul teman-temannya yang lain. Mereka ketakutan seolah melihat mahluk yang menakutkan.

Rupanya, mereka berusaha mengintip pasangan pengantin baru dalam menjalankan kewajibannya lalu dijadikan bahan obrolan di warung-warung kopi. Kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh anak-anak muda di kampung Fatimah.

Tidak lama kemudian Brodin masuk kembali ke dalam kamar.

"Sudah aman sekarang." Bisiknya kepada Fatimah.

"Gelap Bang, tidak di nyalain lampunya?"
"Ssst, tidak usah."
"Bukain bajuku dong, bang. Gerah rasanya." Pinta Fatimah.
"Mana resletingnya?" Tanya Brodin sambil meraba-raba tubuh Fatimah.
"Sebelah sini Bang." Sahut Fatimah, sambil mengarahkan tangan Brodin.
"Susah amat, bukanya. Dirobek saja boleh?"
"Jangan, ini baju sewaan. Pelan-pelan saja."
"Sudah." Kata Brodin sambil melepaskan nafas lega.
"Tali kutangnya nggak dibuka sekalian?" Tanya Brodin, Fatimah mendesis, "yaa bang."
Setelah terbuka semuanya, mereka tenggelam dalam lautan asmara.

Meniti alun demi alun, mengendarai gelombang demi gelombang dengan penuh kasih. Ketika sudah sampai pada puncak gelombang asmara, yang menghempaskan mereka ke pantai kesadaran, mereka melenguh. Lega, seolah bendungan yang menampung air, dibuka.

***

Pagi yang cerah
Senyum di bibir merah
Dari balik jendela
Sinar mentari lembut menyapa

Kita berdua
Yang t'lah berpeluk mesra
Menikmati hangatnya
Suasana jiwa insan bercinta

Kutidur didalam pelukmu
Diantara rambut yang terurai
Dan degup di dada
Kudengar kurasa
Membisikkan kata bahagia

Pagi yang terang
Berlalu tanpa kata
Hanyut kita berdua
Dalam lamunan malam pertama

Kau/ku tidur didalam pelukku/mu
Menetes air mata bahagia
Kau/ku berikan semua
Sepenuh jiwa
Dirimu/ku cintamu/ku
Dan segalanya untukku/mu

Reff;
Pagi yang cerah
Dan senyum di bibir merah
Sejuta rasa bahagia
Yang kau berikan

Tiada lagiYang dapat kupersembahkan
Hanyalah laguku ini
Sebagai ungkapan dan rasa cintaku

Jangan kau ragu
Kan segala yang terjadi
Setulus hati yang ada
T'lah kuberikan


Diiringi suara petikan gitar, bait-bait lagu ini mengalun merdu dari kamar pengantin. Seperti syair dalam lagu, di kamar itu, kedua sejoli tengah dimabuk kebahagiaan, mereka sudah mereguk manisnya air asmara dan merasakan indahnya malam pertama.

Lelahnya menjalani resepsi pernikahan seakan sirna, pahit getirnya masa pacaran seolah lenyap, yang tersisa hanya rasa bahagia.

Berdua mereka berada di dalam kamar itu, kamar pengantin yang dihiasi aneka rupa hiasan. Mereka mencurahkan segala kerinduan, kasih sayang dan hasrat terpendam yang selama ini mereka tahan.

Tiada lagi teriakan Nyak Fatimah, yang memanggil-manggil nama Fatimah, setiap kali melihat mereka bermesraan. Sekarang mereka sudah sah dan resmi menjadi sepasang suami istri

Prahara Cinta Sang Kelana 3

Jam 4 sore, bus itu melenggang meninggalkan kota Magelang menuju kota Jakarta. Melewati jalanan lurus dan berkelok dengan tenang, sang sopir bus nampak riang. Mengendarai busnya sambil bernyanyi-nyanyi mengikuti syair lagu yang mengalun dari sebuah tape recorder. Para penumpang hanyut dalam keceriaan itu, mereka ikut bersenandung, bergumam atau sekedar menggerakkan jari tangan atau anggota tubuh lainnya mengikuti irama lagu.

Di bangku paling belakang, seorang pemuda justru sedang dalam kebingungan. Ia kembali ke Jakarta dengan membawa masalah yang cukup pelik.  Seiring perjalanan bus, pikiran dan angan-angannya menjelajah kembali ke masa silam, masa-masa kuliah yang kata orang masa yang indah. Namun baginya masa itu hanya masa yang penuh perjuangan dan kepahitan.

gambar prahara cinta3


Berjuang untuk segera menyelesaikan kuliah dan harus menerima pahitnya perasaaan ditolak wanita yang ditaksirnya. Patah satu tumbuh seribu, kata pepatah. Namun sebanyak ia menaksir gadis, sebanyak itu pula ia ditolak.

Berbagai alasan mereka sampaikan untuk menolaknya, mulai dari yang sudah punya kekasih, orang tuanya tidak setuju, belum waktunya pacaran dan mau serius belajar serta hanya mengajak berteman saja.

Kata teman-teman dan orang-orang yang dikenalnya wajahnya cukup tampan, mirip penyanyi Ikang Fauzi atau Aktor Rico Tampatty dan kadang-kadang mirip Basuki Srimulat. Namun pujian itu tidak membuatnya memiliki seorang kekasih. Mungkin latar belakang, kondisi ekonomi, daerah tempat tinggalya serta asal-usulnya yang tidak jelas, membuat gadis-gadis menghindarinya. Sungguh sedih saat mengenangnya.

Namun sekarang ini,dua orang gadis cantik ingin menjadi istrinya, bahkan salah seorang rela dimadu.

Jika hanya menuruti hasrat dan nafsunya saja maka dua-duanya akan ia jadikan istrinya. Bak sebuah perusahaan yang memiliki kantor pusat dan kantor cabang dimana-mana. Namun, pikirannya masih bersih sehingga dibuangnya jauh-jauh pikiran itu. Ia harus menentukan dan memilih salah satu di antara dua orang gadis itu.

Ia tergagap dan sadar dari lamunannya ketika merasakan sebuah tepukan dibahunya.

"Dari tadi melamun saja." kata Sigit yang duduk di bangku sebelahnya.

"Ya Mas, saya bingung menghadapi permasalahan ini. Saya sudah berterus-terang kepada Anggraeni, kalo saya sudah punya pacar dan akan menikah, tapi dia bersikukuh dan mau menerima saya meskipun harus dimadu." Jawab Brodin.

Sigit terperanjat, ia tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini.Sigit menyesal, jika sejak dulu dia memberi ijin kepada Brodin untuk menjalin hubungan dengan adiknya, maka kejadian ini tidak akan terjadi.

"Kalau Mas Sigit berada pada posisi saya, apa yang sampean lakukan?"

Sigit diam membisu.

“Kondisi seperti ini yang sedang saya alami, harus memilih salah satu atau dua-duanya.”

“Maafkan saya Din, sudah membuatmu susah.” Kata Sigit.
“Nasi sudah menjadi bubur Mas, tinggal bagaimana kita menghadapinya. Sudahlah saya mengantuk.” Jawab Brodin sambil memejamkan matanya.

Keesokan harinya Brodin dan Sigit sudah sampai di Jakarta. Sigit bergegas menuju kantornya, sementara Brodin berjalan-jalan ke Blok M. Ada rasa khawatir jika ia cepat pulang ke Pasar Minggu.

Malam hari, ia pulang ke Pasar Minggu, dengan mengendap-endap ia menuju kamarnya. Namun alangkah terkejutnya ketika dilihatnya Fatimah sudah berdiri berkacak pinggang menghadangnya.

