FAKTA KEBOHONGAN DARI SEORANG IBU, YANG WAJIB DIKETAHUI PUBLIK

Berikut ini adalah fakta-fakta yang membuktikan bahwa seorang ibu adalah pembohong.

1. Saat makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, “Cepatlah makan, ibu tidak lapar." Bahkan seorang ibu rela menahan lapar asalkan anaknya dapat makan.

2. Waktu makan, Ia selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata, "ibu tidak suka daging, makanlah, nak."

3. Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yang sakit, Ia berkata, "Istirahatlah nak, ibu masih belum ngantuk."

4. Saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk ibu. Ia berkata, "Simpanlah untuk keperluanmu, nak, ibu masih punya uang."

5. Saat anak sudah sukses, menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata, "Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tinggal di sana."

6. Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya akan menangis, tetapi ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, "Jangan menangis, ibu tidak apa-apa."

Ini adalah kebohongan terakhir yang dibuat ibu. Tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, ibu selalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan diri kita, tetapi beliau tidak pernah membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya.

“Kasih Ibu sepanjang jalan .. “

gambar ibu dan anaknya

Semoga semua anak di dunia ini, bisa menghargai setiap kebohongan seorang ibu karena beliaulah ‘Pangeran Katon’ atau Tuhan Yang Nyata perpanjangan kasih ALLAH untuk menjaga kita.

Terima kasih IBU...

3 x Hampir Tersambar Petir

Pada musim hujan ini, suara petir bersahutan di angkasa lebih sering terdengar mengawali tetesan-tetesan air yang turun dari langit. Suaranya yang menggelegar diiringi kilat cahaya lalu muncul sosok  petir yang menyambar ke arah yang dikehendakinya, menggetarkan hati bagi siapapun yang mendengar dan melihatnya.



gambar petir

Petir itu nyata dan hidup.

Melihat dan mendengar suara petir mengingatkan saya pada beberapa tahun yang lalu saat mengalami peristiwa tiga kali hampir tersambar petir.

Peristiwa Pertama

Saat itu saya masih seorang pemuda berumur dua puluh tiga tahun, dan pada masa itu, saya lagi aktif dan rajin menjalankan satu olahraga pernafasan yang bernama ORHIBA atau Olahraga Hidup Baru yang saya pelajari dari seorang guru waktu merantau ke Balikpapan.

ORHIBA adalah salah satu olahraga kesehatan yang ditemukan beberapa puluh tahun yang lalu oleh seorang pendeta dari Manado yang merantau ke Jawa lalu bermukim di Banyuwangi tepatnya di desa Galekan. 
Pada masanya ORHIBA sempat mengalami kejayaan dan menjadi salah satu oleharga resmi yang harus dijalankan oleh anggota Kepolisian Republik Indonesia. Saat itu masih dalam pemerintahan Presiden Soekarno dan yang menjadi Kapolri adalah bapak Hoegeng.

Ketika meletus peristiwa pada tahun 1965, karena kedekatan sang guru besar ORHIBA dengan Bung Karno dan karena perbedaan agama serta ideologi maka sedikit banyak disangkut-pautkan dengan peristiwa itu, sehingga dengan perlahan kebesaran ORHIBA memudar.

Maka di jaman sekarang ini sangat susah mencari tempat atau orang yang masih mengenal atau menjalankan ORHIBA kecuali di Bali yang masih banyak orang yang menjalankan dan mewariskannya secara turun temurun.

Setiap pagi, siang dan sore hari, saya rutin menjalankan Olahraga ini tanpa ketinggalan sehari pun sehingga saat itu badan saya sehat dan bugar selalu. Seiring dengan berjalannya usia, saya mencoba untuk memahami lebih dalam filosofi yang terkandung dalam olahraga ini.

ORHIBA bertujuan untuk menghidupkan kembali sel-sel tubuh yang rusak selama kita hidup lalu mengembalikan seperti fungsinya semula sehingga badan kembali sehat. Dalam setiap gerakan ORHIBA diiringi dengan tarikan dan hembusan nafas  disertai dengan niat “aku hidup” sehingga tertanam dalam jiwa keyakinan akan hidup sehat atau hidup baru yang penuh kesehatan.

Suatu hari saya bertanya kepada guru yang mengajarkan ORHIBA.

Saya  : “Bagaimana jika saya ingin menyatu dengan alam semesta?”
Guru  : “Manusia adalah mikro kosmos dan alam semesta adalah makro kosmos, jika kamu mau merasakan menyatu dengan alam semesta, cobalah untuk berlatih ORHIBA saat turun hujan di lapangan atau alam terbuka.”

