Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan Diri

Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan – Pada umumnya, orang sudah menjadikan sebagai patokan tentang kebersihan suatu tempat berkaitan dengan kehadiran Lalat. Semakin banyak Lalat yang datang maka sudah dipastikan jika tempat itu kotor demikian pula sebaliknya. Lalu apa hubungannya aku dan seekor Lalat? Itulah yang menjadi bahan renungan kali ini.

Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan Diri
Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan Diri

Suatu hari,karena memang belum mandi atau memang rumah saya yang masih kotor, banyak lalat yang datang dan hinggap di sekeliling meja dimana saya bekerja dirumah. Hinggap di cangkir kopi, piring berisi singkong rebus bahkan hinggap di atas laptop saya.

Saya merasa heran, karena biasanya tidak begitu. Sehingga saya segera membersihkan rumah dan lingkungan di sekitarnya. Setelah itu jumlah Lalat yang datang agak berkurang. Dan,keesokan harinya saya membersihkan rumah lagi, lalat pun semakin berkurang. Hingga saya membersihkan rumah setiap hari, dan sosok hewan ini sudah tidak pernah kelihatan lagi.

Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan Diri
Aku dan Seekor Lalat, Satu Renungan Tentang Kebersihan Diri

Namun, suatu ketika, saat saya sudah menyadari pentingnya kebersihan, beberapa ekor lalat datang kembali. Padahal, saya sudah mandi dengan bersih termasuk keramas dan mengenakan pakaian yang bersih, dan rumah pun sudah bersih.

Mengapa?

Pertanyaan itu yang memenuhi benak saya. Seketika, saya memeriksa kebersihan rumah dan pakaian yang saya kenakan. Bersih semua. Akhirnya, saya mengabaikannya saja daripada pusing memikirkan hewan yang merepotkan ini.

Tapi, yang mengherankan lagi, saat esok hari dimana saya sudah mandi dan membersihkan rumah, sang Lalat itu datang lagi. Namun, bukan makanan atau tempatnya yang ia hinggapi melainkan tubuh saya. Dan, saya kelabakan mengusirnya dengan berbagai cara. 

Akhirnya saya menyerah ketika Lalat-lalat  itu tidak kunjung pergi dan membiarkan saja hewan kotor itu berbuat semaunya.

Bahkan, saat saya duduk diam sambil memejamkan mata, seekor lalat hinggap di tubuh saya. Tapi saya abaikan. Mulai dari mata pindah ke telinga, lalu pindah lagi ke hidung. Dan, yang paling menjengkelkan saat hewan ini hinggap di bibir saya yang seksi. Tapi saya tetap berusaha mengabaikan dan membiarkannya.

Teringat dalam hati, satu ayat dalam Al Quran,
“Tidak sehelai daun yang gugur ke muka bumi ini tanpa kehendakNya.”
Maka, saya pun melakukan mawas diri. Karena Tuhan menciptakan segala apa yang ada di alam semesta ini, tidak ada yang sia-sia, termasuk Lalat. Dan, saya pun berfikir, mengapa Tuhan mengirimkan Lalat-lalat ini.

Dan, akhirnya saya menyadari meskipun tubuh bersih, namun jiwa saya masih kotor.

Mata saya sering jelalatan ketika melihat wanita-wanita cantik dan seksi, telinga saya masih sering mendengar suara-suara yang kotor, hidung dan anggota tubuh lainnya pun demikian, terutama mulut dengan bibir yang seksi ini.

Meskipun tidak terucap, namun dari gemulai jemari saya menuliskan kata-kata, masih terlalu sering menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain. 

Akhirnya, saya berusaha membersihkan diri terutama membersihkan jiwa dengan mengurangi segala sesuatu yang cenderung kotor. Tentunya, dengan ijin Tuhan.

Itulah pengalaman pribadi tentang seekor Lalat, hewan yang menjadi alat ukur kebersihan.

Mengutip ayat suci Al Quran,
“Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
Maka, mari kita jaga kebersihan, baik lingkungan kita, tubuh kita dan yang terpenting adalah jiwa kita.

Karena tempat-tempat wisata yang bersih akan banyak dikunjungi orang, warung-warung makan, café dan restoran pun demikian. Maka, jiwa yang bersih akan dikunjungi kebaikan.

Kunjungi juga : www.ayodolenrek.com

Semoga bermanfaat..

Artikel Lainnya :





Benarkah Hidup Adalah Soal Pilihan?

Benarkah Hidup Adalah Soal Pilihan? – Ketika saya memilih untuk memanjangkan rambut sebagai salah satu gaya hidup, awalnya saya merasa tidak ada masalah dan baik-baik saja menurut penilaian diri sendiri. Namun, seiring bertambah panjangnya rambut yang menambah kesan eksentrik pada penampilan saya, mulai muncul tanggapan-tanggapan kritis dari keluarga, teman-teman dan lingkungan sekitar.

Benarkah Hidup Adalah Soal Pilihan?

Mereka menyarankan untuk segera memotong rambut panjang yang saya sayangi dengan berbagai alasan namun saya abaikan. Saya merasa nyaman dengan memilih gaya rambut mirip seniman ini pada usia jelita. Dan, saya menyadari pengaruhnya terhadap diri saya sendiri karena memiliki alasan sendiri. 

Lalu, saya memilih menulis tentang ajakan-ajakan kebaikan bukan berarti saya lebih baik atau lebih pintar atau lebih pengalaman daripada orang lain melainkan hanya berbagi dan belajar bersama-sama. Mungkin, sedikit informasi itu dapat memberikan pencerahan bagi orang lain.  Tapi, itupun tidak lepas dari pro-kontra.

Itulah pilihan saya. Bagaimana dengan Anda?

Benarkah Hidup Adalah Soal Pilihan?

Hidup adalah soal pilihan. Dan, setiap pilihan yang kita ambil akan berpengaruh besar terhadap diri kita sendiri.

Banyak pilihan yang telah kita lakukan sepanjang hidup ini, baik pilihan yang tepat maupun salah. Semuanya, pernah kita rasakan dampak dan pengaruhnya terhadap diri kita sendiri, seperti berikut ini.
  • Pilihan tentang profesi atau pekerjaan
  • Pilihan tentang pasangan hidup
  • Pilihan dimana kita akan tinggal
  • Pilihan gaya berpakaian dan lain-lain.

Tapi, pilihan yang terpenting adalah, akan menjadi siapa diri kita?

Untuk itu, kita butuh latihan, pengamatan dan pengendalian diri. Dan, harus dilakukan secara terus menerus sepanjang hidup kita.

Berikut ini adalah beberapa nasehat yang pernah saya dengar dari orang-orang tua, buku dan hasil perenungan sendiri.

