Perempuan Bergaun Putih, Arwah yang Terlupakan

Perempuan Bergaun Putih

Arwah yang Terlupakan 


Malam ini adalah kesempatan terakhir bagi Brodin untuk menyelesaikan tugas kuliahnya, besok harus segera dikumpulkan.  Permasalahannya adalah ia tidak memiliki komputer meskipun kuliah di jurusan Manajemen Informatika yang mengharuskan mahasiswanya setiap hari bergelut dengan komputer.

Pada era tahun 1980-an, komputer yang digunakan di kampusnya masih Pentium 1 dengan monitor hijau putih dan media penyimpanan menggunakan diskette 3.5 atau 5 inch. Meskipun begitu, harga sebuah komputer kala itu belum terjangkau bagi Brodin, sehingga ia harus memanfaatkan laboratorium komputer untuk menyelesaikan tugasnya.

Sialnya, pada hari itu, jadwal praktikum tidak ada yang kosong sama sekali, mulai jam 8 pagi sampai jam 9 malam sudah terisi. Maklum, sudah mendekati akhir semester. Biasanya masih ada satu atau dua jam dimana laboratorium kosong sehingga ia dapat menggunakan salah satu komputernya. Hari ini, terpaksa ia harus menunggu sampai praktikum selesai.

Tepat pukul 9 malam praktikum berakhir, setelah minta ijin kepada petugas laboratorium, Brodin diperkenankan menggunakan salah satu komputer di laboratorium yang berada di lantai dua gedung utama. Laboratorium komputer itu memiliki 12 unit komputer yang diatur dalam tiga kelompok, masing-masing empat unit komputer. Brodin memilih komputer paling belakang, komputer yang sering ia gunakan saat praktikum.

Setelah mempersiapkan peraltannya, mulailah Brodin mengerjakan tugasnya. Karena tenggat waktunya sudah mendesak, maka dengan konsentrasi penuh, ia berusaha menyelesaikannya.

Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat, hari sudah tengah malam. Namun belum selesai juga tugasnya, Brodin menjadi gelisah. Teman-temannya sudah pulang semua, tinggal petugas keamanan yang meringkuk di posnya sambil mendengarkan siaran radio.

Permasalahan baru muncul yang harus segera ia selesaikan.

Bagaimana caranya pulang? Pada jam begini, semua angkutan sudah tidak ada yang melewati kampus ini lagi. Terpaksa malam ini, ia harus menginap di kampus ini. Tapi dimana? Semua ruangan sudah dikunci, hanya laboratorium ini yang tersisa.

Brodin mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari tempat untuk merebahkan badannya. Tapi ruangan laboratorium ini sudah penuh dengan komputer, printer dan meja yang menyisakan sedikit jalan.

"Sudahlah di jalan ini tidak apa-apa, yang penting dapat meluruskan badan. Besok setelah mengumpulkan tugas, saya mau tidur seharian dirumah." Batin Brodin sambil meneruskan mengerjakan tugasnya.

Ketika tenggelam dalam konsentrasinya, tiba-tiba printer yang ada di sebelahnya berbunyi.

"Kreek .. Kreek .. Krieek .."

Brodin menoleh sebentar lalu kembali mengerjakan tugasnya, dalam benaknya, saat itu hari masih siang sehingga dianggapnya wajar jika orang lain yang menyalakan printer.

Selang beberapa menit kemudian, komputer di sebelah kirinya menyala, tampak sebuah tulisan di layar monitor.

"Lembur Mas?"
"Ya, besok harus dikumpulkan." Jawab Brodin acuh.

Merasa diacuhkan, sang penanya menuliskan lagi sebuah pesan di monitor.
"Makanya kalau dikasih tugas, buruan dikerjakan! Sudah mepet baru kebingungan."

Brodin melirik ke arah monitor itu, hatinya sedikit kesal tapi ia acuhkan saja. Tugasnya sebentar lagi selesai, hanya kurang beberapa tahap saja sehingga ia lebih mencurahkan konsentrasinya.

Tiba-tiba printer dan komputer di sebelah kanan dan kirinya menyala bersamaan. Suara bisingnya mengganggu  Brodin, untungnya tugasnya sudah selesai, segera ia menyimpannya ke dalam diskette yang dibawanya. Kemudian ia menoleh ke sebelah kiri dan kanannya, alangkah terkejutnya ketika tidak ada seorang pun di ruangan itu.

"Siapa yang menyalakan komputer dan printer tadi?" Batinnya.