Karena mau merasakan bagaimana menyatu dengan alam maka saya melaksanakan perintah guru saya tersebut. Saat hujan deras, saya berlatih ORHIBA ditengah lapangan sepak bola. Ketika semakin tenggelam dalam konsentrasi melakukan gerakan demi gerakan diiringi dengan niat “aku hidup”, tiba-tiba petir menyambar di empat penjuru tepat satu meter di sekeliling tubuh saya.

Tubuh saya bergetar, seolah seluruh otot-otot, daging dan tulang dalam tubuh bergetar  sehingga saya terduduk lemas tak berdaya.   Kurang lebih setengah jam lamanya dan hujan masih deras, setelah mengumpulkan tenaga, saya bergegas pulang sambil merenungkan kejadian ini.

Peristiwa Kedua

Setelah kejadian itu, setahun kemudian saya pindah kerja ke Jakarta dan masih rutin menjalankan olahraga ORHIBA.

Suatu hari ketika jam makan siang, turun hujan gerimis. Selesai makan di sebuah warteg , saya nekat berjalan kembali ke kantor. Saat menyeberang jalan di sebuah perempatan jalan dan hampir mencapai trotoar jalan yang ada ditengah, tiba-tiba petir menyambar tepat satu meter disamping kiri saya. Reflek saya melompat menghindar, namun tubuh saya lemas tak bertenaga sehingga saya duduk di trotoar sampai beberapa saat lamanya.

gambar petir2

Orang-orang yang melihat kejadian itu, segera menghampiri saya untuk menanyakan keadaan saya. Ketika melihat saya masih sehat, mereka menggeleng-gelengkan kepala penuh keheranan.Untuk menghindari kerumunan orang lebih banyak lagi, saya bergegas kembali ke kantor dengan membawa banyak pertanyaan.

Peristiwa Ketiga

Beberapa tahun kemudian, saya dipindahkan bekerja kembali di Balikpapan. Suatu hari saya bertemu dengan seorang gelandangan yang ternyata adalah seorang musafir atau orang yang sedang menjalankan laku prihatin. Saat itu gelandangan itu sedang mangais-ngais sampah mencari makanan sisa. Terketuk hati saya kemudian saya mendatanginya sambil memberikan nasi bungkus dan minuman kepadanya lalu mengajaknya berteduh di bawah sebuah pohon.

Setelah berkenalan, ternyata musafir tersebut berasal dari kota Surabaya, anak seorang Kyai terkenal yang sedang menjalankan laku hingga sampai ke Balikpapan. Sebelum berpisah, sang musafir memberikan satu amalan yang katanya dalan bahasa Suryani atau bahasa Malaikat yaitu “yaa Kayu” yang artinya hidup.

Karena merasa penasaran, suatu malam saya duduk di halaman rumah sehingga hanya beratapkan langit yang cerah lalu mencoba mengamalkan amalan tersebut.

Yaa Kayu ... Yaa Kayu ... Yaa kayu ...”  Terus menerus saya lafalkan kalimat itu.

Tiba-tiba langit yang cerah berubah menjadi gelap diselimuti awan lalu hujan gerimis pun turun. Berbarengan dengan turunnya air hujan, serangkaian kilat sambar-menyambar menghampiri tempat dimana saya duduk. 

Saya duduk terpaku melihat pemandangan ini, nyali saya mengerut kecil sekali. Dan saat rangkaian petir itu mendatangi, saya hanya bisa duduk pasrah sambil memejamkan mata. Terdengar suara menggelegar di sekeliling saya, setelah itu sunyi dan langit perlahan kembali cerah. Setelah menunggu beberapa saat barulah saya membuka mata lalu bergegas masuk ke dalam rumah, tidur dengan badan menggigil ketakutan.

Kesimpulan

Dari beberapa pengalaman saya berhubungan dengan petir, timbul satu pertanyaan besar dalam diri saya. Apa hubungannya petir dengan kalimat “hidup” dalam bahasa apa pun?

Melihat berita tentang banyaknya orang yang tewas tersambar petir, sempat terbersit dalam hati saya, apakah petir adalah kepanjangan tangan dari malaikat maut atau merupakan lidah api Bethara Kala yang mencari mangsanya?

Ternyata menurut pendapat saya pribadi, petir adalah hidup yang menjadi utusan Tuhan untuk menghidupi alam semesta seisinya. Bayangkan jika tidak ada petir maka tidak akan turun hujan, dan ternyata petir menghidupkan mikro organisme di dalam tanah sehingga tanah menjadi subur.

Wallahu a’lam.