Cara Menetapkan Pilihan

  • Karena kita sendiri belum merasakan sendiri pengaruh dari pilihan yang kita buat sehingga kita salah memilih. Untuk itu, kita perlu mengendalikan diri dengan menahan keinginan untuk memilih saat masih ragu seperti dalam kisah “Makna Dibalik segelas air comberan.”
  • Pertimbangkan dengan masak resiko dan pengaruh dari masing-masing pilihan.
  • Belajar memilih pada permasalahan yang sepele terlebih dahulu.
Benarkah Hidup Adalah Soal Pilihan?

Latihan Terbaik Dalam Memilih 

Latihan terbaik dalam memilih adalah menerapkannya pada keseharian kita, terutama dalam bergaul dengan orang-orang di sekitar kita.

Benarkah Hidup Adalah Soal Pilihan?

  • Pilihlah kata-kata yang akan kita ucapkan karena kata-kata dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain. Semakin positif kata-kata yang terucap, semakin positif hasilnya dalam kenyataan. 
  • Pilihlah apa yang akan kita pikirkan, karena pikiran kita menciptakan kesempatan yang kita bahkan tidak tahu akan pernah ada. 
  • Pilihlah respon dan reaksi terhadap segala sesuatu yang terjadi pada diri kita karena perjalanan hidup tidak selalu mulus. Sandungan, kepahitan dan sakit hati mungkin pernah dan akan kita alami. Tapi kita punya pilihan bagaimana merespon peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup ini. 

Kita memang tidak bisa mengendalikan hal-hal yang terjadi pada diri kita, tetapi kita dapat memilih dan mengendalikan pikiran yang akhirnya membentuk sikap kita.    

Penutup

Itulah sekelumit ungkapan perasaan tentang bagaimana memilih. Satu kegiatan yang hampir setiap saat kita lakukan dalam hidup ini.

Dan, memang benar apabila hidup itu adalah pilihan.

Tapi, setiap orang memiliki pendapat yang berbeda sehingga jika ada pendapat yang berbeda atau mendukung ungkapan hati ini, silahkan tambahkan pada kolom komentar dibawah ini.


Semoga bermanfaat..


Benarkah Orang Yang Tidur Larut Malam Cenderung Lebih Sukses?


Benarkah Orang Yang Tidur Larut Malam Cenderung Lebih Sukses? – Satu pertanyaan yang mengganjal ketika melihat kenyataan bahwa orang-orang yang tidurnya larut atau bahkan kurang waktu tidurnya ternyata memiliki kehidupan yang lebih sukses dibandingkan orang yang tidur normal. Sehingga penulis mencoba mencari tahu alasannya, dengan demikian kita bisa menyatakan ini mitos atau fakta.

Benarkah Orang Yang Tidur Larut Malam Cenderung Lebih Sukses?

Pandangan umum mengatakan jika tidur larut atau begadang dianggap sebagai satu kebiasaan buruk yang tidak baik bagi kesehatan. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan baru-baru ini menghasilkan fakta berbeda. Kebiasaan yang dianggap buruk itu malahan mampu meningkatkan kecerdasan penalaran hingga kemampuan amalitik.

Wow, sungguh mengherankan!

Memang banyak pendapat yang menyatakan pro-kontra terhadap kebiasaan tidur larut malam ini. Seperti tidur larut malam dipandang dari kesehatan, tidur larut malam atau begadang menurut budaya Jawa, begadang menurut H. Rhoma Irama dan lain-lain.

Kali ini, mari kita ulas tidur larut malam menurut penelitian. Untuk lebih memahami alasan mengapa orang tidur larut malam cenderung lebih sukses, mari kita ikuti ulasannya berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan.

Tidur Larut Menurut Penelitian

Penelitian dilakukan oleh para ilmuwan dari University Of Madrid dengan sampel 1.000 orang remaja. Hasil penelitian ini menemukan bahwa dari 1.000 orang tersebut, mereka yang suka terjaga hingga larut malam kemudian bangun pada siang hari, memiliki beberapa kualitas yang lebih unggul dibandingkan mereka yang tidur tepat waktu atau lebih dini.

Kelebihan itu menyangkut aspek kecerdasan penalaran, pemikiran konseptual dan analitis.

Memang, mereka yang bangun pagi dan tidur tepat waktu, memiliki prestasi akademik lebih bagus di sekolah. Akan tetapi, untuk masalah kesuksesan karir, mereka yang tidur larut dan bangun siang, ternyata lebih unggul.

Alasan yang dikemukakan oleh para peneliti itu karena hal tersebut disebabkan oleh perilaku yang dilakukan pada saat matahari terbenam cenderung menarik orang tersebut dengan rasa ingin tahu yang lebih besar.

Jim Home, Profesor Psikofisiologi di Loughborough University yang dilansir Medical Daily, mengatakan,
Orang-orang yang bangun pada siang hari, cenderung menjadi orang yang lebih kreatif, ekstrovert, penyair, seniman dan penemu. Sedangkan yang bangun pagi hari lebih banyak berfikir deduktif seperti yang sering dilakukan oleh pegawai negeri dan akuntan.”
Lanjutnya lagi, orang yang tidur lebih larut dan bangun siang hari cenderung lebih sosial dan lebih berorientasi pada manusia.  Sementara orang yang bangun pagi hari cenderung lebih mengutamakan berpikir logis.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal “Emotion” menunjukkan jika orang yang bangun pada pagi hari cenderung merasa lebih bahagia. Hal ini diduga karena jam biologis dari orang yang bangun pagi pada umumnya lebih sesuai dengan kebiasaan masyarakat.

Angkatan Udara Amerika Serikat juga melakukan penelitian tentang kecenderungan tidur larut malam ini. Hasilnya menunjukkan jika orang yang bangun pada siang hari memang lebih unggul dalam berfikir lateral.

Sementara penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari University Of Southhampton, AS, juga menemukan bahwa orang yang tidur larut dan bangun siang, memiliki rata-rata penghasilan yang lebih besar.

Kesimpulan

Itulah pembahasan singkat tentang artikel yang berjudul Benarkah Orang Yang Tidur Larut Malam Cenderung Lebih Sukses?”

Tentang kebenarannya, kembali kepada diri kita masing-masing. Jika dipandang dari semua sisi, keduanya memang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing sehingga mana yang lebih baik terserah pada diri kita sendiri.

Semoga bermanfaat ..

Fokus : Memetik Hikmah Dari Suryakanta Atau Kaca Pembesar

Fokus : Memetik Hikmah Dari Suryakanta Atau Kaca Pembesar – Masih ingatkah kita saat masih sekolah dulu melakukan percobaan menggunakan suryakanta atau kaca pembesar dan kertas. Dimana kertas terbakar setelah suryakanta tersebut berhasil memfokuskan sinar matahari hanya pada satu titik saja. 

Fokus : Memetik Hikmah Dari Suryakanta Atau Kaca Pembesar

Percobaan sederhana tapi mengandung hikmah yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kita terutama apabila kita mampu menerapkannya dalam hidup kita.