"Darimana saja Bang? Pergi tanpa pamit, membuat orang jadi kebingungan saja." Kata Fatimah marah, nada suaranya melengking tinggi membuat Brodin merinding.

"Ampun Nona, kemarin saat saya mau berpamitan, Nona Fatimah sedang tidur lelap, saya tidak tega untuk membangunkan, jadi saya tinggal pergi begitu saja." Jawab Brodin.

"Alasan yang tidak masuk akal."

"Aduh .. Aduh.." Sebuah cubitan mengenai perut Brodin disusul dengan cubitan berikutnya, Brodin berlari menghindar tapi Fatimah memburunya. Brodin berlari, Fatimah mengejar, terjadi kejar-kejaran. Brodin sembunyi, Fatimah mencari. Mereka berhenti ketika Nyak Fatimah keluar karena suara ribut mereka.

"Kalian ini seperti anak kecil saja, malam-malam begini main kejar-kejaran. Ayo masuk."

"Awas besok, akan saya ikat di pohon rambutan biar tidak pergi kemana-mana lagi!!" Ancam Fatimah. Brodin menjulurkan lidahnya, mengejek. Fatimah mengejar, Brodin sembunyi di belakang Nyaknya. Akhirnya Fatimah dijewer sama Nyaknya dibawa masuk ke rumah.

"Baru masalah kecil begini, marahnya sudah seperti itu, bagaimana dengan masalah Anggraeni?" Batin Brodin.

"Wanita mana yang mau dimadu? Tapi kalau wanitanya yang mau, bagaimana? Entahlah, pusing aku memikirkannya."

Keesokan harinya, Brodin bolos kerja.

Seharian ia tidur dan bermalas-malasan, lupa sarapan, lupa makan siang dan makan malam. Ia berharap Fatimah mengantarkan makanan untuknya, tapi sampai jam 10 malam ia menunggu, Fatimah tidak muncul juga. Karena lapar, jam 12 malam ia keluar, makan indomie rebus 24 jam di pinggir jalan.

Keesokan harinya, ia sudah siap-siap berangkat kerja, biasanya Fatimah memanggil untuk sarapan, tapi sampai waktunya berangkat Fatimah tidak datang juga. Brodin berangkat kerja dengan perut kosong.

"Ada apa dengan Fatimah dan keluarganya? Apakah dia masih marah? Nanti malam saja saya tanyakan apa penyebabnya."

Malam harinya ia mondar-mandir di depan pintu rumah induk, berharap ada yang memanggilnya untuk makan malam. Tapi sampai pegel kakinya, tidak seorangpun yang memanggilnya. Akhirnya ia makan diluar.

Esok harinya, kejadian itu terulang lagi, lagi, dan lagi. Sampai hampir satu minggu lamanya.  Brodin kehilangan kesabarannya.

Dikemasi barang-barangnya lalu berkemas untuk kembali ke Mampang. Ia menulis surat buat Fatimah dan keluarganya, maksudnya mau diberikan langsung kepada Fatimah tapi orangnya tidak ada, sehingga surat itu ditinggalkan di depan pintu, lalu ia pergi.

Seminggu telah berlalu, tidak ada kabar apa pun dari Fatimah, padahal kurang dua minggu lagi rencana pernikahan mereka.

Brodin kebingungan menghadapi situasi seperti ini. Bolak-balik ia pergi ke rumah Fatimah untuk menjernihkan situasi, namun ketika ia datang tidak ada satu pun keluarga Fatimah yang mau menemuinya. Akhirnya Brodin menyerah.

"Kalau caranya begini, ya mau apa lagi."

Dalam kebingungannya Brodin teringat nasehat Mbah Gondo untuk menjalankan tirakat puasa. Puasa yang dipilih adalah puasa 'mutih', puasa yang dijalankan oleh kebanyakan masyarakat Jawa.

Selama masa puasanya, setiap malam, ia menjalankan sholat Istikharah dan menyerahkan masalah jodohnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Duh Gusti Allah, hamba tidak berdaya memilih jodoh hamba, Engkau lah yang Maha Kuasa, hamba pasrah dalam kehendakMu."

Tiga hari belum ada tanda-tanda, ia melanjutkan puasanya sampai tujuh hari lagi, hingga suatu malam dalam tidurnya ia bermimpi.

Dalam mimpinya, seorang lelaki mengenakan cincin bermata hitam di jari manisnya sedang dikerumuni oleh gadis-gadis cantik. Gadis-gadis itu berebut melayaninya, membuatkan makanan dan minuman, menyuapi sampai melayani di tempat tidur.

Namun wajah lelaki itu terlihat murung, dia merasa bosan dan ingin sendiri. Lalu satu per satu gadis-gadis itu diusirnya pergi, dengan menggosok-gosok cincinnya, maka gadis-gadis itu hilang satu per satu.

Tergagap dalam mimpinya, Brodin bangun. Berusaha menerka apa makna mimpinya, namun buntu sehingga ia berusaha menerima apa yang akan terjadi.

Keesokan harinya, ketika hendak berangkat kerja di depan pintunya ada secarik kertas, dibukanya lalu dibacanya.

"Temui aku ditempat pertama kali kita bertemu. Fatimah."

Setelah minta ijin kepada atasannya, jam 10 pagi Brodin meninggalkan pekerjaannya untuk menemui Fatimah.

Warung waralaba itu masih sepi, di tempat ini, mereka pertama kali bertemu dan merajut janji. Sekarang dibangku yang sama, Fatimah duduk menantinya. Wajahnya yang ayu tersaput mendung, kelam, penuh kesedihan.

Saat Brodin datang, dia hanya mengangguk tanpa senyum, dingin.

"Ada apa Non? Kenapa jadi begini hubungan kita? Apa salahku?" Tanya Brodin pelan.

"Siapa Anggraeni, katanya Abang berjanji akan menikahinya?"

"Siapa yang bilang?"

"Sigit, kakak kandungya, teman Abang."

Jantung Brodin tersentak seperti di aliri stroom 220 volt, sehingga sesaat lidahnya menjadi kelu.

"Aduh, kenapa sigit cerita?" Batin Brodin.

"Kalau memang benar, saya tidak mau dimadu, lebih baik kita berpisah saja. Babe dan Nyak juga marah."

Brodin diam terpaku. Bayangan kemesraan dan kebahagiaannya bersama Fatimah selama ini  lenyap perlahan disapu angin prahara.

"Kalau saya bicara jujur apakah kamu percaya? Atau kamu lebih percaya pada cerita orang lain?" Tanya Brodin.

"Kalau kamu lebih percaya cerita atau omongan orang lain, maka saya terima permintaanmu, memang sebaiknya kamu menikah dengan orang lain saja. Jangan cari saya lagi!" Kata Brodin marah sambil meninggalkan Fatimah.

Pecah tangis Fatimah, ia berlari mengejar lalu memegang lengan Brodin erat-erat. Pengunjung dan karyawan warung memperhatikan mereka.

Brodin menepiskan tangan Fatimah, tapi Fatimah memegangnya lebih erat lagi sambil menangis tersedu-sedu seolah takut kehilangan.

Hati Brodin luluh melihatnya. Lalu dituntunnya Fatimah kembali ke meja mereka. Setelah reda tangisnya, Fatimah berkata, "maafkan saya Mas."

"Kamu masih menyintai saya?" Tanya Brodin dibalas dengan anggukan Fatimah.

"Kenapa kamu tidak bertanya kepadaku lebih dulu sebelum bicara dengan orang lain?"

