Batu, Kerikil Dan Pasir : Renungan Tentang Prioritas Hidup

Batu, Kerikil Dan Pasir : Renungan Tentang Prioritas Hidup – Banyak cara bagi para bijaksana untuk memberikan ibarat, nasehat dan pengetahuan bagi kita. Jika sebelumnya tentang Gula, Garam Dan Jarum sebagai renungan dalam kebersamaan, maka kali ini, mari kita pelajari tentang Batu, Kerikil Dan Pasir sebagai renungan tentang prioritas dalam kehidupan kita.

Batu, Kerikil Dan Pasir : Renungan Tentang Prioritas Hidup

Satu benda lagi yang menjadi komponen utama adalah sebuah toples atau bejana atau wadah yang lain.

Terus mau diapakan benda-benda tersebut, lalu apa hubungannya dengan hidup kita?

Untuk mengetahui jawabannya, mari kita ikuti penjelasan berikut ini.

Batu, Kerikil Dan Pasir Dalam Sebuah Toples

Kisah ini mungkin sudah banyak yang mengetahui namun tidak ada salahnya apabila kita membacanya lagi agar kita tidak melupakan makna dibaliknya.

Pada suatau hari, seorang Profesor Filsafat, memulai kuliahnya dengan menaruh toples, batu, kerikil dan pasir di atas mejanya. Satu hal, yang jarang dilakukan sebelumnya sehingga membuat para siswanya bertanya-tanya dalam hati akan tetapi mereka tidak bertanya hanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh pengajarnya saja.

Batu, Kerikil Dan Pasir : Renungan Tentang Prioritas Hidup

Namun, tanpa memberikan penjelasan, sang professor itu mulai mengisi toples kosong itu dengan batu-batu yang ada di mejanya. Ketika toples itu sudah penuh dengan batu, barulah  ia bertanya kepada mahasiswanya, “apakah toples ini sudah penuh?” Serempak mahasiswanya mengangguk.

Profesor itu kembali diam lalu mengambil kerikil-kerikil yang ada  di atas meja dan dengan perlahan menuangkan kerikil tersebut ke dalam toples. Ketika kerikil-kerikil itu tidak dapat masuk ke dalam toples, ia mengguncang-guncang toples itu hingga kerikil dapat mengisi celah-celah kosong di dalamnya.

Lalu, ketika kerikil sudah tidak muat lagi, kembali sang professor bertanya, “apakah toples ini sudah penuh?” Dan, kembali pula para mahasiswa menjawab dengan menganggukkan kepala tanda setuju.

Sekarang, para mahasiswa mulai mengetahui apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh pengajarnya itu, namun mereka masih belum paham akan maksudnya.

Seperti yang mereka perkirakan, Profesor itu mengambil pasir dan menuangkannya ke dalam toples yang sudah berisi batu dan kerikil. Seperti kerikil tadi, butiran pasir-pasir itu mengisi setiap ruang yang masih tersisa di dalam stoples.  Dan, ketika toples itu sudah penuh dengan batu, kerikil dan pasir, sekali lagi professor itu menanyakan kepada mahasiswanya yang dijawab dengan anggukan kepala bersama-sama.

Setelah diam beberapa saat, Profesor itu kemudian menjelaskan bahwa toples kosong adalah analogi bagi kehidupan, sedangkan batu adalah symbol dari hal yang paling penting dalam hidup kita, seperti  kesehatan, pasangan, anak-anak, dan semua hal yang membuat hidup menjadi lengkap.

Dan, pasir diumpamakan sebagai hal-hal lebih kecil yang membuat hidup kita menjadi nyaman seperti pekerjaan, rumah, dan kendaraan. Lalu, yang terakhir yaitu pasir adalah perumpamaan dari hal-hal kecil yang tidak terlalu penting di dalam hidup kita.

Batu, Kerikil Dan Pasir : Renungan Tentang Prioritas Hidup

Tujuan sang professor meletakkan pertama kali batu-batu dalam toples kosong adalah untuk meletakkan hal-hal penting terlebih dahulu dalam hidup kita sehingga mengurangi ruang untuk kerikil dan pasir.