Salah satu alasan yang membuat hanya sedikit orang yang dapat meraih apa yang diinginkannya adalah karena kita tidak fokus. Kita tidak pernah berkonsentrasi pada kekuatan yang kita miliki. Pada umumnya, ketika gagal dalam satu bidang kita akan mencoba-coba berbagai bidang lainnya,

Kita tidak pernah memutuskan untuk menguasai suatu bidang khusus saja. Sehingga kemampuan yang kita miliki terhadap satu bidang hanya sedikit saja begitu pula pada bidang-bidang lainnya.

Sebenarnya, manusia diciptakan Tuhan dengan potensi yang tidak terbatas. Akan tetapi, pada kenyataannya hanya sedikit saja orang yang berusaha mencapainya.  Kita memang dapat melakukan apa saja, tetapi kita tidak selalu dapat mengerjakan semuanya seorang diri.

Fokus : Memetik Hikmah Dari Suryakanta Atau Kaca Pembesar

Jangan biarkan orang lain menentukan jalan hidup kita. Jika ini terjadi, maka kita tidak akan fokus pada tujuan hidup kita sendiri. Memang, kita mungkin bisa menjadi orang yang mampu mengerjakan banyak hal, tetapi kita tidak mungkin dapat enguasai semuanya sepenuhnya.

Sehingga sebaiknya hindari menjadi orang yang mampu mengerjakan beberapa pekerjaan atau keahlian, namun tetaplah fokus pada satu keahlian yang kita kuasai dengan baik.

Cara menumbuhkan potensi dengan maksimal
  • Fokus pada satu sasaran utama
  • Fokus pada peningkatan yang berkesinambungan
  • Fokus pada masa depan bukan masa lalu

Dan yang terpenting, fokus pada kekuatan yang kita miliki lalu kembangkan semaksimal mungkin.

Di sinilah, kita harus mencurahkan waktu, energi dan sumber daya yang kita miliki. Terus belajar dan berkembang dan meningkatkan kekuatan kita. Jika kita berhenti, maka habislah kita.

Contoh Orang Yang Berhasil Setelah Fokus Pada Keahliannya

Memang banyak orang yang berhasil di dunia ini dengan menemukan lalu fokus terhadap keahlian atau kemampuannya . Namun, beberapa orang ini adalah orang-orang sederhana yang mampu memfokuskan diri pada kemampuannya masing-masing meskipun mereka tidak mengenyam pendidikan tinggi.

Fokus : Memetik Hikmah Dari Suryakanta Atau Kaca Pembesar

1. Gilang STIKI 

Seorang pemuda yang berasal dari kota Minyak, Balikpapan. Memilih menempuh pendidikan sarjananya di STIKI Malang, namun karena idealismenya yang tinggi, ia tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya.

Setelah mencoba beberapa profesi, akhirnya Gilang memilih fokus di dunia internet marketing dan software house

Kemampuannya ini yang mengantarkannya pada keberhasilan usahanya sehingga dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dengan baik. Saat ini, pemuda ganteng namun rendah hati ini memiliki perusahaan sendiri yang bergerak di bidang software house dan memiliki banyak karyawan.

Salah satu produk softwarenya adalah AKURA atau Akuntansi Rakyat yaitu aplikasi Point Of Sale (POS) ditambah dengan pencatatan akuntansi-nya. Aplikasi ini dibuat untuk para pelaku UMKM dengan harga sangat terjangkau. Untuk melihat detail software AKURA ini silahkan klik DISINI.

2. Agus Tahwa

Pria yang lahir dan besar di Muharto, Malang ini merintis usaha makanan khas orang chinesse yaitu Tahwa.  Perjuangannya dalam memfokuskan diri dalam keahlian membuat kembang tahu ini patut diacungi jempol. Jatuh bangun, beralih profesi dan akhirnya kembali fokus pada bidangnya.

Saat ini, Agus Tahwa, selain di jalan Aris Munandar juga membuka cabang baru di perumahan elit Araya Malang dan Tahwa-nya menjadi salah satu menu unggulan di Hotel Olino, Malang.

Baca juga : 

Itulah beberapa contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari yang kita temui pada orang-orang di sekeliling kita tentang fokus pada satu Keahlian yang dimiliki.

Penutup

Demikian ulasan tentang “Fokus : Memetik Hikmah Dari Suryakanta Atau Kaca Pembesar”, satu percobaan pada masa sekolah yang ternyata mengandung hikmah yang sangat bermanfaat bagi keberhasilan hidup kita.

Semoga bermanfaat..

Menyibak Makna Sabar Dibalik Keberhasilan

Menyibak Makna Sabar Dibalik Keberhasilan – Sabar adalah kata yang sering kita dengar atau diucapkan saat orang lain atau kita sendiri berada dalam kondisi terpuruk atau sedang mengalami ujian hidup. Kata yang memiliki makna dalam namun menjadi hambar karena terlalu sering diucapkan sehingga membuat pesimis pendengarnya.

Mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan.

Bagi yang sedang menghadapi kegagalan atau musibah, terkadang mendengar kata sabar malah menjadi emosi. Akan tetapi jika kita menanggapinya dengan sikap positif, memang itulah yang harus kita lakukan saat Tuhan menguji hambanya. Karena Tuhan mencintai orang-orang yang bersabar.

Saat masih belajar berjalan, jatuh bangun adalah hal yang sering kita lakukan sampai kita dapat berjalan dengan lancar. Demikian juga dalam meraih keberhasilan dalam hidup kita.

Menyibak Makna Sabar Dibalik Keberhasilan

Pepatah lama mengatakan, “Roma tidak dibangun dalam sehari.” Begitu pula dengan kesuksesan tidak dibangun secara instan, apalagi jika itu adalah sebuah kesuksesan jangka panjang.

Dan, untuk mencapai sebuah tujuan atau keinginan, diperlukan kesabaran. Sebuah contoh yang sederhana, bila kita ingin sampai ke rumah atau menuju ke kantor dengan selamat, tentunya kita harus sabar menghadapi kemacetan dan berbagai rintangan lainnya saat berada di jalanan.

Begitu pula untuk menggapai keberhasilan dalam hidup, karena :
Kesabaran adalah pondasi dan kunci utama untuk membangun kesuksesan.

Saat kita dicemooh, ditolak, menghadapi banyak rintangan atau belum memperoleh hasil signifikan dari kerja keras kita selama ini, maka mari bersabar.

Contoh Kesabaran Berbuah Keberhasilan

1. Bill Gates

Sebelum menjadi orang kaya atau orang terkaya di dunia versi majalah Forbes, Bill Gates selama bertahun-tahun menerima pendapatan dari software ciptaannya hanya $2 per hari. Nilai yang lebih rendah dari gaji seorang pegawai rendahan sekalipun di Amerika.

Tapi, Bill Gates tetap sabar dan yakin dalam menjalankan usahanya.

