Home » » Ketika Cara Halus Tak Berjalan Mulus

Ketika Cara Halus Tak Berjalan Mulus

Ketika Cara Halus Tak Berjalan Mulus - Ketika niat jelek yang didasari dengan kebencian begitu menggebu tidak berjalan mulus alias mengalami kegagalan maka akan menambah bobot dari rasa benci itu dalam diri seseorang. Sehingga mereka akan mencari cara lain, mencari perantara lain, mencari alat lain jika cara yang mereka tempuh sebelumnya mengalami kegagalan. Mereka akan berhenti jika musuh atau orang yang dibencinya menderita atau lebih parah lagi, meninggal dunia. Seperti kisah berikut ini.

Kepulan dupa mengepul memenuhi ruangan, membuat sesak nafas dan kepala pusing bagi mereka yang belum terbiasa mencium dan menghisap aroma asap itu. Namun kedua lelaki itu seolah menikmati dan tenggelam bersama kepulan asap dupa. Seperti sebuah tim yang kompak, mereka bahu-membahu saling membantu mewujudkan keinginan yang sama yaitu melenyapkan Brodin dari muka bumi ini dengan cara halus. Meskipun usaha yang telah mereka lakukan sebelumnya menemui kegagalan, mereka belum menyerah.
gambar dupa
Mereka adalah H. Bokir dan Kyai Mukti, sang dukun Santet.

Kira-kira habis seperempat dupa, keringat mereka bercucuran seolah habis berlari berkilo-kilo jaraknya. Tidak lama kemudian mereka menyelesaikan ritual itu.

“Berat, selain memiliki ilmu yang cukup tinggi, dibelakang anak muda itu ada kekuatan gaib yang melindunginya.” Kata Kyai Mukti sambil menghela nafasnya.

“Terus bagaimana Kyai?”

“Kalau kita mau merusak hubungan mereka, kita harus menanam syarat berupa barang tertentu di sekitar rumah mereka. Tapi mereka mempunyai penjaga gaib yang dengan mudah akan menemukan syarat yang kita tanam.”

“Lalu bagaimana Kyai?”

“Kita harus memanfaatkan pihak luar yang mempunyai hubungan dekat dengan mereka, melalui dia keinginan kita akan tercapai. Minimal rumah tangga mereka akan hancur berantakan.”

“Siapakah pihak luar yang cocok dengan rencana kita ini?”

“Kamu dari tadi tanya melulu, coba kamu cari informasi sendiri tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan anak muda itu melalui teman-teman atau kerabatnya!”

“Baik Kyai.”

H. Bokir meninggalkan kediaman Kyai Mukti dengan membawa rencana licik yang akan sedikit meringankan dendam di hatinya, merusak rumah tangga Brodin dan Fatimah.

Hari Minggu pagi, Brodin bersama istrinya tengah bercengkerama di beranda rumah mereka. Perut Fatimah semakin membesar, sudah enam bulan berjalan. Namun wajah Fatimah seolah semakin bertambah cantik karena aura kebahagiaan yang memancar dari tubuhnya.

“Jangan pandangi Fatimah terus dong Bang, Fatimah jadi salah tingkah.”

“Habis kamu bertambah cantik sih.” Rayu Brodin.

Seulas rona merah merekah di pipi Fatimah. Wanita pada dasarnya memang suka dipuji apalagi dari orang yang dicintainya.

“Ah Abang ..” Kata Fatimah sambil memeluk suaminya.

Saat mereka sedang bercengkerama, tiba-tiba datang mobil taksi memasuki halaman rumah mereka. Keluar dari mobil itu seorang lelaki muda dan seorang gadis cantik. Penampilannya sederhana tapi terlihat anggun, mengenakan jeans biru dan kaos putih, rambutnya yang panjang dibiarkan jatuh tergerai, kacamata hitam menambah lengkap kecantikannya.

Lelaki itu adalah Sigit, teman satu kontrakan Brodin dulu. Namun Brodin tidak mengenali gadis itu. Setelah gadis itu melepaskan kacamatanya, baru ia tahu siapa sebenarnya di balik kacamata hitam itu.

“Anggraeni ..” Desis Brodin dengan hati berdebar-debar.

Mendengar nama itu, Fatimah langsung berdiri dan memegang lengan Brodin. Semakin dekat kedua orang itu, pegangan Fatimah berubah menjadi cengkeraman. Brodin meringis kesakitan, lalu dengan pelahan melepaskan tangan Fatimah, memeluknya dan membisikkan, “mereka tamu kita, harus kita hormati.”

Fatimah mengangguk pelan tapi mukanya tidak bisa menyembunyikan perasaan gelisah yang ada di dalam hatinya.

“Asalamu alaikum.”

“Wa alaikum salam, njanur gunung mas? Tumben datang kemari?” Jawab Brodin sambil menyalami kedua tamunya. Setelah kedua tamunya duduk, Brodin lalu menanyakan kabar masing-masing.