"Rasa percaya terhadap pasangan adalah modal utama untuk hidup bersama. Butuh kepercayaan untuk bisa saling menyinta. Kalau sudah hilang rasa percaya maka tidak perlu lagi hidup bersama." Lanjut Brodin.

"Maafkan saya Mas, saya cemburu dan gelap mata."

"Saya akan cerita jika emosimu sudah reda, sekarang kita berpisah dulu, lain kali kita bicara lagi." Kata Brodin sambil beranjak dari kursinya, meninggalkan Fatimah yang luruh dalam penyesalannya.

Dua hari kemudian, Fatimah menunggu di depan kantor Brodin. Brodin segera menemuinya lalu buru-buru mengajaknya pergi sebelum teman-teman kantornya melihat. Tapi terlambat, mereka sudah melihat Fatimah.

"Suit .. Suiit.. Kenalin dong .. " Kata Juned, teman sejawat Brodin.

Mau tidak mau, akhirnya Brodin mengenalkan Fatimah kepada teman-temannya. Sebelum teman-temannya menggoda lagi, segera Fatimah diajaknya pergi.

Kali ini mereka pergi ke warung soto Betawi Pasar Minggu. Sambil makan nasi goreng kambing, Brodin bertanya, "kenapa kamu mencari saya lagi?"

"Saya mau mendengar cerita tentang Anggraeni." Jawab Fatimah.

"Kamu percaya sama saya?"
Fatimah mengangguk, kemudian Brodin menceritakan secara detail tentang Anggraeni, tentang permintaan Sigit, tentang sakitnya dan kesanggupannya menjadi istri keduanya.

"Sejujurnya saya hanya berniat menolongnya saja."

"Kalau itu kamu anggap salah, saya akan menerimanya, bukan berarti saya tidak mencintaimu lagi, tapi saya menghargai perasaanmu." Lanjut Brodin.

Fatimah diam seribu bahasa, matanya berkaca-kaca menahan luapan perasaan.

"Saya sudah bercerita apa adanya, sekarang kamu yang berhak menentukan kelanjutan hubungan kita."

Fatimah terisak pelahan.
"Kalau kamu diam saja, saya anggap kamu sudah memutuskan hubungan kita. Seperti yang sudah kamu dan keluargamu lakukan, dua minggu lebih mendiamkan dan mengabaikan saya." Kata Brodin lalu melangkah ke kasir, membayar makanannya kemudian tanpa berpaling lagi, pergi.

Fatimah tersentak kaget, ia tidak menyangka akan ditinggalkan begitu saja. Dengan histeris dia berlari mengejar Brodin. Tapi Brodin sudah hilang dari pandangannya.

Fatimah menangis tersedu-sedu di pinggir jalan.

Beberapa langkah dibalik sebatang pohon, Brodin mengamatinya. Kekerasan hatinya luluh melihat tetes-tetes air mata berlinang di pipi gadis yang dicintainya. Dihampirinya lalu didekapnya gadis itu, maka tumpahlah semua air mata, tumpahlah semua kesedihan mengalir melewati dada Brodin.

"Maafkan saya Non, saya telah membuatmu sedih." Bisik Brodin ditelinga Fatimah.

"Kalau kamu tidak setuju Abang menikahi Anggraeni, baiklah, tapi kamu jangan bersedih lagi, jangan marah lagi. Bagaimana?"

Perlahan senyum Fatimah mengembang, matanya berbinar cerah, semangat hidupnya kembali menyala. Didekapnya lelaki di hadapannya seolah tak mau dilepaskan lagi. Diciumnya pipi Brodin dengan penuh kasih sayang lalu menggelayut manja.

"Ayo saya antarkan pulang, tidak baik dilihat orang." Kata Brodin.

"Jelaskan pada Nyak dan Babe tentang Anggraeni, kalau mereka sudah mengerti, Abang akan kembali ke Pasar Minggu." Lanjut Brodin.

Setelah mengantarkan Fatimah pulang, Brodin kembali ke kostnya di Mampang.

Di depan cermin ia menatap bayangannya, mencoba menakar apa kelebihan dan kekurangannya. Seberapa tampan dirinya, seberapa gagah dirinya sehingga gadis secantik Anggraeni harus sakit keras memikirkan dirinya.

Memang tampan, memang gagah ia, tapi apakah semudah itu membuat wanita bertekuk lutut memohon cintanya?

"Pasti ada sesuatu yang ganjil dibalik semua ini." Batin Brodin.

Teringat akan mimpinya, Brodin lalu mengeluarkan cincin pemberian Mbah Gondo. Cincin yang sama, yang dikenakan oleh raja Gandarwa dalam mimpinya.

"Apakah karena cincin ini Anggraeni jatuh cinta kepadaku? Jika benar, maka cincin ini juga bisa membuatnya melupakan diriku. Akan tetapi bagaimana cara menggunakannya?" Batin Brodin.

"Saya ingin Anggraeni melupakan diriku." Katanya sambil menggosok-gosok cincin itu, meniru cara lelaki di dalam mimpinya saat menyingkirkan gadis-gadis yang mengerubutinya.

Setelah berkali-kali mencoba, Brodin menyerahkan segalanya kepada Tuhan yang menguasai hati manusia, berharap akan dikabukan keinginannya.

Seminggu telah berlalu, Brodin bermain ke rumah Sigit.

"Bagaimana kabar Anggraeni?" Tanya Brodin.

"Alhamdulillah, sudah sembuh. Sekarang ia punya seorang pacar, kakak kelasnya di kampus." Jawab Sigit.

"Syukurlah, sekarang giliran Mas Sigit menolong saya."

"Apa yang bisa saya bantu?"

"Jelaskan pada keluarga Fatimah, tentang Anggraeni dan kondisinya sekarang."

"Baik, besok malam saya ke sana."

"Alhamdulillah .. Selesai masalahku." Batin Brodin.

Malam itu Brodin lelap dalam tidurnya. Diujung tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan Mbah Gondo. Mbah Gondo cerita tentang cincin yang diberikan kepadanya.

Ternyata cincin itu adalah cincin pemikat yang dulunya milik seorang raja Gandarwa. Siapapun yang memakai cincin itu akan memiliki daya pikat yang kuat terhadap lawan jenisnya. Hanya dengan memegang tangan saja, seorang gadis akan jatuh cinta kepada pemakai cincin itu.

Rupanya cincin ini yang menjadi penyebabnya.

Cincin yang luar biasa. Sangat berbahaya jika hanya dipergunakan untuk mengumbar hawa nafsu belaka.

Prahara Cinta Sang Kelana 2

Pohon Rukem itu terletak di ujung jalan desa. Berdiri tegar sejak puluhan tahun yang lalu. Batangnya besar, tinggi menjulang dengan ranting-ranting dipenuhi daun dan buah Rukem. Di malam hari, bayangan pohon itu laksana raksasa yang berdiri hendak merengkuh rembulan.

Di bawah pohon rukem itu, sebatang rokok yang dileleti candu hitam tegak berdiri di selah-selah akarnya, terbakar dengan perlahan.

Asapnya mengepul  bergulung-gulung diterpa angin, menyebarkan wangi aroma cendana, seolah mengundang penghuni yang kasat mata untuk menampakkan diri.

Prahara Cinta Sang Kelana

Menikah?

Sudah siapkah aku menikah? Umurku masih 25 tahun, sanggupkah aku terikat sepanjang sisa hidupku dengan wanita yang sama? Yang bertambah umur akan bertambah tua dan berubah secara fisik. Bisakah aku setia? Terus punya anak, punya kewajiban mencari nafkah, mendidik dan membesarkan anak-anakku. Mampukah saya?

