Mbah Jabal, Sang Pemangku Pondok

Mbah Jabal, adalah nama seorang penggembala kambing misterius yang menjadi pemangku pondok pesantren dimana Sukmadi belajar. Kisah berikut ini adalah kisah fiktif dalam bentuk cerita bersambung yang menceritakan perjalanan seorang pemuda nakal bernama Sukmadi.

Berikut ini adalah kisah Sukmadi bertemu dengan Mbah Jabal.

Pada suatu saat ketika Sukmadi mendapat hukuman untuk menggembalakan kambing, seperti biasa dengan senang hati dia menggiring kambing-kambing yang menjadi gembalaanya ke sawah yang sudah tidak dipakai dan banyak rumputnya. Ketika sedang sibuk mengurusi kambingnya, tiba-tiba dia melihat seorang kakek tua yang sedang menyabit rumput tak jauh dari tempatnya.

Badannya kurus, rambut dan jenggotnya putih mengenakan baju hitam khas petani desa, bersongkok hitam, umurnya kurang lebih 70 tahun. Gerakannya gesit, sebentar saja sudah banyak rumput yang di dapatnya. Sambil menyanyikan lagu “ilir-ilir” yang merupakan lagu “dolanan” bagi anak-anak kecil di desa, sang kakek menyabit rumput dengan penuh semangat. Sebentar diliriknya Sukmadi, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.

Lir ilir, lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh kemanten anyar

Cah angon-cah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo seba mengko sore

Mumpung jembar kalangane
Mumpung padang rembulane
Yo suraka… surak… iyo

Sukmadi mendengarkan nyanyian kakek itu, merdu suaranya. Ia merasa tertarik melihat kegesitan dan semangat yang dimiliki oleh sang kakek, sepertinya dia sangat menyukai pekerjaannya, lalu didatanginya sang kakek tersebut.

“Mbah sedang apa ?” Tanya Sukmadi

“Mencari rumput untuk kambing dan kerbau saya le” jawab si kakek.

Timbul rasa isengnya untuk mangajak sang kakek bermain judi, Sukmadi bertanya “Mbah dulu waktu mudanya suka main judi apa tidak ?”

“Wah kalau judi saja, saya dulu jagonya, le” jawab si kakek.

“Bisa main judi apa saja mbah?”

“Dadu, cap ji kie, kartu, tapi yang sering menang main dadu ..” jawab si kakek.

“Punya uang Mbah?”

“Punya lima ribu, le, mau apa?”

Sukmadi menyahut dengan nada menantang “wah kalau begitu kita main dadu saja mbah, ini saya bawa dadunya ..”

“Wah kamu santri kok membawa dadu itu bagaimana, harusnya santri itu mengaji dan belajar kitab, le..” balas si kakek.

“Kamu kok angon kambing, memangnya tidak mengaji ?” lanjut si kakek.

“Saya lagi dihukum, Mbah “ jawab Sukmadi tenang.

“Berarti kamu ini nakal, sehingga dihukum begini”

“Nakal apa Mbah, saya cuma sering mengajak teman-teman bermain judi untuk menyalurkan hobi “ Jawab Sukmadi.

“Oh ndlodog kowe, kamu sudah bisa mengaji?” Tanya kakek itu.

“Mengaji susah mbah, sampai sekarang saya belum bisa, kalau main dadu saya paling bisa, ayo sini main mbah, kecil-kecilan saja taruhannya …” Tantang Sukmadi.

Akhirnya sang kakek tua itu mengikuti kemauan Sukmadi untuk bermain dadu, ia menjadi bandarnya sementara sang kakek yang pasang taruhannya. Diantara teman-temannya Sukmadi tidak pernah kalah main dadu, tapi melawan kakek ini dia kalah terus, segala tipu daya dan kecurangan dilakukan untuk mengalahkan musuhnya, tapi sang kakek seperti tahu gerakan dadunya sehingga menaruh taruhan dengan tepat, Sukmadi putus asa dan akhirnya dia menyerah kalah.

Timbul rasa penasarannya terhadap kakek ini.
Mbah sampean namanya siapa, rumahnya dimana, nanti kalau saya mau menantang main dadu lagi biar enak?” Tanya Sukmadi. 

“Aku tinggal di pesantren tempat kamu mengaji itu, saya yang mangku pesantren itu, sebut saja namaku mbah Jabal” jawab si kakek sambil beranjak pergi karena hari sudah sore. 

Darah Sukmadi berdesir, jantungnya seolah behenti berdetak, sesaat diam terpaku Sukmadi mendengar jawaban sang kakek, ternyata kakek ini adalah Kyai atau pemangku pesantren dimana dia nyantri, yang selama ini tidak pernah ditemuinya. 

Sambil berjalan sang kakek berpesan “Jangan bilang siapa-siapa kalau kamu bertemu denganku, kalau di pesantren jangan cari atau tanya-tanya tentang saya, tidak ada yang tahu …”


Bersambung ..

Baca Juga  : PondokPesantren