Bulu kuduknya merinding, perasaannya menjadi tegang dan gelisah. Segera ia mematikan komputer lalu bergegas keluar ruangan laboratorium.

Belum sempat ia berdiri dari tempat duduknya, lampu ruangan tiba-tiba padam, aroma bunga kenanga menyeruak memenuhi ruangan. Brodin menjadi panik, pandangan matanya berusaha meyesuaikan dengan kegelapan dan aroma yang sangat dikenalnya ketika akan bertemu mahluk gaib jenis tertentu membuat bulu kuduknya meremang.

"Aduh, ketemu hantu lagi." Batinnya.

Dalam gelap ia meraba-raba, mencoba mencari jalan menuju pintu ruangan. Darahnya terkesiap ketika tangannya memegang suatu benda berkulit tapi dinginnya seperti es. Ia merasa penasaran, dirabanya lagi, benda itu mencengkeram lengannya, ternyata sebuah tangan. Disurukkan mukanya ke depan, mau melihat siapakah yang punya tangan itu.

Jantungnya terasa copot, serasa putus nyalinya ketika di hadapannya telah berdiri seorang perempuan bergaun putih. Wajahnya pucat pasi, berambut panjang, matanya sayu, sebagian rambutnya menutupi wajahnya. Kedua tangannya memegang lengan Brodin dengan erat, seolah menahannya agar tidak lari.

gambar perempuan bergaun putih
Baca Juga :

Brodin diam terpaku, nafasnya menggemuruh, aliran darahnya menjadi cepat dan jantungnya berdegup dengan kencang. Belum pernah ia mengalami kejadian seperti ini, bersentuhan langsung dengan hantu.

Sesaat, hilang kendali dirinya. Rasa takut  begitu menguasai dirinya, tulang belulangnya seolah tercabut dari sendinya sehingga tubuhnya terkulai tak berdaya.

Dalam ketidak-berdayaannya, bayangan hantu-hantu di pemakaman gang Tujuh, melintas kembali satu per satu dalam ingatannya, arwah perempuan di bawah pohon, pocong, 'ndas gelundung' dan yang terakhir muncul adalah wajah Eyang Sapu. Bayangan-bayangan itu semakin menambah rasa takutnya, namum ketika wajah Eyang Sapu muncul, timbul harapan dihatinya. Selama masa pengembaraannya di pemakaman gang tujuh, Eyang Sapu lah yang melindungi dirinya.

Brodin berkata dalam hati, "Mbah, cucumu dalam bahaya."

Entah darimana datangnya, Brodin merasa mendapatkan kekuatan yang mengalir melalui peredaran darahnya. Rasa takutnya perlahan hilang.

Sementara wanita itu terkejut seolah ada kekuatan lain melawannya sehingga dengan mudah Brodin melepaskan tangannya, lalu ia berlari menuju pintu, membukanya dan menutupnya kembali. Saat pintu tertutup, lampu ruangan itu menyala kembali, dan sayup-sayup terdengar suara wanita menangis tersedu-sedu.

Setelah mengunci pintu, Brodin dengan nafas terengah-engah dan jantung berdebar-debar  meninggalkan ruangan itu.

Brodin bingung mau pergi kemana, harapannya hanya menemui Pak Pardi, petugas keamanan kampus.

Sampai di pos satpam, Pak Pardi tidak ada sementara ruangan pos berantakan, seperti telah terjadi sesuatu.

"Kemana Pak Pardi? Kok, pos satpam dibiarkan kosong." Batin Brodin sambil merapikan barang-barang yang berserakan di lantai.

Setelah ruangan rapi kembali, Brodin duduk di kursi satpam, menunggu Pak Pardi kembali. Waktu sudah menunjukkan jam setengah dua malam namun Pak Pardi belum juga kembali. Brodin menjadi gelisah, rasa takutnya belum hilang. Bayangan perempuan bergaun putih itu masih lekat dalam ingatannya. Timbul rasa khawatir apabila hantu itu akan menyusulnya. Tujuannya pergi ke pos satpam ini untuk mencari teman agar rasa takutnya sedikit berkurang, namun orang yang dicarinya malah menghilang.

Dari persawahan di depan pos satpam, suara jangkrik dan katak bersaut-sautan, sayup-sayup terdengar suara anjing melolong membuat suasana menjadi lebih mencekam. Kampus ini jauh dari pemukiman penduduk sehingga jika terjadi sesuatu sulit mencari pertolongan.