Pertanyaan seperti itu yang mengganggu Brodin setiap malam menjelang pernikahannya dengan Fatimah.

"Lebih baik dijalani saja." Batinnya gamang.

Sebulan sebelum pernikahannya, Brodin menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya untuk minta doa restu ibu angkatnya serta mengajaknya ke Jakarta.

Alangkah terkejutnya ketika sudah sampai dirumah ibunya, ada seorang gadis yang ikut menyambut kedatangannya. Gadis berkulit hitam manis, rambut panjang dibiarkan terurai, badannya sintal dan mukanya bulat berseri. Mutiara hitam.
gambar prahara cinta
Brodin mengenalnya.

Sebelum sempat mengutarakan sesuatu ibunya berkata, "ini Lestari, katanya dulu temanmu waktu SMA, tetangga belakang rumah kita."

"Selama ini ia sering menemani dan membantu Emak dirumah." Lanjut Emaknya.

Brodin menghampiri lalu menyalami gadis itu, tetangga dan adik kelasnya di SMA. Meskipun mereka bertetangga namun Brodin jarang bertemu dengannya.

"Bagaimana kabarnya? Terima kasih telah menemani ibuku."

"Tidak apa-apa Mas, namanya juga tetangga harus saling membantu." Jawab Lestari.

Mereka terlibat perbincangan tentang masa-masa di SMA, teman-teman mereka, guru-guru mereka. Rata-rata teman-teman SMA mereka, khususnya yang perempuan sudah menikah.

"Kapan kamu menikah?" Tanya Brodin.

Lestari diam. Emaknya Brodin yang menjawab, "dia ini belum punya pacar, sepertinya cocok sama kamu. Ketika mendengar kabar kamu akan pulang, dia Emak ajak kesini. Emak sudah cocok sama dia."

Brodin diam terpaku mendengar penuturan Emaknya.

"Aduh, Emak ini aneh-aneh saja, pakai acara menjodohkan segala."

Suasana berubah menjadi canggung bagi mereka berdua, karena kebingungan akhirnya Lestari pamit pulang.

"Siapa gadis itu Mak?"

"Itu calon Emak buat jadi istrimu."

"Aduh Maak, kenapa tidak bilang dulu sama saya?"

"Kamu selama ini tidak pernah cerita kalau sudah punya pacar, jadi Emak carikan, lebih enak punya menantu tetangga sendiri."

"Cari menantu kok yang hitam."

"Biar hitam tapi manis, seperti hitamnya kereta api banyak yang menunggu. Baik hatinya dan tidak sombong."

"Tapi saya kan belum kenal baik Mak, sekarang bukan seperti jamannya Emak dulu, harus dijodoh-jodohkan. Saya bisa cari sendiri."

"Memang kamu sudah punya calon?"

Brodin mengangguk, lalu dengan sangat hati-hati menceritakan maksud dan tujuannya pulang ke Malang. Namun apa yang ditakutkannya justru terjadi, Emaknya tidak setuju.

"Emak sudah tua, hanya satu keinginan Emak, melihatmu menikah dengan Lestari bukan dengan yang lain." Kata Emaknya tegas.

"Kalau dia jadi istri kedua bagaimana Mak?" Tanya Brodin.

"Lambemu, tidak boleh, dia harus jadi istri pertama."

Brodin semakin bertambah pusing.

Untuk menghindari kesalah-pahaman lebih lanjut dengan Emaknya, Brodin meninggalkan rumah.

"Mau kemana kamu?"

"Ke rumah Endro Mak. Lama tidak bertemu."

Endro adalah salah satu sahabat Brodin yang sering main ke rumahnya sehingga Emaknya juga mengenalnya.

"Jangan lama-lama, nanti malam Lestari sama orang tuanya mau ke sini, menemui kamu."

Brodin menepuk jidatnya.

Sampai dirumah Endro yang menemui adiknya, Dewi. Endro sedang keluar mencari makanan. Dewi sangat mengenal Brodin, karena seringnya Brodin berkunjung ke rumahnya meskipun mereka jarang berbicara. Sekarang saat Endro tidak ada, Dewi menemani Brodin yang baru datang dari Jakarta. Hanya mereka berdua di rumah itu.

"Yek opo kabare Mas?" Tanya Dewi dengan bahasa Malang yang medok.

"Apik Dik, bagaimana denganmu? Tambah cantik saja." Jawab Brodin.

Dewi tersipu.

"Kapan rabi?" Jawab Brodin, terulang lagi kebiasaannya, menanyakan kapan menikah.

"Rabi ambek sopo? Pacar ae gak nduwe, lek rabi ambek sampean gelem aku." Jawab Dewi, yang menanggapinya dengan serius.

Brodin tersedak.

"Tuhan, ini anugerah atau bencana? Mau saya menikah hanya dengan satu orang saja, kenapa dalam sehari ada dua gadis minta dinikahin?" Batin Brodin.

"Lha, kenapa kamu sampai sekarang belum punya pacar?" Tanya Brodin.

"Bagaimana mau punya pacar, kalau setiap ada cowok yang datang, Endro bikin ulah. Yang mabuk, yang berantem. Cowok yang mau mendekati saya jadi takut dan tidak berani datang lagi."

"Memang, Endro gendeng."

"Sebetulnya, dari dulu saya menyukai sampean, tapi tidak pernah punya kesempatan bicara berdua. Bagaimana mau bicara, kalau setiap datang ke rumah ini pasti dalam keadaan mabuk." Lanjut Dewi.

Brodin diam tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Dulu, ketika masih kuliah, Brodin juga menyukai Dewi, namun karena persahabatan dengan kakaknya yang membuatnya menahan diri.

"Sekarang sudah punya pacar Mas?" Tanya Dewi. Brodin mengangguk.
"Cantik? Lebih cantik dari saya?" Tanya Dewi kecewa.
"Cantik kamu Dik."
"Tapi kenapa kamu memilih dia?
"Saya minder mau memilih kamu. Pertama, kamu adik sahabat saya, kedua, saya ini hanya seorang anak gelandangan saja sedangkan kamu, anak orang kaya. Sangat jauh berbeda, sehingga saya harus tahu diri."

Mereka diam.

Terdengar deru sepeda motor memasuki halaman, tidak lama kemudian muncul Endro dengan membawa makanan.

"Hei bedes, kapan teko?"

"Isuk maeng Ndro."

Endro diam sebentar, bergantian ia melihat ke arah adiknya lalu ke arah Brodin. Ketika melihat ada bekas air mata di wajah adiknya, ia bertanya.

"Ngomong opo koen ambek Dewi?"

"Ngomongno raimu. Kok gak tobat-tobat nakale."

"Sebenarnya ada apa diantara kalian berdua?" Endro merasa bertanggung-jawab atas keadaan adiknya.

Dewi lalu menceritakan bahwa sebenarnya ia menyukai Brodin, demikian juga sebaliknya. Tapi terhalang hubungan pertemanan dan tingkat ekonomi di antara mereka.

"Kenapa kamu tidak omong dari dulu?" Tanya Endro. Dewi diam seribu bahasa.

"Bagaimana denganmu Din?"

"Saya kesini mau curhat sama kamu, masalahnya satu bulan lagi saya mau menikah tapi Emak tidak setuju."

"Masalah Dewi saya juga baru tahu sekarang, jika saya tahu dari dulu mungkin akan berbeda ceritanya. Tapi sekarang sudah tidak mungkin lagi."

Mereka diam. Endro memandang adiknya dengan rasa prihatin.

