Petruk Mencari Jati Diri 2

Petruk Mencari Jati Diri Bagian II

Tumpasnya Bambang Ekalaya

Meskipun selalu berusaha memahami keadaan sebagaimana apa adanya, Petruk tidak sepenuhnya bisa menerima jalan fikiran tuan-tuanya yang seringkali melanggar “paugeran” (aturan), bahkan tak jarang mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.

Bendoro-bendoronya yang selalu diasumsikan sebagai pihak yang benar, ternyata pada kenyataannya seringkali melakukan tindakan yang cenderung keji. Kenyataan yang mau tidak mau menimbulkan perang di batin Petruk, perang batin yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya.

gambar petruk2
“… midero sak jagat royo, kalingono wukir lan samudro, nora ilang memanise, dadi ati selawase…”
Sayup-sayup tendengar tembang mendayu-dayu, membuat Petruk menghentikan ayunan kapaknya. Dia teringat kejadian yang menyedihkan sekaligus memalukan, kisah tumpasnya Ekalaya.
Awal peristiwa terjadi di suatu siang yang gerah di tepi hutan yang nampak sejuk. Petruk tak mampu menyembunyikan kegelisahan, dia menangkap gejala alam, sesuatu akan terjadi, sesuatu yang tidak menyenangkan.

Semar memejamkan pura-pura tidur, Gareng sibuk menulis puisi tentang kegelisahan hati. sedangkan Bagong mondar mandir dengan wajah seperti arca tanpa ekspresi. Semua gelisah.

Mereka sedang menemani momongan sekaligus tuan mereka, Raden Arjuna yang juga bernama Janaka, Permadi atau Parto, satria lelananging jagat panengahing pandawa. Mereka sadar sepenuhnya bahwa masalah yang akan timbul bersumber pada momongan mereka ini.

Sangat jelas dimata batin Petruk, aura yang nampak dari pancaran wajah ndoronya ini. Aura yang memalukan, aura yang bersifat “rendah”. Dan Petruk pun sudah sangat hafal dengan tabiat tuannya yang satu ini.

Kegelisahan para punakawan ini segera terjawab. Tiba-tiba dihadapan mereka mucul seorang kesatria tampan (meskipun tak serupawan Arjuna), berkacak pinggang dengan wajah marah. “Hai Arjuna, kalau kamu memang merasa laki-laki hadapi aku, Ekalaya”

Laki-laki ini adalah Bambang Ekalaya, raja kerajaan Nisada. Apa pasalnya sehingga lelaki gagah ini sedemikian murkanya?

Beberapa saat yang lalu saat matahari baru saja memancarkan sinarnya ke bumi, ditepi hutan ini, ada seorang wanita cantik yang sedang dikejar-kejar oleh segerombolan raksasa. Setelah terkejar wanita ini dikepung rapat. Raksasa-raksasa ini berhaha-hihi, bagai segerombolan kucing yang berebut seekor tikus.

Dewi Angraeni nama wanita cantik ini. Apa daya seorang wanita dihadapan segerombolan raksasa? Dia hanya bisa berteriak meminta tolong.

Teriakannya terdengar oleh Raden Arjuna. Bagi Arjuna yang sakti mandraguna, bukanlah hal yang sulit untuk bertindak. Dengan sekali sentakan, hilang sudah nyawa semua raksasa.

Arjuna memandang Anggraeni dengan tatapan mata aneh, tatapan mata yang muncul karena bangkitnya dorongan yang bersifat rendah. Senyum Arjuna juga senyum kurang ajar. Anggraeni bukannya tidak merasakan hal ini.

Sang dewi mengucapkan terimakasih atas pertolongan yang diterimanya.

Tapi ternyata ucapan terimakasih saja, tidak cukup bagi Raja Madukara ini. Den Bagus Casanova Raden Janaka, playboy kelas internasional yang jumlah isterinya sudah tak terbilang ini menginginkan yang lebih dari itu!!! Dia menginginkan dilayani bercinta sebagai imbalan jasanya!!! Duh Gusti…

“Saya sudah bersuami, Raden”, tampik Anggraeni

“Apa masalahnya kalau kamu sudah bersuami? aku bisa membunuh suamimu”, jawab Arjuna enteng. 