Brodin duduk membatu di kursi satpam, matanya nyalang mengawasi lingkungan sekitarnya. Hatinya terkesiap ketika dari kejauhan nampak titik hitam dan putih yang berjalan ke arahnya. Semakin lama semakin mendekat, dan berhenti di pos satpam.

"Selamat malam.." Kata sosok berbaju putih dengan logat asing. Di belakangnya, berdiri sosok hitam, tinggi besar. Hanya terlihat matanya yang putih memancarkan sinar menakutkan.

"Selamat malam Romo .." Jawab Brodin ketika melihat dengan jelas sosok yang menegurnya.

"Malam-malam begini belum tidur?"
"Belum Romo."
"Tidak takut sendirian di sini? Kata orang, di sini banyak hantunya."
"Sebetulnya takut, tapi mau pulang sudah tidak ada angkutan lagi. Romo sendiri mau kemana?"

Suara anjing melolong memecah kesunyian malam.

"Boleh saya beritahu sebuah rahasia?"
Brodin mengangguk.

"Saya berdua ini sebetulnya adalah hantu gentayangan yang mau menghantui orang seperti kamu. Ha.. Ha.. Ha.." Bisik sosok itu sambil menunjukkan wujud aslinya.

Tubuh tanpa daging, hanya tulang belulang dengan tengkorak kepala yang hampir lepas dari sendinya. Jerangkong. Sementara sosok hitam dibelakangnya melepaskan kepalanya lalu ditenteng mendekati Brodin.

Brodin melompat mundur saking kagetnya. Badannya seperti terpaku di tanah, tidak bisa bergerak. Wajahnya pucat, matanya melotot dan jantungnya berdegup dengan kencang.

Kedua hantu itu seolah menemukan permainan baru, mereka tertawa bergelak menyaksikan korbannya ketakutan.

Di saat seperti ini, sekali lagi, bayangan wajah Eyang Sapu melintas dalam benak Brodin. Disebutnya nama itu, “Eyang Sapu, tolong cucumu.”

Kedua hantu itu terkejut seolah mendengar nama yang ditakutinya, mereka menghentikan tawanya,  melangkah mundur lalu menjauhi pintu satpam dan menjauhi Brodin.

Sementara itu, seolah mendapatkan kekuatan baru, Brodin berlari meninggalkan pos satpam sambil berteriak minta tolong. Di belakangnya, kedua hantu itu tertawa getir, tawa yang bermakna ganda, takut dan sedih.

Brodin berlari mengambil jalan memutar mengelilingi kampusnya lalu berhenti di kantin kemudian duduk mengatur nafasnya. Matanya menoleh kesana kemari, takut apabila kedua hantu itu mengejarnya.

"Apes betul aku hari ini."

Setelah merasa kedua hantu itu tidak mengejarnya lagi, ia merasa sedikit tenang. Tanpa ia sadari, tangannya merogoh kantong celananya lalu mengeluarkan sesuatu. Sebuah kunci, kunci ruang senat. Kebetulan letaknya di sebelah kantin dan kebetulan pula ia yang memegang kunci ruangan itu.

Segera Brodin masuk ruang senat lalu menyalakan lampu ruangan. Ruangan itu berantakan, Brodin membersihkannya lalu mengatur tempat untuk meluruskan badannya. Beralaskan spanduk-spanduk yang sudah tidak terpakai, ia merebahkan badannya mencoba mengendurkan syaraf dan ketegangannya.

Namun saat ia merbahkan badannya, ia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan dan mengawasi gerak-geriknya sehingga ia bangun lalu berkeliling mencari tahu. Tidak ada apa pun dan siapa pun di ruangan itu, hanya meja dan kursi yang diam membisu.

Brodin mematikan lampu lalu merebahkan badannya lagi. Perasaan itu bertambah kuat, ia yakin ada seseorang yang sedang mengawasinya. Brodin bangun lalu menyalakan lampu kembali, tidak ada siapa-siapa.

Dimatikan lagi lampu ruangan itu sambil berkata, "saya ini orang susah, mbok jangan diganggu." Lalu ia merebahkan badannya di lantai. Perasaanya menjadi sedikit lebih tenang, karena ketegangan dan lelah berlari, sebentar saja ia sudah terlelap dalam tidurnya.

Dalam tidurnya ia bermimpi, bertemu dengan seorang wanita bergaun putih. Wanita itu bercerita. Ternyata dia adalah anak pemilik rumah yang sekarang menjadi kampusnya, keluarga misionari dari Belanda.