"Ini yang dinamakan jodoh. Biarpun setiap hari ketemu seperti kalian, saling suka meskipun dipendam saja pada akhirnya Tuhan yang menentukan bahwa kalian tidak berjodoh."

"Sementara Brodin di Jakarta bertemu cewek, hanya beberapa kali saja, kalau Tuhan menghendaki, mereka akan menjadi suami-istri." Lanjut Endro layaknya orang tua.

"Nggih Mbah." Jawab Brodin.

 "Sudah, jangan bersedih, nanti Mas Endro carikan suami yang lebih ganteng daripada bedes ini." Kata Endro menghibur Dewi.

Brodin tersenyum, satu masalahnya selesai. Tinggal masalah Emaknya.

"Ndro, kamu mau saya kenalkan cewek cakep?"

"Mau, kebetulan sudah satu tahun saya belum punya pacar lagi."

"Siip, nanti malam kamu datang ke rumah, Emak lagi bikin syukuran. Pakai kemeja jangan pakai kaos." Kata Brodin.

"Yoo."

"Kalau begitu saya pamit dulu."

Malam harinya, Lestari dan orangtuanya datang ke rumah Brodin. Setelah berbasa-basi, akhirnya mereka menyatakan akan membina hubungan kekeluargaan dengan keluarga Brodin. Emak Brodin dengan antusias menyambut niatan itu. Brodin hanya garuk-garuk kepala.

"Asalamu alaikum." Terdengar suara Endro memberi salam.

"Wa alaikum salam, ayo masuk, sudah ditunggu dari tadi." Jawab Brodin.

"Ini saudara angkat saya, namanya Endro, masih lajang meskipun sudah ubanan." Kata Brodin sambil mengenalkan temannya.

Setelah itu Brodin menceritakan tentang maksud dan tujuannya pulang. Lestari dan orang tuanya kelihatan kecewa sementara Emak Brodin memberangut saja.

"Kalau berkenan, biar saudara saya ini menjadi pengganti saya."

Endro berbisik di telinga Brodin, "jancuk, aku dijadikan tumbal."

Brodin nyengir saja.

"Akan saya pertimbangkan dulu, kalau begitu kami mohon pamit." Kata Bapaknya Lestari.

Setelah keluarga Lestari pergi, giliran Emak Brodin yang marah.

"Bagaimana maumu? Emak sudah susah payah mencarikan jodoh untukmu, malah kamu tolak."

"Maaf Mak, bukan saya tidak mau, tapi saya sudah mengikat perjanjian lebih dulu dengan orang Jakarta. Makanya saya pulang untuk mohon doa restunya Emak, juga mau mengajak Emak pergi ke Jakarta."

"Saya sudah besar Mak, biarkan saya memilih sendiri jalan hidup saya. Yang saya butuhkan adalah doa dan restu Emak."

Emak Brodin diam membisu.

Brodin memberi isyarat kepada Endro untuk membantu membujuk Emaknya.

"Betul kata Brodin Mak, biarkan saja dia memilih calon istrinya sendiri, cinta tidak bisa dipaksakan apalagi dia sudah menyanggupi untuk menikah." Kata Endro.

"Baiklah, Emak memberimu doa restu tapi Emak tidak bisa ikut kamu ke Jakarta." Kata Emaknya.

Brodin tahu watak Emaknya sehingga ia tidak berani memaksakan kehendaknya. Semakin tua semakin keras tabiatnya, maklum hanya Brodin harapannya, tempat bergantung di hari tuanya.

Keesokan harinya Brodin kembali ke Jakarta.

Fatimah dan keluarganya sudah menunggunya. Dengan terbata-bata Brodin menceritakan hasil kepulangannya.

"Begitu Nyak, Be, saya tidak bisa memenuhi adat atau tata cara yang harus dilakukan sesuai budaya di tanah ini. Modal saya hanya niat yang tulus untuk menjaga Fatimah sampai Tuhan memisahkan kami, selebihnya terserah keluarga di sini." Kata Brodin.

"Kalau memang adat yang harus memisahkan cinta kami, saya rela. Besok saya akan kembali ke Mampang lagi." Lanjut Brodin.

Wajah Fatimah menjadi pucat pasi mendengar kata-kata Brodin, ditubruknya kedua orang tuanya sambil menangis sedih.

"Bagaimana Be .. Kalau Fatimah tidak boleh menikah dengan Mas Brodin, mendingan Fatimah bunuh diri aje." Ancam Fatimah.

H. Badrun dan istrinya kebingungan menghadapi ancaman anak semata wayangnya.

"Baiklah, lu sudah saya anggap seperti anak laki-laki gue sendiri. Kami akan menikahkan kalian, masalah adat biar kami cari jalan keluarnye." Kata H. Badrun.

Fatimah berlari memeluk Brodin, dan bergelayut dalam pelukannya.

"Kita boleh menikah Mas." Katanya girang.

"Sudah sono, kalian keluar dulu. Nyak dan Babe mau berunding. Awas jangan berbuat macam-macam sebelum kalian menikah!"

"Baik Be."

Mereka berdua pergi ke rumah belakang, duduk di bale-bale bambu. Fatimah terlihat bahagia, matanya berbinar-binar cerah sementara tangannya tidak mau lepas memegang tangan Brodin. Sementara Brodin terduduk lelah, bertubi-tubi masalah cinta yang harus dihadapinya.

Setelah perasaan itu reda, Fatimah teringat sesuatu.

"Kemarin teman satu kontrakan di Mampang, kemari mencari Mas Brodin." Katanya.

"Ada perlu apa?"

"Penting, katanya."

"Besok saja saya temui dia, hari ini saya lelah, mau istirahat dulu di kamar. Kamu mau menemani?" Tanya Brodin menggoda.

"Ih, maunya, bisa di damprat Nyak nanti kalau ketahuan."

"Jangan sampai ketahuan."

"Abang lupa kalau kita sudah berjanji tidak akan macam-macam?"

"Habis kamu bikin gemes." Kata Brodin sambil mencubit pipi Fatimah.
Fatimah mau membalas, tapi keburu terdengar teriakan Nyaknya.

"Fatimah .. Fatimah .. Ayo masuk."

Keesokan harinya Brodin menemui Sigit.

"Ada apa Mas? Katanya kemarin mencari saya."

Sigit menarik nafas panjang.

"Salah saya ini, semua ini adalah kesalahan saya." Kata Sigit lirih.

"Kenapa Mas?"

"Saya mendapat telpon dari kampung jika Anggraeni jatuh sakit."

"Sakit apa Mas?"

"Sakit mala rindu tropi kangen."

"Ah, becanda saja."

"Beneran, kata Bapak saat dia menggigau, dia menyebut-nyebut namamu. Mau ketemu kamu."

Brodin memukul jidatnya.

"Haddeh, ada lagi masalah."

"Dia adikku satu-satunya yang paling saya sayangi Din, bisakah kamu menolong saya? Temui dia, turuti apa kemauannya."

"Kalau menemui dia saja saya bisa, tapi jika harus menuruti apa kemauannya, maaf Mas, saya tidak bisa."

"Saya sudah mengikat janji dengan Fatimah, bagaimana bisa saya harus mengikat janji lagi dengan orang lain?"

"Kamu datang saja ke Parakan, temui dia, selebihnya biar kami yang mencari jalan keluarnya."

"Baik Mas, kapan kita berangkat?"

"Kebetulan besok hari Jum'at, kita berangkat sepulang kerja saja."

Keesokan harinya, sesuai dengan rencana, mereka naik bus berangkat menuju ke Parakan, Temanggung.