2. J.K. Rowling 

Penulis buku Harry Potter yang sangat laris dan mendunia juga merasakan hal yang sama. Sebelum sebuah penerbit kecil di Inggris, Bloomsbury menerbitkan novel karyanya, J.K. Rowling menghadapi 12 kali penolakan terhadap manuskripnya.

Seandainya J.K. Rowling tidak sabar lalu menyerah dalam menghadapi penolakan-penolakan tersebut, maka kita tidak akan pernah membaca hasil karyanya yang menakjubkan itu dan ia pun tidak berhasil seperti sekarang ini.

Jika saat ini kita sudah merasa bersabar dan belum berhasil dalam meraih tujuan dan cita-cita kita, maka mari tambahkan lagi dosis kesabaran kita.
Perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan adalah terletak pada kesabaran dan ketekunan.


Semoga bermanfaat..

Mari Belajar Tentang Kebersamaan Dari Lebah

Mari Belajar Tentang Kebersamaan Dari Lebah – Salah satu binatang yang memiliki banyak manfaat bagi manusia adalah Lebah. Madu yang dihasilkannya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia sementara sosok lebahnya sendiri cukup ditakuti karena sengatannya dapat membuat kita menjadi panas-dingin hingga berhari-hari.

Mari Belajar Tentang Kebersamaan Dari Lebah

Karena besarnya manfaat madu sehingga Tawon atau Lebah disebutkan di dalam Al Quran yaitu Surat An-Nahl yang artinya Lebah.

Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nahl :
Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” An-Nahl ayat 69.
Kali ini, mari kita belajar tentang kebersamaan dari binatang penghasil madu ini. 

Ternyata, dibalik sengatannya yang menakutkan, Lebah merupakan binatang yang penuh dengan filosofi kebersamaan yang patut menjadi teladan bagi kita.

Mari Belajar Tentang Kebersamaan Dari Lebah


Jika tidak percaya, mari kita amati kehidupan hewan bernama Tawon ini dengan melihatnya dari luar saja tapi jangan coba-coba mengganggunya jika tidak mau di “entup”. Hehehe..

Menurut Dr N Ganapathy, seorang profesor dari Tamil Tandu Agricultural University, mengatakan jika komunitas atau koloni lebah dan manajemen lebah dapat menjadi pelajaran berharga bagi manusia jika mampu menerapkannya.

Dan, dengan menerapkan atau mengadopsi etika kerja lebah, seorang pekerja, kelompok atau komunitas bahkan perusahaan, akan mendapatkan manfaat besar. 

Untuk mengetahui pelajaran apa saja yang bisa kita petik dari Lebah dan kawan-kawannya, mari kita ikuti penjelasan berikut ini.

Mari Belajar Kebersamaan Dari Lebah

Lebah atau Tawon adalah binatang yang tidak bisa hidup sendiri melainkan berkelompok atau berkoloni dengan struktur organisasi yang jelas, aturan dan tata tertib dibawah pimpinan seekor Ratu Lebah. Tanpa itu, mereka tak ubahnya kelompok hewan penyengat liar yang tidak akan memberi manfaat apapun melainkan menebar ketakutan pada orang-orang yang ditemuinya.

1. Lebah Memiliki Pembagian Tugas

Dalam koloninya, seekor lebah, masing-masing memiliki peran dan pembagian tugas yang harus dijalankan dengan baik. Dan, masing-masing memiliki naluri untuk tidak mengganggu tugas dari lebah lain yang bukan menjadi wewenangnya.

Namun, meskipun memiliki tugas dan peran yang berbeda, mereka memiliki satu tujuan yang sama demi kebersamaan.

2. Lebah Memiliki Semangat kerja sama

Para Lebah yang mendapatkan tugas dan peran yang sama memiliki semangat kerja bersama atau team work yang sangat tinggi bukannya berkompetisi.Kerjasama dan hidup rukun bersama rekan kerjanya merupakan hal yang dijunjung tinggi.

Mereka mengutamakan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadinya.

Mari Belajar Tentang Kebersamaan Dari Lebah

3. Lebah Memiliki Kesetiaan

Kesetiaan atau loyalitas adalah kunci kelangsungan hidup jangka panjang yang dimiliki oleh seekor Lebah. Meskipun harus mengulangi pekerjaan yang sama dalam siklus yang sama setiap harinya, Lebah tetap setia melakukan pekerjaannya. 

4. Lebah Adalah Hewan Pekerja keras

Seekor Lebah adalah hewan pekerja keras dan giat bekerja tanpa memikirkan imbalan apa yang akan diterimanya. Ditangan mereka, produksi madu dipertaruhkan sehingga mereka tidak pernah bermalas-malasan.

5. Lebah Adalah Hewan Yang Tepat Waktu

Lebah adalah binatang yang tepat waktu dan tidak boleh ada kata terlambat kecuali jika ada gangguan alam atau gangguan dari manusia. 

6. Lebah Mementingkan Kewajibannya Dulu

Dan, Lebah adalah mementingkan kewajibannya terlebih dahulu baru menuntut haknya. Kepentingan kelompok adalah hal yang harus diutamakan terlebih dahulu, baru kemudian kepentingan pribadinya.  Mengambil madu dan menjaga sarang, semuanya dilakukan demi kepentingan kelompoknya. 

Bagi hewan penghasil madu ini, kewajiban lebih penting daripada haknya meskipun harus berkorban karenanya.

Itulah beberapa filosofi tentang kelompok Lebah yang dapat kita pelajari dan kita jadikan teladan dalam kehidupan bersama keluarga, masyarakat dan kelompok atau komunitas.

Penutup

Alam semesta adalah ayat-ayat Tuhan yang tersirat, begitu pula dengan kehidupan Lebah dan koloninya. Sehingga dapat memberikan manfaat bagi orang-orang yang mau berfikir.

Dengan etos kerja dan kebersamaan yang kuat, Lebah mampu menghasilkan madu yang memberikan banyak manfaat bagi kesehatan manusia, seperti halnya dengan produk UMKM Madumi atau madu murni ini.

Madumi, Madu Alami

Jika anda mau mendapatkan madu dalam kemasan botol kecil dengan harga terjangkau, silahkan hubungi M. Suep dengan Telpon/SMS/WA ke 0851 0249 5353.


Semoga bermanfaat..

Baca Juga :


Tanggapan : Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Tanggapan : Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru – Sejak artikel tentang “Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru” di publish, beragam komentar yang menanggapi muncul dari berbagai daerah. Namun, karena tidak semuanya dapat dimunculkan maka kami hanya menyajikan komentar terbaik saja.

Tanggapan : Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Berikut ini adalah komentar-komentar yang berkaitan dengan tongkat dalam kisah Sunan Kalijaga berguru.

1. Rahmad Wiyanto, Malang

Alumnus FMIPA Brawijaya, SMA Negeri 1 Malang dan SMP Negeri 6 Malang ini merupakan seorang praktisi spiritual yang memiliki sikap andap asor. Namun, laku tirakat dan prihatin sudah menjadi kebiasaan dalam kesehariannya. Berikut komentarnya.