Saat meletusnya peristiwa 1965, keluarganya menjadi korban keganasan oknum-oknum yang mengatasnamakan ideologi. Saat itu usianya masih lima tahun. Dia menyaksikan kedua orangtuanya dibunuh dan jasadnya dikubur dalam satu lubang. Sedangkan dia sendiri bersembunyi  lalu terjebak di dalam ruangan yang sekarang menjadi laboratorium komputer. Karena ketakutan dan kengerian yang teramat sangat serta tidak ada orang yang menolongnya, akhirnya dia meninggal di ruangan itu.

Arwahnya penasaran sehingga mengganggu setiap penghuni rumahnya. Dia berharap ada orang yang mau memperhatikan atau bisa menyempurnakan arwahnya. Dia sudah lelah bergentayangan.

Brodin terharu mendengar cerita wanita itu, ia berjanji akan menceritakannya kepada pengelolah kampus tentang keberadaannya.

"Dok .. Dok .. Dok .." Suara pintu diketuk. Brodin terbangun lalu membuka pintu, ternyata teman-temannya sudah menunggunya di depan pintu mengajak minum kopi di kantin.

Saat mereka sedang asik ngobrol, muncul Pak Pardi dengan baju seragam satpam berlepotan lumpur.
“Din, saya mau bicara berdua denganmu.” Kata Pak Pardi sambil melangkah meninggalkan kantin. Brodin beranjak lalu mengikuti langkah Pak Pardi.
“Ada apa Pak?”

“Semalam kamu ada di laboratorium komputer?”

“Iya Pak, kenapa? Apakah ada barang yang hilang?”

“Tidak ada, tapi semalam saya diteror hantu, sampai-sampai saya jatuh ke sawah.”

"Semalam saya mencari Pak Pardi ke pos satpam tapi tidak ada, kemudian saya duduk disana selanjutnya saya didatangi jerangkong dan manusia tanpa kepala."

"Hantu itu yang menakuti saya."  Tukas Pak Pardi.

Brodin lalu menceritakan kejadian yang dialaminya semalam, tidak lupa menyampaikan pesan dari wanita bergaun putih yang ditemui dalam mimpinya.

"Coba Pak Pardi berbicara dengan pengelolah kampus ini, bikin selamatan dan panggil orang 'pintar', agar arwah-arwah di lingkungan ini tidak mengganggu kita lagi."

“Baik, nanti saya sampaikan kepada bapak Dekan.” Kata Pak Pardi.

“Semoga arwah-arwah di lingkungan kampus ini menjadi tenang.” Batin Brodin.

Nabi Muhamad Orang Jawa?

Nabi Muhamad Orang Jawa?

gambar kaligrafi muhamad

Nabi Muhamad ternyata adalah orang Jawa.

Benar kah?

Benar, menurut pengakuan Kang Bayu seorang yang memiliki banyak profesi, direktur sebuah perusahaan dan pedagang batu akik, saat mereka bercengkerama di depan kampus LP3I.

Malam itu, Yanto, Anto, Brodin, Bayu dan Anang sedang berbincang tentang berbagai hal, dari mulai bisnis sampai ke ranah spiritual. Sore hari mereka membahas masalah bisnis, masalah keduniawian. Beranjak malam perbincangan mereka beralih ke masalah spiritual.

Baca Juga : Kisah Hidup Nabi Muhamad  : Teladan Yang Utama

"Masalah dunia sudah selesai, sekarang mari kita bicara tentang Akhirat atau masalah spiritual." Kata Brodin.

"Saya mau tanya Kang Bayu, apa pengertian Bismillah menurut pendapat sampean?" Tanya Anto.

Bayu diam sebentar, dihisap rokoknya perlahan lalu dihembuskan membentuk bulatan-bulatan asap.

"Menurut saya, Tuhan pernah berkata dalam salah satu ayatnya, 'Takkan sehelai daun yang gugur ke muka bumi ini tanpa kehendakNya.' Berarti semua kejadian atau perbuatan seluruh mahluk ciptaanNya di muka bumi ini atau di seluruh alam semesta ini adalah kehendakNya. Tanpa ijin beliau, tidak akan terjadi."

"Makanya kita harus selalu menyadari bahwa sesungguhnya manusia itu tidak bisa berbuat apa-apa, hanya Tuhan, Allah, Gusti Allah atau Gusti Pangeran yang mampu melakukan apa pun. Sehingga sebagai mahluk kita selalu mengucap basmalah sebelum melakukan sesuatu." Lanjut Bayu.