Pagi-pagi sekali mereka sampai.

Setelah istrirahat dan sarapan, mereka menemui Anggraeni yang terbaring sakit di kamarnya. Badannya kurus, wajahnya pucat dan matanya terpejam.

Sigit membangunkannya dengan lembut.

"Dik .. Dik .. Ini Mas Sigit, Brodin sudah ada di sini, mau menemui kamu." Bisik Sigit.

Anggraeni membuka matanya, mencari-cari orang yang ditunggunya. Ketika melihat Brodin disampingnya, senyumnya mekar, wajahnya menjadi segar dan matanya bercahaya seolah menemukan daya kekuatan yang membuatnya bangkit dari sakitnya.

Dicobanya bangun lalu berusaha duduk, Sigit membantunya dengan penuh kasih sayang.

"Kapan datang Mas?"

"Tadi pagi Dik, sebenarnya sakit apa kamu?" Tanya Brodin. Anggraeni diam.

"Kenapa tidak pernah ke Parakan lagi?" Tanya Anggraeni.

"Banyak kesibukan dan pekerjaan yang harus diselesaikan di Jakarta."

"Kenapa tidak telpon?"

"Nomor telponnya tidak tahu, tidak dikasih sama Mas Sigit."

"Tolong tinggalkan kami berdua saja." Pinta Anggraeni kepada Sigit.

Sigit segera meninggalkan mereka berdua.

"Sejak pertemuan kita dulu, saya tidak bisa melupakan wajah Mas Brodin. Sebagai gadis yang dididik dengan adat dan budaya ketimuran, saya malu mau mengatakannya. Saya menunggumu, tapi begitu lama saya menunggu, tidak ada respon sedikitpun darimu."

"Saya menyukaimu Mas."

Lidah Brodin terasa kelu. Dipegangnya tangan Anggraeni lalu dibaringkan badannya di dada Brodin.

"Andai saja kita segera mengetahui isi hati kita dengan cepat, mungkin sudah terajut benang kasih di antara kita. Tapi sekarang saya sudah punya kekasih di Jakarta, sebulan lagi kami akan menikah." Kata Brodin.

Anggraeni menangis tersedu-sedu.

"Mungkin kita tidak berjodoh, banyak lelaki di luar sana, yang melebihi saya kelak akan  menjadi jodohmu." Lanjut Brodin.

"Andai saja kamu mau berbagi, meskipun berat, meskipun banyak halangan dan rintangan akan kita jalani."

"Saya mau Mas." Jawab Anggraeni.

Brodin tersentak mendengar jawaban itu.

"Bagaimana dengan keluarga di sini? Apakah mereka mau menerimanya?"

"Saya yang akan menjalani." Jawab Anggraeni tegas.

"Tapi tolong bicarakan baik-baik dengan Bapak dan Ibu serta Mas Sigit. Dan, bicarakan setelah saya kembali ke Jakarta, untuk menjaga perasaan mereka."

"Ya Mas."

"Ayo sekarang bangun, jangan malas-malasan terus. Mari kita jalan-jalan keluar." Ajak Brodin sambil mengangkat tubuh Anggraeni lalu membantunya berdiri.

Keluar dari kamar, orang tua Sigit menyambutnya dengan gembira. Bagi mereka, kebahagiaan anaknya lebih utama dibandingkan dengan yang lainnya.

Melihat anaknya sembuh, orangtua Sigit memeluk Brodin. Sigit ikut-ikutan ingin memeluknya juga, tapi Brodin menolaknya.

"Hii .." Kata Brodin jijik.
"Bedes kowe." Maki Sigit.

Hari itu dimanfaatkan Brodin dan Anggraeni untuk menjalin kasih, merajut benang-benang asmara dan membangun mimpi indah.

Meskipun Anggraeni tahu, Sigit tahu bahwa ada cinta lain di hati Brodin.

Cinta memang buta.


Topeng Panji Kelana

"Din, nanti malam kita makan di Ayam Goreng Mbok Berek, saya yang traktir." Ajak Sigit saat mereka bertemu di rumah kontrakan.

"Wah makan besar, tumben nraktir? Lagi banyak duit nih?" Jawab Brodin.

"Nggak juga, kepingin nraktir kamu saja."

"Mas Sigit memang baik dan pengertian, tahu saja kalau ada orang lagi cekak."

"Emang kamu lagi cekak?"

Brodin mengangguk dengan keyakinan penuh.

"Ini buat pegangan kamu." Kata Sigit sambil menyerahkan uang 100 ribu.
Brodin terpana tapi tangannya menerima uang itu.

Laskar Gondo Rukem

"Tik .. Tik .. Tik ..".

Jari-jari Brodin menari-nari di atas keyboard komputer, bak memainkan sebuah simfoni, kadang cepat, kadang lambat dan sesekali berhenti kemudian lanjut lagi mengikuti perintah yang mengalir dari kepalanya.

Waktu seolah berlalu dengan cepat, tak terasa sudah saatnya makan siang namun ia belum juga menghentikan pekerjaannya. Lagi 'mood', kalau sudah begini ia tidak mau di ganggu sampai pekerjaannya selesai.

Cincin Gondo Rukem

Cincin Gondo Rukem - Malam itu, Brodin terlelap dalam tidurnya.

Sudah tiga hari tiga malam ia tinggal dirumah Sigit, sekarang hari keempat. Belum ada tanda-tanda bahwa tuan rumah akan kembali. Rasa lelah dan rasa lega setelah berdamai dengan sang penunggu rumah membuatnya tenang dalam tidurnya. Tidak seperti malam-malam sebelumnya di rumah itu, dimana ia harus berjaga dan bersiaga menghadapi keisengan sang penunggu rumah. Malam ini telah  hilang rasa khawatir, hilang rasa takutnya. Tinggal rasa lapar yang mendera lambungnya.

Saat matahari sudah tinggi, Brodin bangun. Setelah minum air dan makan pisang yang tinggal beberapa biji lagi, ia duduk di beranda rumah. Bekal rokoknya masih cukup untuk beberapa hari lagi, ia merasa tenang. Jika tidak, mungkin ia tidak akan bertahan tinggal sendiri di tempat yang sepi, tanpa makanan dan hiburan.
cincin gondo rukem
Cincin Gondo Rukem
Sambil menyalakan rokok batin dan pikirannya kembali memberontak untuk segera meninggalkan rumah ini.

"Sudah hampir empat hari lamanya Mas Sigit pergi tapi kok belum juga kembali? Padahal libur kerja hanya tinggal dua hari saja, bagaimana ini?" Batin Brodin gamang.

Apa sebaiknya saya kembali ke Jakarta lebih dulu?

Tapi bagaimana dengan rasa solidaritas dan komitmen terhadap janji yang sudah saya buat sebelumnya? Meskipun hanya di dalam hati. Meskipun hanya pada diriku sendiri. Apakah harus saya ingkari?

Setelah menimbang beberapa lama akhirnya ia dapat menetapkan keputusan yang akan diambil.

"Baiklah saya akan bertahan sampai Mas Sigit datang dan kembali ke Jakarta bersama-sama." Tekad Brodin. 

Akhirnya pemberontakan di dalam hati dan fikirannya dapat di padamkan.

Tiba-tiba Brodin terbangun dari tempat duduknya, baru teringat jika semalam Mbah Gondo memberinya sebuah cincin batu. Segera  ia mencari di kamarnya, ditempat tidur, dibawah bantal, di seluruh sudut kamarnya, namun tidak di temukannya. Kemudian ia mencari di tempat pertemuannya dengan Mbah Gondo, tidak ketemu juga. Lelah mencari ia kembali ke beranda rumah lalu menghempaskan badannya di kursi. Terasa ada sesuatu yang mengganjal pantatnya, ketika dilihat ternyata cincin itu ada di situ.