“Dan lagi pula apakah suamimu setampan aku? Apakah dia sekaya aku? Aku ini Raja agung”

Anggraeni juga tahu Arjuna gagah perkasa tampan tiada banding, dia juga tidak memungkiri sesungguhnya dia juga tertarik. Namun bagi Anggraeni, cinta terlalu agung untuk diperjualbelikan. Dia bercinta karena memang mencintai. Baginya tidak ada cinta bagi laki-laki macam Arjuna. 

Anggraeni adalah pribadi yang bahagia dengan bersetia kepada cintanya.

Dia menolak keras!!!

Sebelumnya, Arjuna tak pernah menerima penolakan dari wanita. Ratusan wanita dan dewi-dewi dari kahyangan pun berebut untuk jatuh dalam pelukan Don Juan titisan Batara Indra ini.

Penolakan ini semakin menyulut birahi Arjuna. Kobaran nafsu membuat buta hatinya. Dia hendak memaksakan kehendaknya. Anggraeni terancam menjadi korban perkosaan. Apalah daya Anggraeni berhadapan dengan kesaktian Arjuna? Dia berlari…. sampailah ke tepi jurang!!! Dead end!!! Jalan buntu!!!

Dalam putus asa nya, Anggraeni melompat ke jurang. Luncuran tubuhnya ke jurang yang sangat dalam membuatnya pingsan. Untunglah seseorang menyambar tubuhnya sebelum terbentur dasar jurang, orang itu adalah Dewi Ipri, ibunya sendiri.

Dewi Anggraeni adalah isteri Bambang Ekalaya yang sedang berhadapan dengan Arjuna. Dia menuntut pertanggungjawaban atas perlakuan yang diterima isterinya.

Sangat wajar kalau Ekalaya jadi berang. Jangankan seorang raja, Petruk pun akan mengangkat pecoknya kalau isterinya diganggu orang.

Tantangan Ekalaya dilayani oleh Arjuna. Duel berlangsung singkat. Hanya satu jurus, Arjuna terkapar tak bernyawa!!!

Bagaimana bisa jagoan andalan Pandawa yang sakti mandraguna, murid terkasih Pendeta Durna, kalah oleh seorang yang tidak terkenal?

Sepuluh tahun sebelumnya, Ekalaya pernah datang menghadap Durna untuk diterima sebagai murid. Durna menolak, karena Ekalaya hanyalah raja sebuah kerajaan kecil. Durna hanya menerima murid dari kalangan kerajaan-kerajaan besar dan elit macam Astina, Nisada tidak masuk itungannya.

Penolakan Durna tidak membuat Ekalaya patah semangat. Dia menyepi dan mendirikan sebuah tenda di sebuah tempat rahasia. Di dalam tenda itu dia mengukir sebongkah kayu menjadi patung Durna. Setiap hendak mengasah ilmu kanuragan, dia selalu bersemedi di depan patung Durna, memohon bimbingan dari “guru”nya. Dia bukan sekedar murid yang hanya “menerima” tapi dia adalah murid yang “mencari”, murid yang “mencari” akan selalu lebih hebat daripada seorang murid yang hanya “menerima”. Oleh karena itu Ekalaya jauh lebih sakti ketimbang Arjuna.

Ekalaya menginjak dada Arjuna dan berkata “Kalau ada yang tidak menerimakan kematian keparat ini, silahkan datang padaku”. Dan kemudia dia berlalu.

Wajah Petruk pucat pasi, tidak tahu harus berbuat apa. Dia faham betul siapa yang bersalah. Gareng meratap dan bersiap dengan bait-bait sajak duka nya. Bagong menangis menjerit-jerit.

Menangis memang adalah salah satu tugas punakawan, mereka menangis bukan karena menangisi kepergian tuannya. Mereka menangis menyesali alasan kematian Arjuna. Mereka malu mengetahui kelakuan tidak bermartabat tuannya.

Semar tetap mendengkur. Petruk tahu persis bahwa bapaknya itu hanya pura-pura tidur…

Gareng sudah mulai dengan sajaknya, “Bumi akan berduka, langit akan menangis bertahun-tahun, mengiringi kepergian Raden Arjuna. Seluruh rakyat akan berkabung dan meratapi pemakaman raja yang agung…”

“Tidak ada pemakaman dan tidak ada perkabungan!!!”, tiba-tiba saja Sri Kresna sudah berdiri dihadapan Gareng dan membentak.

“Gimana toh Ndoro Kresna ini, apa jasad Den Rejuno dibiarkan dimakan anjing hutan, kok nggak dimakamkan, pripun toh, nganeh-anehi?” Bagong nimbrung.