Lek menurutku tongkat yang ditancapkan adalah hanya perumpamaan/sanepo :

Tongkat menghadap ke atas..berarti segala tindak tanduk Billah ( hanya- untuk-karena Allah SWT)
Jogo kali..manusia harus menjaga keseimbangan alam semesta.(lihat QS Ar Rahman).

Sungai (air) adalah faktor dalam kehidupan manusia. Selain 80 persen unsur penting di dalam tubuh manusia berupa air. Air berupa sungai juga menjadi urat nadi ekosistem kehidupan dunia. Secara tersirat filsafat air juga menyadarkan kita tentang keseimbangan alam tersebut.

Di samping ngaji laku berat yang dijalani Raden Sa'id dengan ikhlas beliau sendiri sadar makna (mati=puasa).

Mati (=puasa) adalah rejeki terakhir yang diberikan Allah SWT pada kita. Sehingga kita berusaha melatih dengan cara puasa. Bisa puasa dalam tataran awal(Ramadhan) sampai pada puasa dari hal-hal yang menyebabkan Allah SWT tidak ridho pada kita.

Intisari dakwah adalah mengajak kebaikan dengan cara yang baik pula. Selama jogo kali Raden Sa'id berdakwah untuk dirinya sendiri dengan ikhlas baru setelah kedatangan Sunan Bonang lagi beliau berdakwah untuk semesta.

2. Anang Sudjarwoko, Balikpapan

Seorang praktisi spiritual yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur, menyempatkan memberikan komentar berkaitan dengan laku tirakat seperti yang dilakukan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang
Sunan Bonang
Gambar : www.walisembilan.com

Sunan Bonang paham akan potensi yang ada pada diri Raden Said, putra bangsawan namun berlaku sebagai seorang perampok budiman. Sebelum bertemu Sunan Bonang, Raden Said adalah seorang perampok yang terkenal dan disegani dengan julukan Brandal Lokajaya yang memiliki banyak ilmu kesaktian dan dasar ilmu agama yang cukup,

Sehingga Sunan Bonang yang sedang mencari seseorang yang dapat diandalkan dalam penyebaran agama Islam langsung menggemblengnya dengan ilmu ketuhanan tingkat tinggi termasuk dalam mengenal dirinya sendiri.

Karena, “barang siapa mengenal dirinya niscaya akan mengenal Tuhan.

Dan, setelah mengajarkan tentang ilmu ketuhanan, barulah Sunan Bonang meninggalkannya seorang diri untuk lebih mengerti, memahami dan menerapkan ilmunya dalam kehidupannya.

Jadi, tongkat dalam kisah itu, hanyalah kiasan tentang hubungan vertikal dengan Tuhan yang harus terus tegak berdiri.

Penutup

Itulah dua tanggapan tentang artikel “Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru.” Maknanya adalah menegakkan hubungan vertikal terlebih dahulu sebelum memperkuat hubungan horizontal dengan sesama mahluk Tuhan.

Semoga Bermanfaat..

Artikel Lainnya :


Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru – Satu pertanyaan yang mengganjal di hati ketika mendengar, membaca atau menyaksikan kisah Sunan Kalijaga saat berguru kepada Sunan Bonang. Dimana Raden Said harus menunggu tongkat yang ditancapkan oleh Sunan Bonang di pinggir sungai sampai sang guru kembali menemuinya.

Tongkat yang ditancapkan.

Apakah memang mengandung makna sesungguhnya yaitu sebuah tongkat terbuat dari kayu dengan fungsi sebagai penuntun jalan yang ditancapkan oleh Sunan Bonang untuk menguji kesungguhan dan kesabaran Raden Said, seorang perampok budiman atau memiliki makna tersirat lainnya?

Makna Tongkat Dalam Kisah Sunan Kalijaga Berguru

Dalam kisah yang pernah kita dengar, di pinggir sungai, Brandal Lokajaya menunggui tongkat gurunya tersebut hingga bertahun-tahun lamanya sampai-sampai tidak sempat merawat tubuhnya sehingga rambut, jambang  dan kumisnya tumbuh panjang. Bahkan badannya ditumbuhi lumut dan dikerubuti akar-akar tanaman dan tanaman menjalar lainnya. 

Sehingga orang-orang yang melihatnya menyebutnya sebagai “seng jogo kali” atau “kali jogo” atau penunggu sungai.

Dan, pertapaannya di pinggir sungai berakhir ketika beberapa tahun kemudian Sunan Bonang kembali menemuinya.

Dalam pemikiran saya yang masih dangkal, jika tongkat itu hanyalah tongkat kayu biasa maka perjuangan Sunan Kalijaga memang sangatlah luar biasa mengingat kesungguhan dan kesabarannya yang tinggi dalam usahanya menuntut ilmu. Dan itu bukanlah hal yang sulit bagi orang-orang jaman dulu yang memang gemar laku prihatin.

Namun, jika itu hanya sebuah tongkat biasa saja, fisik manusia memiliki keterabatasan. Jangankan sampai bertahun-tahun, menjalankan laku puasa selama 40 hari lamanya saja tanpa makan dan minum, hanya dapat dilakukan beberapa orang pilihan saja. 

Sedangkan apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, bertahun-tahun lamanya tanpa makan dan minum bahkan beliau sudah tidak memperhatikan kebutuhan badannya lagi, sudah melewati ambang batas kemampuan fisik seorang manusia.

Kecuali beliau sudah mengenal, merasakan dan mengetahui keberadaan rahasia Tuhan yang ada di dalam dirinya. 

Sehingga menurut pendapat penulis, tongkat yang ditancapkan itu adalah satu kiasan tentang pengertian, pemahaman dan penerapan ajaran tauhid yang ditancapkan dalam-dalam ke dasar hati Raden Said.

Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga

Dan setelah meyakini ajaran tauhid tersebut hingga merasuk sampai ke tulang terdalamnya, yang dibutuhkan waktu hingga bertahun-tahun, maka Sang Brandal Lokajaya ini berubah menjadi sosok Wali dan penyebar agama Islam terkenal di pulau Jawa.

Itulah sekelumit penafsiran penulis tentang pengertian tongkat yang ditancapkan di pinggir sungai oleh Sunan Bonang dalam kisah Raden Said berguru.

Jika anda memiliki penafsiran lain tentang hal itu, mari kita berbagi. Silahkan isi pendapat anda pada kolom komentar yang ada dibawah ini.


Semoga bermanfaat..


Batu, Kerikil Dan Pasir : Renungan Tentang Prioritas Hidup

Batu, Kerikil Dan Pasir : Renungan Tentang Prioritas Hidup – Banyak cara bagi para bijaksana untuk memberikan ibarat, nasehat dan pengetahuan bagi kita. Jika sebelumnya tentang Gula, Garam Dan Jarum sebagai renungan dalam kebersamaan, maka kali ini, mari kita pelajari tentang Batu, Kerikil Dan Pasir sebagai renungan tentang prioritas dalam kehidupan kita.