Ditimang-timangnya cincin itu lalu di amatinya dengan teliti. Sebuah cincin dengan mban perak serta batu berwarna hitam legam. Perpaduan warna yang mencolok, hitam dan putih.

"Lumayan dapat hadiah kenang-kenangan dari Mbah Gondo." Batin Brodin.
"Terus apa kegunaannya? Apakah dengan memakai cincin ini saya bisa tahan terhadap senjata tajam, hantaman benda tumpul atau bahkan peluru? Atau saya bisa menghilang? Kalau memang betul, cocok buat bekal hidup di Jakarta." Pikir Brodin.

"Tapi kalau tidak ada manfaatnya, buat sekedar hiasan di jari tangan saja juga bagus."

Saat sibuk dengan angan-angan dan pikirannya tiba-tiba Brodin dikejutkan oleh suara seorang wanita.

"Asalamu alaikum."

"Wa alaikum salam." Jawab Brodin tergopoh-gopoh.

"Saya disuruh kakek untuk mengantarkan makanan ini buat mas." Kata Gadis itu.

Brodin melongo, sosok gadis cantik, mengenakan daster sederhana, memakai caping petani, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai telah berdiri di hadapannya.

"Mas .. Mas .."

"Eh .. Kakeknya siapa namanya Dik?"

"Eyang Gondo Rukem."

Brodin terperanjat, "kalau ini cucunya Mbah Gondo, berarti dia juga seorang mahluk halus dari golongan Gondowati."

"Tapi kok cantik begini, sedangkan kakeknya sangat menyeramkan."

"Ehm .. Ehm .. Bagaimana Mas? Mau menerima kiriman kakek?" Tanya Gadis itu.

Sejenak Brodin merasa ragu tapi cacing-cacing di dalam perutnya seolah mengajukan protes sehingga terdengar suara dari perutnya.

Brodin malu, sambil mengelus-elus perutnya ia menjawab, "mau Dik."

Diterimanya rantang makanan dari tangan gadis itu, "terima kasih, bagaimana saya mengembalikan rantang ini?"

"Besok siang saya ambil, saya mohon pamit." Jawab Gadis itu sambil berlalu pergi.

Setelah gadis itu pergi, Brodin membawa makanan itu ke dalam rumah. Dibukanya satu per satu tutup rantang itu. Isinya nasi dan sayur gudeg ditambah tempe, tahu bacem serta telor gudeg.

"Makanan kesukaan saya ini, tapi apa betul-betul bisa dimakan? Jangan-jangan nanti berubah?" Batin Brodin gamang. Lalu dilangkahinya makanan itu 3 kali, baru dicicipinya. Benar-benar makanan manusia. Setelah merasa yakin, dihabiskan tiga rantang makanan itu sekaligus.

"Alhamdulillah .." Batin Brodin.

Setelah makan, matanya terasa mengantuk maka bergegas ia menutup pintu lalu tidur.

Kira-kira jam tiga sore, ia mendengar pintu rumah diketuk. Brodin bangun lalu bergegas membuka pintu. Ternyata Sigit dan keluarganya yang datang ditambah dua orang yang belum dikenalnya. Seorang kakek dan seorang gadis.

Alangkah kagetnya ketika memandang gadis itu, sangat mirip dengan gadis yang mengantarkan makanan tadi siang. Namun dipendamnya saja perasaan itu.

"Aduh, mohon maaf sebesar-besarnya, kemarin tidak membangunkan mas lebih dulu, soalnya waktunya sangat mendesak sehingga kami harus segera berangkat." Kata Ibu Sigit.

"Tidak apa-apa Bu." Jawab Brodin sambil menyalami mereka satu per satu.

"Ini kakek Sigit, terus ini adiknya Sigit yang lagi kuliah di Yogyakarta." Kata Bapaknya Sigit mengenalkan.

Melihat tuan rumah baru datang, terlihat lelah dan sibuk maka Brodin mohon pamit kembali ke kamarnya.

Waktu makan malam, pintu kamarnya diketuk Sigit. "Ayo makan dulu." Berdua mereka makan, melihat makanan sebenarnya Brodin tanpa ragu-ragu lagi makan dengan lahapnya. Sigit hanya melongo melihatnya.

"Selama kami tinggal, kamu makan apa setiap harinya?"

"Makan pisang saja Mas. Dalam waktu tiga hari saya sudah menghabiskan hampir satu tandan pisang. Sekarang tinggal berkicaunya saja." Jawab Brodin sambil mencoba bersiul meniru suara burung.

Sigit tersenyum getir mendengar jawaban Brodin.

"Kuat kamu? Di Jakarta, sehari sudah makan 3 kali saja masih nambah makan mie rebus."

"Jelek-jelek begini, saya masih bisa menimbang mana yang baik dan mana yang kurang baik. Jika saya minta makanan sama tetangga atau saya keluar makan di warung, akan menimbulkan dampak yang kurang baik bagi keluarga Mas Sigit. Karena kita tinggal di desa dimana penduduknya memegang teguh fatwa bahwa menerima tamu adalah suatu kehormatan."

“Saya rela kelaparan demi menghormati Mas Sigit dan keluarga di sini.” Lanjut Brodin.
Sigit diam, kata-kata temannya ini menyentuh perasaannya.

"Sory Din, bukan maksud kami mau menelantarkan kamu di sini, keperluan kami sangat penting dan sangat mendadak sehingga tidak sempat ngurusin kamu."

"Tidak apa-apa Mas, saya dulu memang anak terlantar, hehehe."

Sigit tersenyum kecut.

Wis ora apa-apa mas. Sebentar saya mau melanjutkan makan dulu.”

Tidak lama kemudian, bapak, ibu dan kakeknya Sigit keluar lalu ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. Setelah basa-basi sebentar, mereka terlibat pembicaraan yang penuh rasa kekeluargaan.

Karena lelah dalam perjalanan jauh, Sigit, Bapak dan Ibuya pamit istirahat lebih dulu. Tinggal Brodin dan Kakeknya Sigit.

Bapaknya Sigit bernama Bargowo, seorang guru SMP. Orangnya ramah dan pandai bercerita, berbeda jauh dengan Sigit yang pendiam. Sedangkan Ibu Sigit adalah sosok ibu rumah tangga yang baik, garis-garis kecantikan masih membayang diwajahnya meskipun umurnya sudah setengah abad lebih.

Sedangkan Kakeknya Sigit, bernama Pramono, ayah dari bargowo, setelah naik haji beliau menjadi seorang yang dituakan di desa ini. Penduduk desa memanggilnya Kyai Pramono. Sosoknya sederhana, badannya kurus terbalut baju koko dengan peci hitam di kepalanya. Wajahnya tirus, tatapan matanya tajam berwibawa.

Tinggal mereka berdua yang ada di meja makan. Sepertinya Kyai Pramono sengaja ingin mengutarakan sesuatu kepada Brodin.

Kyai Pramono diam sejenak lalu dipandangnya Brodin dengan seksama.

"Rupanya angger sudah berkenalan dengan penunggu rumah ini." Kata Kyai Pramono.
"Betul Eyang, tiga malam berturut-turut saya tidak tidur." Jawab Brodin, lalu ia menceritakan kejadian yang pernah di alaminya dengan sang penunggu rumah ini.

"Hehehe." Kyai Pramono tertawa terkekeh mendengar cerita Brodin.