Setelah itu, barulah kita menempatkan kerikil dan pasir secara berurutan ke dalam toples seperti halnya kita menempatkan hal-hal lainnya sesuai dengan kepentingannya dalam hidup kita.

Dengan mengisi batu-batu terlebih dahulu lalu kerikil dan pasir ke dalam toples berarti kita sudah melakukan hal yang benar. Mengisi hidup kita dengan hal-hal yang besar terlebih dahulu lalu mengisinya lagi dengan hal-hal sesuai dengan prioritasnya.

Jangan mengisi hidup kita dengan hal-hal kecil terlebih dahulu karena tidak akan ada ruang lagi untuk melakukan hal-hal yang besar dan benar-benar berharga.

Itulah hal yang ingin disampaikan Sang Profesor kepada mahasiswanya. Tentang mengisi hidup kita dengan hal-hal sesuai dengan prioritasnya.

Penutup

Hal-hal sederhana dalam kehidupan kadang lepas dari pengamatan kita. Dan, tidak jarang kita membiarkan hidup yang kita jalani dengan hal-hal yang kurang berharga lalu mengabaikan hal-hal yang berharga atau justru yang paling berharga.

Mungkin, dengan membaca artikel ini, kita menjadi sadar lalu mulai menata lagi kehidupan yang sedang kita jalani. Senyampang masih ada waktu untuk mengubahnya.



Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup – Saat kembali menulis di blog ini, kenangan 25 tahun silam seolah membayang di depan mata. Ketika semalaman dipaksa oleh Kakek saya untuk memperhatikan segelas air comberan yang diambil dari parit di depan rumahnya. Saya bingung, tapi karena rasa ingin tahu yang besar tentang maknanya yang tersembunyi, maka saya menuruti saja perintah beliau.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup


Sampai dirumah kakek, ditengah belantara Alas Purwo, Banyuwangi, perasaan was-was dan khawatir seketika jadi hilang. Saya merasa tenang karena menganggap Kakek saya dapat menyelesaikan permasalahan yang tengah saya hadapi.

Kerasnya kehidupan kota Jakarta, memaksa saya untuk mengambil jalan kekerasan yang berujung dengan masalah hokum. Namun, karena belum siap menghadapi urusan yang bakal mengantarkan ke balik terali besi, saya melarikan diri. Hingga akhirnya, sampai di ujung timur pulau Jawa ini.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup

Bagi saya, Kakek adalah harapan terakhir yang dapat menyelesaikan permasalahan yang mengganggu ketenangan hidup saya. Karena beliau adalah sosok bijaksana dan disegani oleh masyarakat Suku Oseng, Banyuwangi.

Maka, tujuan pelarian saya hanyalah satu, rumah Kakek yang berada di Alas Purwo, Banyuwangi.  Meskipun harus bersusah payah dalam melakukan perjalanan jauh dari Jakarta menuju kota Blambangan dengan berganti kendaraan beberapa kali,akhirnya sampai juga di Alas Purwo, Banyuwangi, yang terkenal angker.

Namun, rupanya, Kakek saya mengetahui apa yang telah menimpa cucunya. Sehingga saat mengetuk pintu rumahnya, beliau sendiri yang membuka pintunya seolah sudah menunggu kedatangan saya. Lalu, beliau memberi saya sebuah gelas kosong dan menyuruh mengambil air yang ada di parit.

Setelah itu, tanpa ada basa-basi dan hidangan apapun, beliau menyuruh saya memperhatikan segelas air comberan tersebut dan tidak boleh tidur barang sekejap. Kemudian beliau meninggalkan saya sendirian di ruang tamu.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan

Meskipun sambil menggerutu, saya dengan terpaksa memperhatikan segelas air comberan itu. Air di dalam gelas itu berwarna coklat kehitaman dan kotor sekali karena kebetulan habis turun hujan.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup

Satu jam pertama, saya tidak mengerti apa maksud kakek menyuruh memperhatikan segelas air dari parit itu. Saya duduk dan menaruh segelas air kotor itu di atas meja lalu melihatnya dengan penuh keheranan. Semenit kemudian, saya berganti posisi lalu kembali lagi ke posisi duduk semula, begitu seterusnya.