“Arjuna belum waktunya mati, ” Kresna berujar.

“Oooo… jadi Yamadipati si Dewa Maut salah administrasi ya?” Bagong memang tidak sopan.

“Perang Baratayudha memerlukan keberadaan Arjuna. Adik iparku ini harus hidup lagi” Kresna semakin tegas, sembari mengeluarkan pusaka Kembang Wijayakusuma untuk menghidupkan lagi Raden Arjuna

“Biyuh… orang mau mati kok nggak boleh. Apa hanya gara-gara Baratayudha trus Den Rejuno harus hidup terus? Lha kok enak” Bagong makin tak terkendali, “Lha apa para dewa di kahyangan sudah terlanjur mengeluarkan biaya yang besar untuk skenario perang Baratayudha? Sehingga perang nggak boleh batal?”

“Kamu bisa diam atau tidak???” Kresna membentak, wajah Bagong tetap datar dan dingin seperti dinding candi.

“Apa yang terjadi Kanda Prabu?” Yudistira datang dan bertanya, diikuti oleh Bima, Nakula dan Sadewa. Lengkaplah Pandawa!!!

“Ah… Dimas Yudistira sudah datang, aku akan menghidupkan lagi Dimas Permadi yang baru saja dibunuh oleh penjahat Ekalaya, lalu…”

“Yang penjahat bukan Ekalaya!!!” Petruk memotong kalimat Kresna yang belum selesai.

“Jaga mulutmu Petruk!!!”

“Justeru karena saya menjaga mulut, maka saya bicara yang sebenarnya!!!”

Dengkuran Semar yang mendadak makin keras menghentikan perdebatan Kresna-Petruk.

Suasana jadi kaku. Yudistira nampak bersedih. Bima menggeretakkan gigi tanpa mengeluarkan satu kata pun. Bima adalah orang yang jujur, dia marah bukan karena Arjuna terbunuh, tapi dia sangat malu mengetahui alasan mengapa adiknya menemui ajal.

Kresna menghampiri jasad Arjuna. Sekali usap hiduplah kembali Raden Arjuna!!!

“Terimakasih Kakang Kresna, sekarang saya akan pergi menuntut balas”, kalimat pertama yang keluar dari mulut Arjuna membuat Petruk mendadak mual hebat.

Kresna tersenyum, “Seribu Arjuna tak akan mampu menandingi kesaktian satu orang Ekalaya, Dimas harus faham hal ini”

“Kalau begitu biarkan saya mati menebus malu, saya, Arjuna, tidak mau hidup satu atap langit dengan Ekalaya”

“Baiklah kalau begitu, biarkan saya yang akan menyelesaikan masalah kecil ini. Dimas Yudistira, ajak adik-adikmu pulang ke Amarta. Gareng, Petruk, Bagong ikut aku. Eee lhadalah… Kakang Semar lha kok malah tidur terus?”

“Hemmm….., Anakmas Prabu tahu persis apa yang saya lakan lakukan kalau saya tidak tidur, oaahmmmm” Semar menjawab pertanyaan Kresna, dan tidur lagi.

Petruk tahu persis bahwa Kresna adalah rajanya ahli tipu muslihat, dia berusaha menerka apa yang akan dilakukan titisan Wisnu ini.

Dan Petruk juga gemas melihat bapaknya tidak berkomentar apa-apa. Sambil menahan gejolak hati dia mengikuti langkah kedua saudaranya, dia bisa merasakan akan ada kejadian yang lebih memalukan.

Ternyata Kresna mengendap bagaikan maling, masuk kedalam tenda rahasia Ekalaya, kemudian bersembunyi dibelakang patung Resi Durna!!! Petruk semakin mual disertai dengan nyeri dada hebat melihat hal ini.

Ekalaya masuk ke dalam tenda beberapa saat kemudian. Dia berlutut didepan “guru”nya, semedi, menghaturkan terimakasih yang tak terhingga, karena atas restu gurunya, dia memiliki kesaktian melebihi Arjuna, murid terkasih Resi Durna, murid “guru”nya.

“Ekalaya! Apa yang telah kamu lakukan?” Patung Durna bersuara,”Kamu telah membunuh murid ku yang paling kusayangi!”