Anto dan Yanto  manggut-manggut mendengar penjelasan Bayu. Sementara Brodin menguap dan Anang tertunduk memikirkan sesuatu.

"Wuihh .. Lama tidak bertemu, semakin dalam saja pemikirannya." Seloroh Brodin. Bayu tersenyum simpul.

Kemudian Bayu bercerita bahwa dulu dia pernah berguru kepada salah seorang Kyai sepuh, Kyai Fathur Rahman dari Banyuwangi. Bagaimana dia mulai belajar sampai dia menyatakan keinginannya untuk "uzlah", namun sang Kyai melarangnya.

"Sebaiknya kamu menikah dulu untuk melengkapi kewajibanmu sebelum kamu menikah secara 'hakiki'." Kata Kyai Fathur Rahman.

Bayu menurut, namun setelah menikah dan mempunyai seorang anak, keinginan untuk uzlah sudah banyak berkurang kadarnya. Bagaimana anak istrinya kalau ditinggal? Ketika hal itu disampaikan kepada Kyai Fathur Rahman, sang Kyai berkata, "saya sudah menduganya. Sebetulnya kamu masih bujangan atau sudah menikah, Tuhan akan selalu mencukupi kebutuhan semua mahluknya. Namun kebanyakan manusia merasa ragu."

Bayu tertunduk malu.

"Kenapa harus uzlah, Kang?" Tanya Anto.

"Dalam menjalankan spiritual, uzlah adalah salah satu cara mendekatkan diri yang paling efektif, seperti yang pernah dilakukan Nabi Muhamad dulu. Tanpa itu, hanya omong kosong belaka."

"Saya berfikir, Nabi Muhamad itu adalah orang Jawa. Kenapa? Karena yang biasa menyendiri di dalam gua dan bertapa adalah orang Jawa. Jadi Nabi Muhamad adalah orang Jawa yang merantau ke jazirah Arab." Lanjut Bayu.

"Saya setuju." Sahut Anang.

"Bukannya Nabi Muhamad itu orang Arab?" Sergah Brodin.

"Coba bayangkan! Waktu itu orang-orang Arab masih bodoh, jahiliah. Punya anak perempuan merupakan aib bagi mereka sehingga anak-anak perempuan mereka dikubur hidup-hidup. Apakah orang-orang seperti ini dijadikan Nabi?" Jawab Bayu.

"Saya setuju, coba kalau kita lihat tayangan televisi yang menyiarkan acara makan bangsawan Arab. Mereka, para pangeran Arab, makan seperti orang kelaparan, tangan kiri pegang paha ayam dan tangan kanan menyuap makanan. Sementara Nabi Muhamad makan hanya menggunakan tiga jarinya saja." Kata Anang sambil mencontohkan cara makan Nabi menggunakan tiga jari.

"Kalau meniru Nabi, repotnya, kalau kita sedang makan soto. Bagaimana menghabiskan kuahnya?" Sahut Bayu.

Anto, Yanto dan lain-lain meskipun bingung, mereka tetap manggut-manggut.

"Jangan-jangan Nabi Muhamad adalah Eyangku yang hilang dulu." Kata Brodin disambut suara, "huu,." koor teman-temannya.

Saking cintanya Bayu dan teman-temannya kepada Nabi Muhamad sehingga mereka merasa bangga kalau Nabinya berasal dari daerahnya, kelompoknya dan leluhurnya.

Saya teringat obrolan beberapa tahun yang lampau dengan Mbah Tarjo, salah seorang kakek penjual dawet yang mangkal di depan rumah, seorang Marhaen.

"Bill Clinton itu adalah salah seorang anak Bung Karno. Kenapa? Karena saat pergi ke Amerika, Bung Karno yang terkenal flamboyan, menikah dengan putri Amerika." Kata Mbah Tarjo dengan bangganya.

Saya hanya bisa mengamini saja, tapi jika Nabi Muhamad adalah orang Jawa, pasti berasal dari kota Malang. Kenapa? Karena orang Malang mempunyai ciri khas suka membolak-balik kalimat, bahasa prokem yang mirip bahasa Arab, dikenal dengan bahasa 'walikan'.

"Benar." Kata Brodin yang berasal dari Malang.

"Muhamad yang saya kenal, salah satunya adalah Mohamad Sukri, juragan besi tua, kemudian Muhamad Jupri pemain catur dari Pandaan." Lanjut Brodin.