Dan tidak ada perubahan apapun di dalamnya, sehingga saya memilih mondar-mandir sambil mengawasinya.

Lelah berjalan, saya kembali duduk dan memperhatikan lagi segelas air parit itu. Masih sama, Cuma warnanya sedikit lebih bening dibandingkan semula.

Tiga jam kemudian, rasa kantuk menyerang sehingga saya berusaha mengusirnya dengan berjalan mondar-mandir mengitari ruang tamu. Saat kaki lelah melangkah, saya kembali duduk dan memperhatikan lagi segelas air kotor itu lalu jalan lagi mengusir kantuk. Duduk lalu jalan kemudian duduk lagi selanjutnya jalan lagi, itulah yang saya lakukan semalaman.

Karena sibuk mengatasi rasa kantuk, saya tidak begitu memperhatikan perubahan yang terjadi pada segelas air comberan itu. 

Hingga, tepat dini hari, Kakek keluar.

Coba perhatikan segelas air itu,” katanya tenang sambil menunjuk segelas air parit yang ada di meja.

Saya bergegas memperhatikannya. Segelas air comberan itu telah berubah. Warnanya menjadi bening dan kotoran-kotorannya mengendap di dasar gelas. Namun, saya masih bingung.

Ketika semalam kamu datang kemari, hati dan pikiranmu tak beda dengan air comberan yang ada di dalam gelas itu, keruh dan kotor. Sehingga kamu tidak akan mengerti dan memahami meskipun kakek memberikan nasehat sebagus apapun.” Kata kakek.

Sekarang, air comberan itu sudah berubah. Kotoran-kotorannya telah mengendap sehingga airnya menjadi bening. Dan sekarang, kamu bisa melihat kotoran apa saja yang ada di dalam gelas itu.” Lanjut Kakek.

Ya kek.” Jawabku sambil menundukkan wajah.

Seperti segelas air comberan itu, seharusnya kamu mengendapkan hati dan pikiranmu terlebih dahulu sebelum mengambil satu keputusan! Jangan menuruti emosi dan hawa nafsumu saja! Sekarang kamu merasakan akibatnya.” Tegur Kakek.

Maaf Kek, memang saya terbawa emosi. Tapi, apa yang harus saya lakukan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan saya?

Tinggallah disini selama seminggu, setelah itu, selesaikan masalahmu! Apapun resikonya kamu harus terima!” Perintah Kakek tegas, membuat saya tidak mungkin menolaknya.

Begitulah, setelah seminggu tinggal di Banyuwangi, saya kembali ke Jakarta dan mempertanggung-jawabkan perbuatan yang telah saya lakukan. Untungnya, korban dan keluarganya mau memaafkan kesalahan saya dan tidak memperpanjang lagi urusannya ke jalur hokum.

Namun, kejadian ini sudah cukup menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya sehingga berusaha tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Setiap kali terpancing emosi, saya berusaha mengenang kembali makna dibalik segelas air comberan.

Penutup

Itulah kisah pengalaman pribadi penulis yang berhubungan dengan segelas air comberan, satu renungan hidup yang dapat kita jadikan bahan pelajaran sebelum mengambil satu keputusan.

Ketika kita sedang emosi, hati dan pikiran tak ubahnya seperti segelas air parit yang kotor sehingga harus diendapkan terlebih dahulu. Dengan mengetahui kotoran-kotoran yang ada di dasar gelas, maka kita akan mengetahui kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan lalu mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikannya.


Semoga Bermanfaat..







Gula, Garam Dan Jarum : Satu Renungan Dalam Kebersamaan

Gula, Garam Dan Jarum : Satu Renungan Dalam Kebersamaan – Dalam kehidupan social baik dalam lingkungan bermasyarakat, organisasi maupun komunitas, selalu bersentuhan dengan orang lain yang memiliki berbagai macam sifat dan karakter. Sehingga ada semacam perumpamaan atau pengandaian yang menggambarkan diri kita saat berada dalam satu kelompok yaitu seperti gula, garam dan jarum yang ditaruh ke dalam segelas air putih.

Mungkin muncul pertanyaan dalam benak kita, “apa hubungannya?”