Ekalaya bersujud, “Maafkan saya Guru, saya membunuh Arjuna adalah sebuah kewajaran”

“Kalau begitu, adalah sebuah kewajaran juga kalau aku sekarang marah kepadamu”

“Baiklah Guru, jika demikian, ijinkan saya menerima kewajaran berikutnya. Kalau Guru menginginkan nyawaku, ambil saja, saya ikhlas”

“Tidak Ekalaya, aku tidak menghendaki nyawamu. Tapi serahkan cincin di jari manismu itu”

Ekalaya seratus persen sadar, bahwa cincin ampal gading yang melingkar di jari manisnya adalah akumulasi daya kesaktian yang didapatkan selama ini. Tanpa cincin itu dia bukan lagi Ekalaya yang sakti, dia akan menjadi manusia biasa.

Namun Ekalaya beranggapan bahwa kesaktiannya selama ini dia dapatkan berkat bimbingan Resi Durna. Dan karena itu Durna sangat berhak memintanya kembali. Dengan hati yang tulus ikhlas, Ekalaya sujud semakin dalam, melepaskan dan menyerahkan cicin itu.

Pada saat yang bersamaan, sebilah keris melayang dari belakang patung Durna, menembus dada kiri Ekalaya!!! Inilah saat yang kritis, detik-detik yang merupakan batas, batas yang kabur antara duka dan bahagia seorang anak manusia.

“Keparat kamu Durna…”, Ekalaya tersungkur !!! Dia sangat kecewa atas keculasan Durna!!! Gurunya!!! Nyawanya meninggalkan raga dengan sejuta dendam.

Dari kejauhan, para punakawan ribut berteriak melihat kejadian ini.

Petruk terduduk lemas dengan tatapan kosong.

“Reng…, lihat itu… itu….!!! yang membunuh Ekalaya bukan Durna, tapi Kresna!!!” Bagong yang tak tahu tata krama memang seringkali memanggil orang tanpa embel-embel penghormatan

“Bagong menyun, Bagong druhun!!! Meskipun mataku tidak sebesar matamu, tapi aku, Gareng, Kakangmu ini tidak buta!!! Aku juga tahu kalau Prabu Kresna pelakunya!!! Aduh Gusti kang Moho Widhi, mengapa kau biarkan semua ini terjadi”

Semar mendengkur semakin keras. Ketiga anaknya hanya ribut tak berani melakukan apa-apa, karena bapakanya juga tak melakukan apa-apa, mereka hanya menunggu reaksi Semar.

Petruk semakin tidak mengerti sikap bapaknya yang membiarkan semua ini terjadi. Apa sulitnya bagi Semar untuk menghalangi keculasan Kresna?

Kesaktian Semar tak tertandingi oleh siapapun juga. Seluruh dewa-dewa dikahyangan maju bersama ditambah dengan seribu Kresna pun tak akan mampu menandingi kesaktian Sang Hyang Ismoyo ini. Tapi ternyata Semar tak kunjung melakukan sesuatu.

Hati Petruk terguncang!!! Jiwanya terluka!!! Tanpa disadari, dia berjalan meninggalkan kakak dan adiknya yang masih ribut, meninggalkan bapaknya yang tetap tidur, meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu tragedi kehidupan.

Perasaan Petruk semakin teriris mengetahui Dewi Anggraeni yang bersedih dan berkabung sepanjang hidupnya. Dia ingin menghibur tapi tidak punya keberanian, dia malu bertatapan mata. Malu karena tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya memandang Dewi anggraeni dari kejauhan, setiap hari, setiap saat, hingga penghujung hayat Sang Dewi.

Duh… Gusti Kang Murbeng Dumadi yang kuinginkan hanyalah cintaMu

Petruk menghela nafas panjang, mengenang semua peristiwa itu. Kemudian dia kembali mengayunkan kapaknya membelah kayu bakar. Sambil mengalunkan tembang asmorondhono, tembang kerinduan.

“…naliko niro ing dalu, atiku lam-lamen siro wong ayu, nganti mati ora bakal lali, lha kae lintange mlaku

Petruk Mencari Jati Diri I

Petruk Mencari Jati Diri Bagian I

Sudah berabad-abad Petruk menyaksikan perubahan jaman. Berjuta-juta tingkah-polah manusia dia saksikan. Ratusan generasi sudah dia lalui. Tetap saja dia tak bisa paham sepenuhnya bagaimana jalan fikiran makhluk yang bernama manusia.