Batu, Kerikil Dan Pasir : Renungan Tentang Prioritas Hidup

Satu benda lagi yang menjadi komponen utama adalah sebuah toples atau bejana atau wadah yang lain.

Terus mau diapakan benda-benda tersebut, lalu apa hubungannya dengan hidup kita?

Untuk mengetahui jawabannya, mari kita ikuti penjelasan berikut ini.

Batu, Kerikil Dan Pasir Dalam Sebuah Toples

Kisah ini mungkin sudah banyak yang mengetahui namun tidak ada salahnya apabila kita membacanya lagi agar kita tidak melupakan makna dibaliknya.

Pada suatau hari, seorang Profesor Filsafat, memulai kuliahnya dengan menaruh toples, batu, kerikil dan pasir di atas mejanya. Satu hal, yang jarang dilakukan sebelumnya sehingga membuat para siswanya bertanya-tanya dalam hati akan tetapi mereka tidak bertanya hanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh pengajarnya saja.

Batu, Kerikil Dan Pasir : Renungan Tentang Prioritas Hidup

Namun, tanpa memberikan penjelasan, sang professor itu mulai mengisi toples kosong itu dengan batu-batu yang ada di mejanya. Ketika toples itu sudah penuh dengan batu, barulah  ia bertanya kepada mahasiswanya, “apakah toples ini sudah penuh?” Serempak mahasiswanya mengangguk.

Profesor itu kembali diam lalu mengambil kerikil-kerikil yang ada  di atas meja dan dengan perlahan menuangkan kerikil tersebut ke dalam toples. Ketika kerikil-kerikil itu tidak dapat masuk ke dalam toples, ia mengguncang-guncang toples itu hingga kerikil dapat mengisi celah-celah kosong di dalamnya.

Lalu, ketika kerikil sudah tidak muat lagi, kembali sang professor bertanya, “apakah toples ini sudah penuh?” Dan, kembali pula para mahasiswa menjawab dengan menganggukkan kepala tanda setuju.

Sekarang, para mahasiswa mulai mengetahui apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh pengajarnya itu, namun mereka masih belum paham akan maksudnya.

Seperti yang mereka perkirakan, Profesor itu mengambil pasir dan menuangkannya ke dalam toples yang sudah berisi batu dan kerikil. Seperti kerikil tadi, butiran pasir-pasir itu mengisi setiap ruang yang masih tersisa di dalam stoples.  Dan, ketika toples itu sudah penuh dengan batu, kerikil dan pasir, sekali lagi professor itu menanyakan kepada mahasiswanya yang dijawab dengan anggukan kepala bersama-sama.

Setelah diam beberapa saat, Profesor itu kemudian menjelaskan bahwa toples kosong adalah analogi bagi kehidupan, sedangkan batu adalah symbol dari hal yang paling penting dalam hidup kita, seperti  kesehatan, pasangan, anak-anak, dan semua hal yang membuat hidup menjadi lengkap.

Dan, pasir diumpamakan sebagai hal-hal lebih kecil yang membuat hidup kita menjadi nyaman seperti pekerjaan, rumah, dan kendaraan. Lalu, yang terakhir yaitu pasir adalah perumpamaan dari hal-hal kecil yang tidak terlalu penting di dalam hidup kita.

Batu, Kerikil Dan Pasir : Renungan Tentang Prioritas Hidup

Tujuan sang professor meletakkan pertama kali batu-batu dalam toples kosong adalah untuk meletakkan hal-hal penting terlebih dahulu dalam hidup kita sehingga mengurangi ruang untuk kerikil dan pasir.

Setelah itu, barulah kita menempatkan kerikil dan pasir secara berurutan ke dalam toples seperti halnya kita menempatkan hal-hal lainnya sesuai dengan kepentingannya dalam hidup kita.

Dengan mengisi batu-batu terlebih dahulu lalu kerikil dan pasir ke dalam toples berarti kita sudah melakukan hal yang benar. Mengisi hidup kita dengan hal-hal yang besar terlebih dahulu lalu mengisinya lagi dengan hal-hal sesuai dengan prioritasnya.

Jangan mengisi hidup kita dengan hal-hal kecil terlebih dahulu karena tidak akan ada ruang lagi untuk melakukan hal-hal yang besar dan benar-benar berharga.

Itulah hal yang ingin disampaikan Sang Profesor kepada mahasiswanya. Tentang mengisi hidup kita dengan hal-hal sesuai dengan prioritasnya.

Penutup

Hal-hal sederhana dalam kehidupan kadang lepas dari pengamatan kita. Dan, tidak jarang kita membiarkan hidup yang kita jalani dengan hal-hal yang kurang berharga lalu mengabaikan hal-hal yang berharga atau justru yang paling berharga.

Mungkin, dengan membaca artikel ini, kita menjadi sadar lalu mulai menata lagi kehidupan yang sedang kita jalani. Senyampang masih ada waktu untuk mengubahnya.



Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup – Saat kembali menulis di blog ini, kenangan 25 tahun silam seolah membayang di depan mata. Ketika semalaman dipaksa oleh Kakek saya untuk memperhatikan segelas air comberan yang diambil dari parit di depan rumahnya. Saya bingung, tapi karena rasa ingin tahu yang besar tentang maknanya yang tersembunyi, maka saya menuruti saja perintah beliau.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup


Sampai dirumah kakek, ditengah belantara Alas Purwo, Banyuwangi, perasaan was-was dan khawatir seketika jadi hilang. Saya merasa tenang karena menganggap Kakek saya dapat menyelesaikan permasalahan yang tengah saya hadapi.

Kerasnya kehidupan kota Jakarta, memaksa saya untuk mengambil jalan kekerasan yang berujung dengan masalah hokum. Namun, karena belum siap menghadapi urusan yang bakal mengantarkan ke balik terali besi, saya melarikan diri. Hingga akhirnya, sampai di ujung timur pulau Jawa ini.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup

Bagi saya, Kakek adalah harapan terakhir yang dapat menyelesaikan permasalahan yang mengganggu ketenangan hidup saya. Karena beliau adalah sosok bijaksana dan disegani oleh masyarakat Suku Oseng, Banyuwangi.

Maka, tujuan pelarian saya hanyalah satu, rumah Kakek yang berada di Alas Purwo, Banyuwangi.  Meskipun harus bersusah payah dalam melakukan perjalanan jauh dari Jakarta menuju kota Blambangan dengan berganti kendaraan beberapa kali,akhirnya sampai juga di Alas Purwo, Banyuwangi, yang terkenal angker.

Namun, rupanya, Kakek saya mengetahui apa yang telah menimpa cucunya. Sehingga saat mengetuk pintu rumahnya, beliau sendiri yang membuka pintunya seolah sudah menunggu kedatangan saya. Lalu, beliau memberi saya sebuah gelas kosong dan menyuruh mengambil air yang ada di parit.