“Ada apa Dik Anggraeni jauh-jauh datang kemari, mau ngasih undangan pernikahan ya?” Tanya Brodin memecah kebuntuan.

Anggraeni diam saja, wajah Sigit berubah murung, namun dibelakangnya Anggraeni, adiknya, mencolek-colek lengannya, memaksanya bicara.

“Begini Din, Adikku mau menagih janjimu kepadanya.” Kata Sigit yang membuat Brodin dan Fatimah seperti mendengar petir di siang bolong.

Wajah Brodin berubah menjadi pucat pasi, sementara Fatimah tersentak kaget sampai berdiri dari kursinya, meringis sambil memegangi perutnya lalu terduduk di kursinya kembali sambil berteriak, “Nyak, Be kemari!”

Brodin menjadi semakin panik.

Dengan tergopoh-gopoh H. Badrun bersama istrinya datang.

“Ada apa Fatimah?”

“Anggraeni Nyak.” Tuding Fatimah lalu tergeletak pingsan. Brodin bergegas menggendong istrinya lalu membawanya ke kamar. Setelah beberapa lama ia kembali menemui tamunya.

Mereka duduk dalam satu meja.

“Nak Anggraeni ini cantik sekali, dengan kecantikanmu itu, kamu bisa mendapatkan 10 orang lelaki tampan, tapi mengapa harus merebut suami orang?” Tanya Nyak Fatimah dengan mata melotot tajam dan suara tergetar menahan amarah.

“Saya tidak merebut suami orang, saya hanya mau berbagi seperti janji Mas Brodin kepada saya.” Jawab Anggraeni dengan tegas.

“Katanya Sigit, Nak ANggraeni sudah menemukan jodoh sehingga kami mau menikahkan Fatimah dengan Brodin.” Tukas H. Badrun.

“Benar, waktu itu saya mencoba mengalah dengan menjalin hubungan dengan pria lain, tapi perasaan cinta saya kepada Mas brodin sepertinya tidak bisa sirna.”

“Fatimah sedang hamil tua, apakah tega Nak Anggraeni merebut suaminya?”

“Sekali lagi, saya tidak merebut suami orang! Saya menuntut janji! Saya juga ingin merasakan kebahagiaan seperti yang sedang dirasakan Fatimah.” Jerit Anggraeni.

“Sabar Dik, malu sama orang.” Bisik Sigit.

“Diam Mas, karena Mas Sigit saya menderita. Sekarang saya akan menuntut hak saya sebagai calon istri Mas Brodin. Seorang lelaki sejati pantang ingkar janji.” Jerit Anngraeni, kelembutan dan keanggunan yang selama ini terpancar seolah berubah. Anggraeni menjadi harimau yang menuntut cintanya.

Brodin hanya diam terpaku dan menundukkan mukanya.

“Benar begitu Din?”

“Benar Be.”

“Baiklah kalo memang begitu, sebenarnya kami tidak mau anak kami dimadu. Tapi sekarang Fatimah adalah istri yang sah dari Brodin, jika mereka berpisah maka Fatimah akan menjadi seorang janda, hal ini tidak kami inginkan juga. Maka saya minta kepada Nak Anggraeni untuk menunggu sampai Fatimah melahirkan.” Kata H. Badrun.

“Baiklah saya akan menunggu, sekarang saya mohon pamit dan akan datang lagi tiga bulan lagi.” Kata Anggraeni sambil berdiri diikuti Sigit dengan wajah tertunduk malu.

“Saya mohon pamit Mas, jangan lupa janjimu.” Pesan Anggraeni saat berpamitan dengan Brodin. Dipeluknya lelaki itu dengan erat sambil mencium wajah Brodin dengan mesra. Brodin tak kuasa menolak, sementara H. Badrun dan istrinya melotot kea rah Brodin. Brodin menjadi salah tingkah.

Sepeninggal kedua kakak beradik itu, H. Badrun berkata,”sekarang kamu tinggal dirumah belakang, jangan kemari sampai Fatimah mau menerima keadaan ini.”

“Jangan begitu Be, kepala boleh panas tapi hati harus tetap dingin.”

“Bagaimana gue tidak panas hati jika melihat menantu gue berpelukan dengan wanita lain sementara istrinya terbaring pingsan di kamarnya?” Tanya H. Badrun.

“Maafkan saya Be.”

 “Apakah Babe tidak curiga dengan kehadiran Sigit dan adiknya secara mendadak? Saya melihat ada sesuatu yang mencurigakan pada Anggraeni, matanya, tingkah lakunya berubah drastis bukan seperti Anggraeni yang saya kenal.”

“Sepertinya begitu Be, gue takut saat menatap matanya.” Imbuh Nyak Fatimah.

“Baiklah, kamu selidiki masalah ini. Tapi sebelum kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi, jangan datang kemari!” Perintah H. Badrun.

“Baik Be.”  Kata Brodin sambil beranjak pergi ke rumah belakang, tempatnya dulu sebelum menikah dengan Fatimah.

Baca Selanjutnya : Ada Cinta Lain di tengah Badai

0 komentar:

Posting Komentar