"Mohon maaf Eyang, apakah boleh kita berteman dengan mahluk-mahluk gaib seperti Mbah Gondo itu?"

"Pada dasarnya kita ini sama-sama mahluk ciptaan Tuhan, namun berbeda alam. Yang tidak boleh jika kita lebih memuja mereka dan akhirnya men-Tuhankan mereka."

Sebagai manusia kita harus berhati-hati jika berhubungan dengan mereka, anggap mereka sebagai sesama mahluk Tuhan yang butuh perhatian, butuh kasih sayang dan rasa hormat.

Brodin manggut-manggut.

"Saya diberi hadiah sebuah cincin oleh Mbah Gondo, apa kegunaannya Eyang?" Tanya Brodin sambil menunjukkan cincin itu.

"Hmm .. Rupanya kalian sudah akrab." Gumam Kyai Pramono sambil mengamati cincin itu.

"Pakai saja, nanti kamu akan tahu dengan sendirinya, apa kegunaannya. Baiklah, saya mau istirahat dulu, lain kali kalau berjodoh kita akan bertemu lagi."

"Sebentar Eyang, siang tadi saya mendapat kiriman makanan, yang mengantar mirip sekali dengan adiknya Mas Sigit."

"Oh begitu, temanmu yang tinggal di pohon Rukem  itu bisa merubah wujud sesuai keinginannya. Bisa jadi siapa saja yang pernah dilihatnya."

"Baik, terima kasih Eyang."

Brodin kembali ke kamarnya.

Keesokan harinya, Brodin diajak Sigit berjalan-jalan mengunjungi Curug Lawe. Disebut dengan Curug Lawe karena jatuhnya air terjun ini mengesankan untaian benang “lawe” yang sangat halus dan berwarna putih. Kata Lawe itu sendiri dalam bahasa Jawa berarti benang-benang halus.

Perjalanan menuju air terjun itu lumayan jauh, mereka berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang sedikit becek karena semalam hujan.

Empat hari terkungkung di rumah, membuat Brodin sangat menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan menuju air terjun. Hijaunya dedaunan membuat matanya segar, suara kicau burung dan aroma tanah tersiram air hujan membuatnya merasa menyatu dengan alam.

Satu jam mereka berjalan, sampailah mereka di Curug Lawe. Mereka duduk di atas bongkahan batu sambil menikmati pemandangan indah dihadapannya. Deru suara air jatuh, percikan air dan suara angin mendesis terdengar harmonis. Sesuai dengan namanya percikan air terjun ini seperti benang-benang halus yang di pintal oleh tangan-tangan halus. Sungguh indah.

Puas menikmati indahnya pemandangan Curug Lawe mereka memutuskan untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang Brodin sengaja melambatkan langkah kakinya sehingga tertinggal beberapa langkah di belakang Sigit, ia meraba-raba kantong celananya mencari cincinnya. Ia takut cincin itu akan hilang jika ditinggalkan di rumah. Setelah ketemu coba dikenakannya di jari manisnya, lalu berlari mengejar Sigit. Setelah dekat ditepuknya punggung Sigit.

“Buk..”

Sigit berhenti, matanya memandang berkeliling, mencari-cari siapa yang menepuk punggungnya. Ia tidak melihat orang lain di sekitarnya. Ia menduga ada mahluk gaib yang mengganggunya sehingga ia mempercepat langkahnya.

Brodin mengejarnya lalu menepuk kembali bahu Sigit sambil berkata, “Mas tunggu..”

Sigit semakin kebingungan, “tidak ada orang tapi sepertinya terdengar suara. Seperti suara Brodin. Apa Brodin lagi kumat isengnya terus menggangguku. Tapi dimana anak itu? ”

Sigit Berusaha mencari, tetapi tidak menemukan Brodin di belakangnya.

Brodin terkejut melihatnya, “Masak saya sedekat ini ia tidak melihatnya? Apakah karena saya mengenakan cincin ini sehingga ia tidak bisa melihatku? Saya coba sekali lagi.”

Ditepuknya lagi bahu Sigit. Sigit menoleh lalu berlari. Brodin mengejarnya dengan hati berbunga-bunga sambil melepaskan cincin di jarinya.

“Sekarang saya tahu manfaat cincin ini.” Batinnya girang.

Pulang jalan-jalan, mereka membersihkan diri lalu duduk di beranda rumah. Segelas kopi jahe sudah tersaji, minuman yang sudah lama dirindukannya. Hari ini, Brodin merasakan hidupnya kembali normal.

Sambil menyalakan rokoknya, Brodin duduk di salah satu kursi, Sigit duduk di seberangnya.
“Eyang Pramono mana Mas?”

“Eyang dijemput pagi-pagi sekali menuju Wonosobo untuk ceramah agama.”

Brodin diam sejenak.

“Kenapa tadi, waktu pulang, Mas berlari seperti dikejar setan?”

“Ada yang menepuk-nepuk punggung dan bahuku tapi tidak ada orangnya, lebih baik saya lari saja.”

Brodin ragu-ragu, mau berterus-terang atau merahasiakannya. “Ah, lebih baik ia tidak tahu daripada nanti aku diceramahin macam-macam.”

Lalu Brodin mengalihkan pembicaraan.

"Mas, adiknya sudah punya pacar atau belum?"

"Buat apa kamu tanya?"

"Saya suka melihatnya, cantik dan lemah lembut."

"Adik saya orangnya baik, tapi kalau pacaran sama kamu saya tidak setuju."

“Memangnya kenapa? Apakah saya kurang gagah?”

“Kamu memang gagah tapi kamu suka mabuk-mabukan dan tidak bisa menyimpan uang. Mau kamu kasih makan apa adikku nanti?

"Hehehe saya akan berubah Mas."

"Tapi gak enak Din, seandainya kamu jadi iparku bagaimana hubungan kita? Pasti kaku, jika kalian bertengkar saya pasti akan ikut campur."

Brodin diam, kata-kata Sigit benar.

"Tapi kalau sama-sama suka, boleh mas?"

"Terserah adikku saja."

"Baiklah kalau begitu. Tapi kenalin dulu dong." Pinta Brodin.

Sigit masuk ke dalam rumah lalu kembali lagi bersama adiknya.

"Ini teman satu kontrakan saya di Jakarta, mau kenalan sama kamu."

Brodin segera mengulurkan tangannya mengajak berjabatan tangan.

"Brodin, Broto Diningrat."

"Anggraeni."

Sejenak tangan mereka berpaut, getar-getar rasa mengalir ke pembuluh darah mereka, tatapan mata beradu membuat jantung berdetak lebih cepat. Bak Gayung bersambut, Brodin merasakan respon itu. Brodin seolah enggan melepaskan tangan halus itu, tapi Sigit segera menepiskan kedua tangan itu.

"Sudah jangan lama-lama." Kata Sigit sambil memberi isyarat kepada adiknya untuk segera masuk kembali.

Brodin merengut, "telek."

Brodin sekarang merasa betah tinggal dirumah Sigit, makanan tersedia dan ada harapan mendapatkan seorang kekasih meskipun masih belum jelas.

"Ini baru refreshing." Batinnya.

Sayang sekali waktu liburannya sudah habis dan Brodin harus kembali ke Jakarta, meninggalkan rumah Sigit, meninggalkan desa Parakan, meninggalkan kenangannya dengan Mbah Gondo serta meninggalkan Anggraeni. Gadis yang menarik hatinya.

Kembali menjalankan rutinitas kerja dan kembali merasakan pengapnya udara Jakarta.