Setelah itu, tanpa ada basa-basi dan hidangan apapun, beliau menyuruh saya memperhatikan segelas air comberan tersebut dan tidak boleh tidur barang sekejap. Kemudian beliau meninggalkan saya sendirian di ruang tamu.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan

Meskipun sambil menggerutu, saya dengan terpaksa memperhatikan segelas air comberan itu. Air di dalam gelas itu berwarna coklat kehitaman dan kotor sekali karena kebetulan habis turun hujan.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup

Satu jam pertama, saya tidak mengerti apa maksud kakek menyuruh memperhatikan segelas air dari parit itu. Saya duduk dan menaruh segelas air kotor itu di atas meja lalu melihatnya dengan penuh keheranan. Semenit kemudian, saya berganti posisi lalu kembali lagi ke posisi duduk semula, begitu seterusnya.

Dan tidak ada perubahan apapun di dalamnya, sehingga saya memilih mondar-mandir sambil mengawasinya.

Lelah berjalan, saya kembali duduk dan memperhatikan lagi segelas air parit itu. Masih sama, Cuma warnanya sedikit lebih bening dibandingkan semula.

Tiga jam kemudian, rasa kantuk menyerang sehingga saya berusaha mengusirnya dengan berjalan mondar-mandir mengitari ruang tamu. Saat kaki lelah melangkah, saya kembali duduk dan memperhatikan lagi segelas air kotor itu lalu jalan lagi mengusir kantuk. Duduk lalu jalan kemudian duduk lagi selanjutnya jalan lagi, itulah yang saya lakukan semalaman.

Karena sibuk mengatasi rasa kantuk, saya tidak begitu memperhatikan perubahan yang terjadi pada segelas air comberan itu. 

Hingga, tepat dini hari, Kakek keluar.

Coba perhatikan segelas air itu,” katanya tenang sambil menunjuk segelas air parit yang ada di meja.

Saya bergegas memperhatikannya. Segelas air comberan itu telah berubah. Warnanya menjadi bening dan kotoran-kotorannya mengendap di dasar gelas. Namun, saya masih bingung.

Ketika semalam kamu datang kemari, hati dan pikiranmu tak beda dengan air comberan yang ada di dalam gelas itu, keruh dan kotor. Sehingga kamu tidak akan mengerti dan memahami meskipun kakek memberikan nasehat sebagus apapun.” Kata kakek.

Sekarang, air comberan itu sudah berubah. Kotoran-kotorannya telah mengendap sehingga airnya menjadi bening. Dan sekarang, kamu bisa melihat kotoran apa saja yang ada di dalam gelas itu.” Lanjut Kakek.

Ya kek.” Jawabku sambil menundukkan wajah.

Seperti segelas air comberan itu, seharusnya kamu mengendapkan hati dan pikiranmu terlebih dahulu sebelum mengambil satu keputusan! Jangan menuruti emosi dan hawa nafsumu saja! Sekarang kamu merasakan akibatnya.” Tegur Kakek.

Maaf Kek, memang saya terbawa emosi. Tapi, apa yang harus saya lakukan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan saya?

Tinggallah disini selama seminggu, setelah itu, selesaikan masalahmu! Apapun resikonya kamu harus terima!” Perintah Kakek tegas, membuat saya tidak mungkin menolaknya.

Begitulah, setelah seminggu tinggal di Banyuwangi, saya kembali ke Jakarta dan mempertanggung-jawabkan perbuatan yang telah saya lakukan. Untungnya, korban dan keluarganya mau memaafkan kesalahan saya dan tidak memperpanjang lagi urusannya ke jalur hokum.

Namun, kejadian ini sudah cukup menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya sehingga berusaha tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Setiap kali terpancing emosi, saya berusaha mengenang kembali makna dibalik segelas air comberan.

Penutup

Itulah kisah pengalaman pribadi penulis yang berhubungan dengan segelas air comberan, satu renungan hidup yang dapat kita jadikan bahan pelajaran sebelum mengambil satu keputusan.

Ketika kita sedang emosi, hati dan pikiran tak ubahnya seperti segelas air parit yang kotor sehingga harus diendapkan terlebih dahulu. Dengan mengetahui kotoran-kotoran yang ada di dasar gelas, maka kita akan mengetahui kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan lalu mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikannya.


Semoga Bermanfaat..







Gula, Garam Dan Jarum : Satu Renungan Dalam Kebersamaan

Gula, Garam Dan Jarum : Satu Renungan Dalam Kebersamaan – Dalam kehidupan social baik dalam lingkungan bermasyarakat, organisasi maupun komunitas, selalu bersentuhan dengan orang lain yang memiliki berbagai macam sifat dan karakter. Sehingga ada semacam perumpamaan atau pengandaian yang menggambarkan diri kita saat berada dalam satu kelompok yaitu seperti gula, garam dan jarum yang ditaruh ke dalam segelas air putih.

Mungkin muncul pertanyaan dalam benak kita, “apa hubungannya?”

Segelas air diibaratkan adalah kelompok atau komunitas sedangkan gula, garam dan jarum adalah diri kita. Ketika masuk ke dalam satu komunitas maka kita akan berinteraksi dan bereaksi dengan lingkungan sekitarnya termasuk orang-orang di dalamnya.

Gula, Garam Dan Jarum : Satu Renungan Dalam Kebersamaan


Ada tiga pilihan bagi kita, mau menjadi gula, garam atau jarum?

Jika kita menjadi gula, ketika ditaruh dalam segelas air maka gula tersebut akan larut di dalamnya dan memberi rasa manis.

Gula dan garam
Gula dan Garam

Ketika menjadi garam dan ditaruh ke dalam segelas air, maka garam itupun akan larut di dalamnya dan memberikan rasa asin.

Namun, ketika kita menjadi jarum yang dimasukkan ke dalam segelas air, maka jarum itu tidak dapat menyatu dengan air dan tidak pula memberi rasa apapun melainkan rasa khawatir jika ada orang yang akan tertusuk jarum ketika meminum segelas air tersebut.

Jarum
Jarum

Jarum tersebut tetap menjadi dirinya sendiri yaitu sebuah logam yang runcing dan tajam serta tidak mau berubah mengikuti kondisi sekitarnya. Sehingga jarum tersebut menjadi semacam duri dalam daging yang membuat tubuh merasa sakit.

Dan, seharusnya jarum tidak berada dalam segelas air melainkan bersama benang, kain dan penjahit atau berada ditangan seorang dokter atau bersama ibu-ibu sesuai dengan keperluannya.

Nah, itulah gambaran diri kita saat berada dalam satu komunitas atau kelompok. Mau memberi rasa manis, asin dan lain-lain tidaklah menjadi masalah asalkan mampu menyatu dengan lingkugan sekitarnya.