Sebagai salah satu punakawan. Petruk sudah mengabdi kepada puluhan”ndoro” (tuan), sejak jaman Wisnu pertama kali menitis ke dunia. Hingga saat Wisnu menitis sebagai Arjuna Sasrabahu, menitis lagi sebagai Rama Wijaya, menitis lagi sebagai Sri Kresna.
gambar petruk
Petruk
Petruk hanya bisa tersenyum kadang tertawa geli, dan sesekali melancarkan nota protes akan kelakuan “ndoro-ndoro” (tuan-tuan)-nya yang sering kali tak bisa diterima nalar. Tapi ya memang hanya itu peran Petruk di mayapada ini. Dia tidak punya wewenang lebih dari itu. Meskipun sebenarnya kesaktian Petruk tidak akan mampu ditandingi oleh tuannya yang manapun juga.

Berbeda dengan Gareng yang meledak-ledak dalam menanggapi kegilaan mayapada, berbeda pula dengan Bagong yang sok cuek dan selalu mengabaikan tatakrama. Petruk berusaha lebih realistis dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Meskipun nyeri dadanya acapkali muncul saat melihat kejadian-kejadian hasil rekayasa ndoro-ndoro nya.

Siang itu Petruk sedang membelah kayu bakar, guna keperluan memasak isterinya. Sudah seminggu lebih pasokan elpiji murah dan minyak tanah tak sampai ke desanya.

Di desa Karang Kedempel jaman kontemporer seperti saat ini apapun bisa saja terjadi. Harga beras yang tiba-tiba melonjak melebihi harga anggur Amerika. Minyak goreng yang mendadak menguap di pasaran. Bahkan beberapa dekade yang lalu, orang-orang yang suka protes pun bisa saja mendadak lenyap tanpa bekas. Dan semua pasti akan ditanggapi oleh penguasa Karang Kedempel dengan mengeluarkan “press release”sebagai sebuah “dinamika pembangunan”

Kelangkaan bahan bakar di pasaran, melonjaknya harga sembako, mahalnya biaya pendidikan. Yang berujung pada melebarnya jurang perbedaan kaya-miskin. Adalah hal yang selalu saja terjadi dari jaman ke jaman. Keadaan masyarakat yang “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto tur raharjo” hanyalah sebuah utopia. Yang sering dikatakan kyai-kyai di langgar-langgar dan surau negara yang “baldatun thoyyibatun wa robbun gofuur ” hanyalah sekedar lips service semata.

Seperti yang sudah diduga oleh Petruk, Kang Gareng pasti memberikan reaksi dengan caranya sendiri. Hari ini adalah hari ketiga Gareng berorasi di depan Poskamling, sejak pagi hingga matahari hampir tenggelam. Berusaha menarik perhatian semua warga desa.

“Saudara-saudaraku, mengapa semua ini bisa terjadi?” dengan cengkok khas ala Kang Gareng. “Desa kita ini sedang mengalami degradasi moral dan dekadensi kepribadian. Kebijakan pamong desa kita tidak terarah dan miskin inovasi.”

“Seharusnya kita mulai introspeksi, mengevaluasi situasi dan berani melakukan redifinisi. Sehingga kita bisa meberikan sebuah revitalisasi menuju suatu solusi definitif, guna mendapatkan outcome terbaik dari apa yang kita harapkan”, bagaikan orang kesurupan Gareng berorasi tanpa henti. Tak perduli apakah orang-orang yang berkumpul mengerti apa yang diomongkannya.

Petruk tak habis pikir, dari mana Gareng mendapatkan perbendaharaan kata dan kalimat yang tak ubahnya anggota DPR. Padahal Gareng tidak pernah “makan” bangku sekolahan. Memang orang pintar tidak selalu terkenal dan orang terkenal tidak selalu pintar, tapi Petruk tahu persis bahwa Gareng tidak termasuk diantara keduanya.

Petruk sudah hafal betul dengan model paham kekuasaan di Karang Kedempel dari waktu ke waktu. Kalau mau, sebenarnya bisa saja Petruk mengamuk dan menghajar siapa saja yang dianggap bertanggung jawab atas kesemrawutan pemerintahan. Dengan kesaktiannya, apa yang tak bisa dilakukan Petruk, bahkan (dulu) pernah terjadi, Sri Kresna hampir saja musnah menjadi debu dihajar anak Kyai Semar ini.