Segelas air diibaratkan adalah kelompok atau komunitas sedangkan gula, garam dan jarum adalah diri kita. Ketika masuk ke dalam satu komunitas maka kita akan berinteraksi dan bereaksi dengan lingkungan sekitarnya termasuk orang-orang di dalamnya.

Gula, Garam Dan Jarum : Satu Renungan Dalam Kebersamaan


Ada tiga pilihan bagi kita, mau menjadi gula, garam atau jarum?

Jika kita menjadi gula, ketika ditaruh dalam segelas air maka gula tersebut akan larut di dalamnya dan memberi rasa manis.

Gula dan garam
Gula dan Garam

Ketika menjadi garam dan ditaruh ke dalam segelas air, maka garam itupun akan larut di dalamnya dan memberikan rasa asin.

Namun, ketika kita menjadi jarum yang dimasukkan ke dalam segelas air, maka jarum itu tidak dapat menyatu dengan air dan tidak pula memberi rasa apapun melainkan rasa khawatir jika ada orang yang akan tertusuk jarum ketika meminum segelas air tersebut.

Jarum
Jarum

Jarum tersebut tetap menjadi dirinya sendiri yaitu sebuah logam yang runcing dan tajam serta tidak mau berubah mengikuti kondisi sekitarnya. Sehingga jarum tersebut menjadi semacam duri dalam daging yang membuat tubuh merasa sakit.

Dan, seharusnya jarum tidak berada dalam segelas air melainkan bersama benang, kain dan penjahit atau berada ditangan seorang dokter atau bersama ibu-ibu sesuai dengan keperluannya.

Nah, itulah gambaran diri kita saat berada dalam satu komunitas atau kelompok. Mau memberi rasa manis, asin dan lain-lain tidaklah menjadi masalah asalkan mampu menyatu dengan lingkugan sekitarnya.

Jangan menjadi jarum yang tetap menjadi dirinya sendiri dan tidak mau mengerti atau peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam bersabda :
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”
Bukan berarti jarum tidak memiliki manfaat apapun, namun dalam segelas air, jarum tersebut tidak memberi manfaat sama sekali. Berbeda halnya jika jarum bersama benang dan kain.

Itulah sebuah renungan dalam kebersamaan. Setiap orang bebas memilih mau menjadi apa saja, namun perumpamaan diatas kiranya dapat memberikan inspirasi sehingga kita dapat memilih menjadi sesuatu yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitar kita.

Semoga bermanfaat..

Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali

Puter Giling Kalimantan – Satu lagi misteri tentang bumi Kalimantan yang menarik untuk dijadikan sebagai bahan renungan dan peringatan bagi kita yaitu tentang ilmu puter giling dari Borneo. Satu ilmu yang membuat seseorang tidak bisa meninggalkan tanah Kalimantan atau pulang kembali ke kampungnya apabila telah berbuat kesalahan terutama dalam hubungan cinta.

Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali

Jika sebelumnya sudah kita bahas tentang alat vital yang bisa hilang saat berbuat salah, maka kali ini juga merupakan satu kisah nyata yang dialami oleh seorang teman. Sebut saja namanya Anto, seorang perantauan dari kota Malang.


Anto Dan Puter Giling Kalimantan

Pada tahun 1980 an, Anto adalah seorang pemuda gagah yang penuh gairah hidup. Selain sebagai seorang teknisi di perusahaan asing, Anto adalah seorang atlet tinju yang pernah merasakan medali perak PON. Sehingga memiliki postur tubuh yang atletis dan gagah.

Namun, kelebihannya itu tidak diimbangi dengan sikap mental yang baik apalagi ia banyak bergaull dengan karyawan ekspatriat dengan gaya hidup ala kebarat-baratan. Sehingga Anto pun terpengaruh dengan gaya hidup mereka lalu meninggalkan adat ketimuran yang penuh etika dan tata karma.

Selain akrab dengan minuman keras, kebiasaan gonta-ganti pasangan juga menjadi salah satu perilaku buruk yang dianutnya. Maklum, secara materi ia cukup. Pekerjaannya di perusahaan asing mendapatkan imbalan gaji yang lebih sehingga gaya hidupnya pun turut berubah.