???

Lailatul Qodar, Malam Seribu Bulan

Lailatul Qodar

Malam Lailatul Qodar atau malam seribu bulan adalah malam yang paling ditunggu oleh seluruh umat Islam yang menjalankan puasa. Biasanya terjadi pada malam-malam ganjil dimulai pada malam ke 17 bulan puasa.  Pada malam itu semua hajat akan dikabulkan, semua keinginan akan dipenuhi dan akan diangkat derajat umat yang menemukannya.

Kenapa dimulai pada malam ke 17?  Karena setelah menjalankan puasa secara berturut-turut sampai hari ke 16, secara spiritual  nafsu manusia sudah mulai teredam sehingga hati nurani mulai dibersihkan akhirnya dengan hati yang bersih akan mampu menerima tanda-tanda kebesaran Tuhan, rahmat Tuhan dan hidayah Tuhan.

Adakah yang sudah menemukan Lailatul Qodar? Pada setiap ramadhan, Tuhan memberikannya pada mereka yang dikehendakiNya. Beberapa kisah ini membuktikan kebenarannya.

Seorang Ibu berstatus single parent, memiliki dua orang anak, karena kondisi ekonominya sedang terjepit, setiap malam ia melaksanakan sholat malam, terlebih lagi pada bulan Ramadhan. Suatu malam ketika ia hendak ber-wudhlu, saat menyalakan kran air, air yang seharusnya jatuh kebawah ternyata berbalik arah naik ke atas. Melihat kejadian itu, sang ibu merasa takjub, untung dia ingat saat ini adalah bulan Ramadhan sehingga dia langsung berdoa memohon rejeki dan kesejahteraan hidup termasuk anak-anaknya.

Alhamdulillah, sekarang hidupnya bersama anak-anaknya dalam keadaan sejahtera.

Ada lagi kisah seorang Preman terminal yang mendapatkan berkah Lailatul Qodar. Kejadiannya saat malam ke 21 bulan Ramadhan. Saat itu pikirannya kusut dan bingung, lebaran sudah dekat namun sepeser uang pun ia tidak punya, hanya sebungkus rokok pemberian teman saja. Saat tengah malam lewat dia ingat kepada Tuhan lalu berdoa 'Tuhan, kalau engkau memang ada, tunjukkan kebesaranMu!' 

Secara bersamaan asap rokok yang dihembuskan naik tegak lurus ke langit. Entah itu suatu pertanda bahwa doanya diterima dan dia mendapat berkah Lailatul Qodar, dia tidak tahu. Setelah kejadian itu, kehidupan Preman tersebut berubah. Dia bertobat dan mencari pekerjaan yang lain. Sekarang Preman tersebut menjadi pengusaha angkutan di kotanya.

Mengapa Tuhan memberikan hidayahnya kepada Preman itu? Preman itu tidak puasa, tidak menjalankan sholat lima waktu bahkan melanggar larangan Agama. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang terhadap semua mahluknya, dan Tuhan Maha Tahu. 

Kalau anda mau tahu alasannya, tanyakan langsung kepada Tuhan ..

Begitulah cerita beberapa orang yang pernah menerima berkah Lailatul Qodar, tentunya masih banyak kisah-kisah yg lain.

Maukah anda mendapatkan berkah itu? Kalau mau siapkan hati dan pasrahkan segalanya kepada Tuhan, arahkan hati hanya kepadaNya. Selebihnya Wallahu Alam ..

Balikpapan, 17 Ramadhan

Senandung Tembang Kematian

Langit yang cerah perlahan menjadi gelap, hujan pun turun dengan perlahan membasahi bumi.

Pemakaman gang tujuh basah oleh hujan. Jalan tanah bertabur batu di sepanjang pemakaman menjadi becek dan licin. Bau tanah tersiram air, menguap memenuhi udara. Langit menjadi gelap, bintang dan rembulan tertutup awan.

Di malam seperti ini, orang lebih memilih berdiam diri di dalam rumah. Menonton televisi, mendengarkan radio, bercengkerama dengan keluarga atau menyembunyikan diri di balik selimut bercanda dengan mimpi. Bagi sepasang pengantin baru, suasana seperti ini yang membuat malam pengantin mereka menjadi semakin mesra.