Tapi Petruk sudah memutuskan untuk mengambil posisi sebagai punakawan yang resmi. Dia sudah bertekat tidak lagi mengambil tindakan konyol seperti yang dulu sering dia lakukan. Baginya, kemuliaan seseorang tidak terletak pada status sosial. Pengabdian tidak harus dengan menempati posisi tertentu.

Seperti yang terjadi pada episode “Petruk Dadi Ratu” contohnya, sebagai Prabu Kanthong Bolong, Petruk dia melabrak semua tatanan yang sudah terlanjur menjadi “main stream” model kekuasaan di mayapada. Dia menjungkirbalikkan anggapan umum, bahwa penguasa boleh bertindak semaunya, bahwa raja punya hak penuh untuk berlaku adil atapun tidak.

Karuan saja, Ulah Prabu Kanthong Bolong membuat resah raja-raja lain. Bahkan, kahyangan Junggring Saloka pun ikut-ikutan gelisah. Kawah Candradimuka mendidih perlambang adanya “ontran-ontran” yang membahayakan kekuasaan para dewa.

Maka secara aklamasi disepakati, skenario “mengeliminir” raja biang keresahan. Persekutuan raja dan dewa dibentuk, guna melenyapkan suara sumbang yang mengganggu alunan irama yang sudah terlanjur dianggap indah.

Hasilnya? Ibarat jauh panggang dari api.

Bukannya Kanthong Bolong yang mati. Tapi raja jadi-jadian Petruk ini malah mengamuk. Siapapun yang mendekat dihajarnya habis-habisan. Kresna dan Baladewa dibuat babak belur. Batara Guru sang penguasa kahyangan lari terbirit-birit.

Kesaktian dan semua ajian milik dewa-dewa dan raja-raja, seperti tak ada artinya menghadapi Kanthong Bolong. Tahta Jungring Saloka pun dikuasai raja murka ini.

Keadaan semakin semrawut. Sampai akhirnya Semar Bodronoyo turun tangan.

Ngger, Petruk anakku!”, Semar berujar pelan, suaranya serak dan berat seperti biasanya. “Jangan kau kira aku tidak mengenalimu, ngger!”

“Apa yang sudah kau lakukan, thole? Apa yang kau inginkan? Apakah kamu merasa hina menjadi kawulo alit? Apakah kamu merasa lebih mulia bila menjadi raja? “

“Sadarlah ngger, jadilah dirimu sendiri“.

Kanthong Bolong yang gagah dan tampan, berubah seketika menjadi Petruk (yang semua orang tahu, dia sangat jelek). Berlutut dihadapan Semar. Dan Episode “Petruk Dadi Ratu” pun berakhir anti klimaks.

Petruk tersenyum mengingat peristiwa itu. “Ah… hanya Hyang Widi yang perlu tahu apa isi hatiku, selain Dia aku tak perduli”

Kembali dia mengayunkan “pecok”nya membelah kayu bakar. Sambil bersenandung tembang pangkur:

Mingkar-mingkuring angkoro, akarono karanan mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinubo sinukarto….”

Memang tidak mudah jadi seorang Petruk…

Baca Juga : Petruk Mencari Jati Diri Bagian II

Jual Beli Genderuwo?

SORE itu areal persawahan di Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban cukup semarak. Di areal persawahan yang melingkupi desa berpenduduk 628 kepala keluarga tersebut memang tengah memanen hasil bumi berupa kacang. Pria, wanita, tua dan muda tumpah ruah turun ke sawah, memungut hasil panenan. Kehidupan pertanian di Besowo memang cukup maju. Sayangnya, kehidupan damai masyarakat tani di Desa Besowo itu tertutup mitos genderuwo yang telah melingkupinya selama bertahun-tahun.

Kyai Sapujagat, Sang Pelindung

Hari menjelang siang di pemakaman gang tujuh, Malang. Teriknya sinar matahari terhalang rimbunnya daun-daun pinus yang tumbuh subur di sepanjang pemakaman.

Ditengah-tengah pemakaman, tampak seorang anak muda sedang membersihkan sebuah makam tua. Mencabuti rumput-rumput liar dan membuang daun kering dan ranting yang berserakan di sekeliling makam itu.

Setelah makam itu bersih,  ia menyiram air dalam botol serta menaburkan bunga tujuh rupa di sepanjang permukaan makam. Kemudian ia membakar dupa di sisi kepala makam.