Jangan menjadi jarum yang tetap menjadi dirinya sendiri dan tidak mau mengerti atau peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam bersabda :
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”
Bukan berarti jarum tidak memiliki manfaat apapun, namun dalam segelas air, jarum tersebut tidak memberi manfaat sama sekali. Berbeda halnya jika jarum bersama benang dan kain.

Itulah sebuah renungan dalam kebersamaan. Setiap orang bebas memilih mau menjadi apa saja, namun perumpamaan diatas kiranya dapat memberikan inspirasi sehingga kita dapat memilih menjadi sesuatu yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitar kita.

Semoga bermanfaat..

Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali

Puter Giling Kalimantan – Satu lagi misteri tentang bumi Kalimantan yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan renungan dan peringatan bagi kita yaitu tentang ilmu puter giling dari Borneo. Satu ilmu yang membuat seseorang tidak bisa meninggalkan tanah Kalimantan atau pulang kembali ke kampungnya apabila telah berbuat kesalahan terutama dalam hubungan cinta.

Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali

Jika sebelumnya sudah kita bahas tentang alat vital yang bisa hilang saat berbuat salah, maka kali ini juga merupakan satu kisah nyata yang dialami oleh seorang teman. Sebut saja namanya Anto, seorang perantauan dari kota Malang.


Anto Dan Puter Giling Kalimantan

Pada tahun 1980 an, Anto adalah seorang pemuda gagah yang penuh gairah hidup. Selain sebagai seorang teknisi di perusahaan asing, Anto adalah seorang atlet tinju yang pernah merasakan medali perak PON. Sehingga memiliki postur tubuh yang atletis dan gagah.

Namun, kelebihannya itu tidak diimbangi dengan sikap mental yang baik apalagi ia banyak bergaull dengan karyawan ekspatriat dengan gaya hidup ala kebarat-baratan. Sehingga Anto pun terpengaruh dengan gaya hidup mereka lalu meninggalkan adat ketimuran yang penuh etika dan tata karma.

Selain akrab dengan minuman keras, kebiasaan gonta-ganti pasangan juga menjadi salah satu perilaku buruk yang dianutnya. Maklum, secara materi ia cukup. Pekerjaannya di perusahaan asing mendapatkan imbalan gaji yang lebih sehingga gaya hidupnya pun turut berubah.

Petualangan cintanya pun semakin menggila, dengan penghasilannya yang diatas rata-rata, ia bisa memilih wanita yang disukainya. Hampir wanita dari berbagai suku yang ada di kota Samarinda, tempatnya tinggal, pernah menjalin hubungan dengannya.

Namun, seperti peribahasa, “sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga.”  Begitu pula yang terjadi dengan petualangan cinta Anto.

Gadis Dayak
Gadis Dayak

Semenjak kenal dengan gadis cantik dari pedalaman Kalimantan, Anto memutuskan untuk tinggal serumah tanpa ikatan resmi atau kumpul kebo dengannya. Anto cukup paham dengan budaya dan pantangan saat menjalin hubungan dengan wanita pedalaman termasuk salah satunya adalah tidak pernah mengucapkan janji akan menikahinya.

Namun, meskipun  berusaha berhati-hati, kelepasan juga akhirnya sehingga terucap janji untuk menikahi pasangan samen lavennya itu.

Dasar buaya,setelah beberapa bulan bersama, Anto merasa bosan juga lalu berniat meninggalkan pasangannya tersebut. Jika ia mengutarakan dengan terus terang untuk memutuskan hubungan, resikonya cukup berbahaya, maka ia merencanakan untuk meninggalkan pasangannya dengan diam-diam.

Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali


Kebetulan, teman satu kampung mengajaknya pulang ke Malang karena akan menikah. Maka, Anto menggunakan alasan mengantarkan temannya tersebut untuk meninggalkan pasangannya. Tiket kapal laut sudah dipegang, maka berdua bersama teman satu kampungnya Anto menuju pelabuhan Semayang, Balikpapan menuju Surabaya.  

Tiba di pelabuhan Semayang, Balikpapan. Anto merasa lega karena selangkah lagi ia dapat menyelesaikan rencana untuk meninggalkan pasangannya. Namun, entah mengapa, ia terpisah dengan teman perjalanannya. Tapi ia tidak menjadi bingung karena ia memegang sendiri tiket kapal laut itu.

Sambil menghisap sebatang rokok, ia menunggu keberangkatan kapal yang akan mengantarnya ke pulau Jawa. Tapi, setelah menunggu hampir dua jam, kapal yang akan mengantarnya belum juga berangkat, maka ia bergegas bertanya kepada petugas pelabuhan sambil menunjukkan tiketnya.

Ternyata, kapalnya sudah berangkat satu jam yang lalu. Dan, itu kapal terakhir yang berangkat ke Surabaya pada hari itu.

Anto menjadi kebingungan sendiri. Padahal saat ia menunggu, banyak penumpang lainnya yang duduk bersamanya, namun, saat mereka berangkat, ia tidak mengetahuinya sama sekali. Sehingga rencananya gagal.

Tidak putus asa, sebulan berikutnya, Anto kembali ke pelabuhan Semayang dengan tiket kapal yang sudah dipesannya beberapa hari sebelumnya. Niatnya sama, mau meninggalkan pasangannya. Akan tetapi, kejadian ketinggalan kapal terulang lagi. Dan, Anto kembali gagal.

Dua kali gagal tidak menyurutkan langkah Anto untuk meninggalkan pasangan samen avennya itu. Kali ini, ia berencana naik pesawat terbang. Dan, ia sudah berada di bandara Sepinggan tepat satu jam sebelum keberangkatannya. Setelah check in, ia duduk di ruang tunggu keberangkatan bersama penumpang lainnya.

Tiba-tiba, ia tertidur dalam posisi duduk. Dan, bangun ketika pesawatnya sudah berangkat. Sambil menyumpah-nyumpah tidak karuan, Anto kembali pulang ke Samarinda.

Begitu seterusnya, setiap kali ia berusaha meninggalkan kekasih gelapnya itu, meskipun menggunakan berbagai moda transportasi bermacam-macam, usahanya selalu gagal dan ia pulang kembali ke pangkuan pasangannya lagi.

Itulah pengalaman dari Anto, seorang perantauan dari kota Malang, yang pernah merasakan bagaimana pengaruh ilmu puter giling dari Kalimantan.

Penutup

Demikian sekelumit kisah nyata dari seorang teman yang pernah merasakan misteri ilmu puter giling dari Kalimantan sehingga tidak bisa pulang kembali ke kampung halamannya.

Menurut pengamatan penulis, semua itu adalah buah dari perbuatannya sendiri. Dimana pun kita berada, memang sudah semestinya tidak mengobral janji apalagi janji untuk menikah dengan seseorang. Karena janji akan dibawa sampai mati maka janganlah berjanji apabila tidak mampu menepatinya.