Jalan sepanjang pemakaman ini lenggang, sunyi senyap, tak seorang warga di sekitar pemakaman yang terlihat, biasanya satu atau dua orang masih berada di beranda rumah mereka. Namun, bagi orang yang berniat atau memiliki rencana jahat, malam ini adalah malam yang tepat.

Sunan Boto Putih : Penyebar Agama Islam Dari Blambangan

gambar ulama
Sunan Botoputih, nama yang jarang dikenal orang ini sebenarnya adalah salah seorang penyebar agama Islam yang makamnya berada di Dukuh Boto Putih, Surabaya, sebelah timur komplek Sunan Ampel, melintasi sungai Pegirian.

Sunan Botoputih disebut juga Ki Ageng Brondong, nama aslinya adalah Pangeran Lanang Dangiran. Disebut Ki Ageng Brondong, karena dahulu menurut cerita, dia adalah  seorang pertapa yang sakti mandraguna, yang masih menganut Agama Hindu berasal dari Blambangan. Lalu bertemu Sunan Bonang di daerah Brondong, Tuban.

Baca Juga : Asal-usul Kota Surabaya

Asal-Usul Pangeran Lanang Dangiran


Pangeran Pandan Salar yang bergelar Bhrawijaya IV, Raja Kerajaan Majapahit, menurunkan Pangeran Bondan Kedjawan yang di beri kekuasaan di Tegal Wangi. Pangeran Bondan Kedjawan menurunkan Wongsonegoro yang menjadi Bupati Pasuruan dengan sebutan Nitinegoro dan menurunkan Kromowidjoyo sampai pada Lembu Niroto yang diutus menguasai daerah Blambangan dan menurunkan Pangeran Kedawung.


Pangeran Kedawung, disebut juga Sunan Tawang Alun adalah raja di Blambangan atau dikatakan juga Bilumbangan. Beliau mempunyai 5 orang anak dan diantaranya ialah pangeran Lanang Dangiran.

Kisah Sunan Boto Putih

Suatu ketika saat sedang bertapa di dasar laut, ada pusaran air di dasar laut yang membawanya sampai ke pesisir utara Tuban. Dia masih belum tergoda dalam keadaannya. Pada saat bersamaan, di pesisir utara Tuban, datang seseorang yang berwibawa dengan wajah bersih bersinar, menebarkan harum bunga kasturi, memakai sorban dan jubah putih yang menjadi ciri khasnya, berjalan mengelilingi bibir  pantai dengan memegang tongkat ditangan kanannya. Dia adalah Sunan Bonang.

Sunan Bonang menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah batu besar,  beliau melihat sekelilingnya, tampak sebuah perahu yang sedang tertambat, beliau mengambil jaring yang ada di perahu itu,  lalu berjalan kearah laut, ketika air laut mencapai setengah pinggangnya, Sunan Bonang menebarkan jaring itu seperti layaknya seorang nelayan yang menebarkan jaring untuk menangkap ikan. Beberapa saat kemudian, jaring diangkat ditarik ke tepi pantai, nampak sesosok manusia dengan badan banyak ditumbuhi lumut dalam posisi masih bersemedi. 

Sunan Bonang berkata “Wahai, orang yang sedang bertapa dengan segenap jiwa dan keteguhan iman yang mendalam, maka bangunlah dari semedimu …”. 

Mendengar ucapan Sunan Bonang, pertapa itu membuka matanya, dengan kesaktiannya sekejap ia sudah berada di luar jaring. Matanya menatap tajam ke arah Sunan Bonang.

Apa maksud kisanak membangunkanku?“. Pertapa itu bertanya.

“Bukan maksud hati menganggu pertapaan anda, tapi kalau bertapa jangan kelantur-lantur, hasilnya kurang baik.” Kata Sunan Bonang.

Sampean itu siapa ?” Tanya pertapa itu.

“Aku bernama Makdum Ibrahim, sebangsa Sunan yang mengajarkan agama Islam di wilayah Tuban ini”.

“Repot juga ngomong sama orang yang kementhus, sok suci, sok alim, merasa drajatnya lebih tinggi, sehingga menganggap rendah orang lain.” Kata pertapa itu.

“Yang menganggap anda Sunan itu siapa ? Jangan merasa kalau sebangsa Sunan lalu menganggap diri sebagai Waliullah, anda sudah merusak ketenangan batin saya. Mbok jadi orang jangan usil begitu.” Lanjut Pertapa itu.

