Ilmu Raja Besi

Ilmu Raja Besi

Ilmu Raja Besi adalah salah satu ilmu kebal yang berada dalam kazanah perbendaharaan sejarah mulai jaman Singasari sampai kerajaan Majapahit. Konon, ilmu ini setara dengan ilmu Lembu Sekilan, Blabag Pengantolan dan ilmu kebal kelas atas lainnya.

Namun keberadaan ilmu Raja Besi ini semakin punah, sudah jarang yang memilikinya terlebih lagi di jaman sekarang, jaman modern. Berikut ini adalah kisah fiktif tentang pencarian ilmu Raja Besi dan sepenggal 'laku' yang dijalani.

Baca Juga :

Sampai di terminal Jombang hari masih pagi, tidak begitu jauh terdapat warung yang menjadi langganannya. Dengan berjalan kaki, Brodin menyempatkan diri mampir.

"Piye kabare, Nda? Saiki nang endi?" Sambut pemilik warung yang masih mengenalnya.

"Apik Kang, saiki manggon ndek Jakarta. Ketan karo kopine, Kang!" Jawab Brodin sambil memesan.

Warung itu buka sebelum Subuh, menu andalannya adalah ketan yang ditaburi bubuk dan kopi hitam disamping jajanan lainnya. Rasa ketan dan kopinya, memang khas dan enak. Biasanya jam 10 pagi warung itu sudah tutup.

gambar ilmu kebal

Puas bernostalgia, Brodin melanjutkan perjalanannya menuju rumah Mbah Sunari dengan naik ojek.

Saat tiba, seperti kebiasaannya, Mbah Sunari sedang duduk di amben bambu  sambil merokok. Di sampingnya tampak segelas besar kopi menemaninya.

Brodin masih mengenakan helm yang menutupi wajahnya sehingga kakek itu tidak mengenalinya. Brodin langsung duduk disamping gurunya.

"Kok ambune koyo bocah edan kui, mosok isih gelem mampir rene." Gumam Mbah Sunari.

"Mau pijat Mas?" Tanyanya.

"Mboten Mbah, saya mencari warok Suro Digjoyo." Jawab Brodin.

Mbah Sunari tanggap siapa yang sedang dihadapinya.

"Tidak ada yang bernama itu di rumah ini." Diam-diam tangannya meraih sapu lidi yang ada di sampingnya lalu memukul Brodin dengan sapu itu.

"Bocah edan, wong tuwo kok digawe dolanan. Rasakno iki."

"Ampun Mbah, jangan dipukul pakai sapu lidi nanti saya gak payu rabi." Teriak Brodin.

"Bojo wis loro jare gak payu rabi. Dasar bocah nakal." Kata Mbah Sunari sambil terus memukul, Brodin berlari menghindar.

"Mas, bisa minta helm nya, saya mau narik lagi." Kata Tukang Ojek yang mengantarnya. Brodin menghentikan larinya lalu menyerahkan helm yang dikenakannya.

Mbah Sunari mendatanginya dengan masih membawa sapu lidi, "lho temenan, kowe Din?" "Nggih Mbah." Jawab Brodin lalu memeluk Mbah Sunari. Setelah melepaskan kerinduan dan basa-basi sebentar, Brodin lalu menceritakan permasalahan yang sedang dihadapinya dan mengutarakan maksud kedatangannya.

"Saya mencari sipat kandel, Mbah. Pada perkelahian terakhir, saya terluka parah, maka saya mencari sarana untuk melindungi diri." Kata Brodin.

Mbah Sunari manggut-manggut.

"Kamu kuat puasa 3 hari 3 malam dan tidak tidur selama itu?"

"Aduh, abote Mbah." Gumam Brodin.

"Semakin berat lakune akan semakin matang ilmu yang kita miliki." Jelas Mbah Sunari.

Brodin merenung sebentar.

"Baiklah, saya sanggup." Kata Brodin mantap.

Esok harinya, Brodin mulai melakukan laku-nya, Mbah Sunari mendampingi dan memberi wejangan dengan sabar.

Hari pertama menjalankan lakunya, bayangan kedua istri dan anaknya menari-nari dalam angannya. Menggoda dan membuyarkan konsentrasinya, namun Mbah Sunari membimbing dan menuntunnya kembali.

Hari kedua muncul kekhawatiran dan rasa takut kehilangan jika dirinya kalah atau menemui ajalnya. Bayangan wajah Anggraeni dalam berbagai ekspresi sedih mengganggunya. Kembali Mbah Sunari menuntunnya.

Hari ketiga, batinnya mulai tenang namun tubuhnya lemas tak bertenaga, matanya terasa berat. Mbah Sunari selalu mengawasi dan menggugah semangatnya untuk berusaha sampai akhir lakunya.

Hingga menjelang pagi hari sebelum matahari muncul, ia merasakan tubuhnya bergetar, seperti terkena sengata listrik dan tiba-tiba dihadapannya muncul sosok dirinya. Sosok itu tersenyum lalu membisikkan kalimat, "warongko manjing curigo, curigo manjing warongko." Dan, sosok itu masuk kembali ke dalam tubuhnya. Brodin merasakan tubuhnya seperti mendapatkan kekuatan yang menyegarkan dan menenangkan hatinya.

Saat bagaskara muncul di ufuk timur, Mbah Sunari terbangun, melihat Brodin duduk bersila dengan nafas teratur, ia merasa lega.

"Bangun Din, sudah selesai lakumu." Mbah Sunari membangunkan muridnya.

Brodin membuka matanya, "Alhamdulillah."

Mbah sunari menatap Brodin, ada banyak perubahan pada diri muridnya. Matanya terlihat mencorong tajam seperti mata seekor harimau dan wajahnya berseri seolah memancarkan cahaya yang lembut.

"Alhamdulillah. Sekarang kamu mandi dulu, habis itu kita selamatan, mensyukuri anugerah Tuhan yang sudah dititipkan kepadamu!" Kata Mbah Sunari.

Demikian, kisah tentang pencarian Ilmu Raja Besi. Semoga Bermanfaat.

Pernikahan Anggraeni

Hari berganti hari, tibalah waktunya pernikahan Brodin dengan Anggraeni.

Meskipun diadakan dengan acara yang sederhana, namun kabar pernikahan Anggraeni menyebar tertiup angin menyusup ke telinga orang-orang yang mengenalnya. Kerabat, teman dan orang-orang yang pernah menaruh hati atau bahkan pernah menjalin hubungan dengannya. Sebagian dari mereka datang walaupun tidak mendapatkan undangan resmi.

Sementara, Brodin pada pernikahan ini, tidak mengundang satu pun kerabat, teman dan keluarganya. Mengingat ini adalah pernikahan keduanya. Entah mengapa, di sudut sanubarinya yang paling dalam, dia merasa malu.