Mendengar perkataan pertapa itu, telinga Sunan Bonang terasa panas, lalu dia berkata “Yang menganggu orang itu siapa, saya hanya menebar jaring untuk menjaring ikan, bukan bermaksud menjaring anda”

Sambil tersenyum pertapa itu berkata “Katanya anda seorang Sunan, tapi kenapa anda ingkar?”. 

Akhirnya terjadi perang mulut diantara mereka, sampai akhirnya diputuskan untuk adu kesaktian dengan taruhan siapa yang kalah akan menganut agama dan menjadi murid yang menang.

Pertapa itu mengajak mengadu kesaktian di dalam laut. Keduanya lalu masuk ke dalam laut, bagi mereka tidak ada perbedaan antara di laut dan di darat. Saat itu Sunan Bonang bertemu dengan hewan-hewan laut, seperti ikan, kuda laut, terumbu karang, kerang dan lain-lain. Mereka diajak bertegur sapa, seakan-akan mereka sudah saling mengenal. 

Sang Pertapa bingung melihatnya lalu bertanya “Anda berbicara dengan siapa, kog bahasanya aneh dan asing ditelinga saya?”

“Itu tadi saya menyapa penghuni laut dengan memakai bahasa mereka “ Jawab Sunan Bonang.

“Apa ada ilmu seperti itu, saya belum pernah mengetahuinya. Sepengetahuan saya hanya ‘Aji Gineng’ yang bisa membuat pemiliknya mengerti bahasa binatang, tapi disini tidak bisa saya pakai?” Tanya pertapa itu.

“Semua ilmu yang ada di bumi, baik di darat maupun di lautan adalah ilmu Allah, bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin” Jawab Sunan Bonang.

Disini pertapa itu mengakui keunggulan Sunan Bonang, sesuai dengan janjinya maka ia masuk dan menganut agama Islam dan menjadi murid Sunan Bonang. Oleh Sunan Bonang Pertapa itu diberi nama baru yaitu Ki Ageng Brondong, karena ia terkena jaring waktu berada di daerah Brondong, Tuban.

Kemudian Ki Ageng Brondong dengan istrinya dan beberapa anaknya yang masih kecil pergi ke Surabaya pada Tahun 1595 dan menetap di seberang timur kali Pegirian, dekat Ampel ada daerah bernama Dukuh Boto Putih (Batu Putih).

Ditempat baru inilah Kiai Brondong mendapatkan martabat yang tinggi dari masyarakat, karena keluhuran budinya. Kiai Brondong (pangeran Lanang Dangiran) wafat pada tahun1638 dalam usia kurang lebih 70 tahun dan meninggalkan 7 orang anak, diantaranya 2 orang laki-laki yaitu : Honggodjoyo dan Honggowongso.

Bupati Sidoarjo yang pertama (RadenTumenggung Panji Tjokronegoro I wafat tahun 1863), adalah keturunan dari Honggodjoyo. Kiai Ageng Brondong (Pangeran Lanang Dangiran) sendiri dikebumikan ditempat kediamannya sendiri di Botoputih, Surabaya.

Di area pemakaman Sunan Botoputih, ada makam-makam keramat lainnya seperti makam Syech Habib Ahmad Muhamad, makam Kyai Honggo Wongso, Kyai Honggo Wijaya, makam Pangeran Banten ke XXI, makam bupati Sidoarjo I, dan komplek pemakaman bupati Surabaya I,II,III beserta punggawanya.

Demikian sepenggal kisah tentang Sunan Boto Putih atau Ki Ageng Brondong atau Pangeran Lanang Dangiran.

Rahasia Aksara Jawa

Rahasia Aksara Jawa


Aksara Jawa - Baru saja Brodin memarkir sepeda motornya di depan rumah Mbah Sunari, sudah disambut dengan sebuah pertanyaan.

"Laopo Din?" Tanya Mbah Sunari.

"Pijat Mbah."

"Kamu itu bolak-balik kemari untuk pijat, sebenarnya kegiatan apa saja yang sudah kamu lakukan?" Tanya Mbah Sunari.

"Sekarang saya lagi rajin olahraga Mbah, makanya setiap bulan sekali saya sempatkan kemari, noto urat. Sampean sepertinya tidak suka kalau saya kemari, sudah saya mau pulang saja." Jawab Brodin kesal.

"Bukan begitu maksud saya, umumnya, orang pijat itu, tiga bulan sekali, sedangkan kamu sebulan sekali bahkan dua minggu sekali pijat. Pekerjaanmu di kantor bukan kerja kasar, makanya Mbah heran, apa saja yang kamu lakukan."