Petualangan cintanya pun semakin menggila, dengan penghasilannya yang diatas rata-rata, ia bisa memilih wanita yang disukainya. Hampir wanita dari berbagai suku yang ada di kota Samarinda, tempatnya tinggal, pernah menjalin hubungan dengannya.

Namun, seperti peribahasa, “sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga.”  Begitu pula yang terjadi dengan petualangan cinta Anto.

Gadis Dayak
Gadis Dayak

Semenjak kenal dengan gadis cantik dari pedalaman Kalimantan, Anto memutuskan untuk tinggal serumah tanpa ikatan resmi atau kumpul kebo dengannya. Anto cukup paham dengan budaya dan pantangan saat menjalin hubungan dengan wanita pedalaman termasuk salah satunya adalah tidak pernah mengucapkan janji akan menikahinya.

Namun, meskipun  berusaha berhati-hati, kelepasan juga akhirnya sehingga terucap janji untuk menikahi pasangan samen lavennya itu.

Dasar buaya,setelah beberapa bulan bersama, Anto merasa bosan juga lalu berniat meninggalkan pasangannya tersebut. Jika ia mengutarakan dengan terus terang untuk memutuskan hubungan, resikonya cukup berbahaya, maka ia merencanakan untuk meninggalkan pasangannya dengan diam-diam.

Awas !!! Merantau Ke Kalimantan Tidak Bisa Pulang Kembali


Kebetulan, teman satu kampung mengajaknya pulang ke Malang karena akan menikah. Maka, Anto menggunakan alasan mengantarkan temannya tersebut untuk meninggalkan pasangannya. Tiket kapal laut sudah dipegang, maka berdua bersama teman satu kampungnya Anto menuju pelabuhan Semayang, Balikpapan menuju Surabaya.  

Tiba di pelabuhan Semayang, Balikpapan. Anto merasa lega karena selangkah lagi ia dapat menyelesaikan rencana untuk meninggalkan pasangannya. Namun, entah mengapa, ia terpisah dengan teman perjalanannya. Tapi ia tidak menjadi bingung karena ia memegang sendiri tiket kapal laut itu.

Sambil menghisap sebatang rokok, ia menunggu keberangkatan kapal yang akan mengantarnya ke pulau Jawa. Tapi, setelah menunggu hampir dua jam, kapal yang akan mengantarnya belum juga berangkat, maka ia bergegas bertanya kepada petugas pelabuhan sambil menunjukkan tiketnya.

Ternyata, kapalnya sudah berangkat satu jam yang lalu. Dan, itu kapal terakhir yang berangkat ke Surabaya pada hari itu.

Anto menjadi kebingungan sendiri. Padahal saat ia menunggu, banyak penumpang lainnya yang duduk bersamanya, namun, saat mereka berangkat, ia tidak mengetahuinya sama sekali. Sehingga rencananya gagal.

Tidak putus asa, sebulan berikutnya, Anto kembali ke pelabuhan Semayang dengan tiket kapal yang sudah dipesannya beberapa hari sebelumnya. Niatnya sama, mau meninggalkan pasangannya. Akan tetapi, kejadian ketinggalan kapal terulang lagi. Dan, Anto kembali gagal.

Dua kali gagal tidak menyurutkan langkah Anto untuk meninggalkan pasangan samen avennya itu. Kali ini, ia berencana naik pesawat terbang. Dan, ia sudah berada di bandara Sepinggan tepat satu jam sebelum keberangkatannya. Setelah check in, ia duduk di ruang tunggu keberangkatan bersama penumpang lainnya.

Tiba-tiba, ia tertidur dalam posisi duduk. Dan, bangun ketika pesawatnya sudah berangkat. Sambil menyumpah-nyumpah tidak karuan, Anto kembali pulang ke Samarinda.

Begitu seterusnya, setiap kali ia berusaha meninggalkan kekasih gelapnya itu, meskipun menggunakan berbagai moda transportasi bermacam-macam, usahanya selalu gagal dan ia pulang kembali ke pangkuan pasangannya lagi.

Itulah pengalaman dari Anto, seorang perantauan dari kota Malang, yang pernah merasakan bagaimana pengaruh ilmu puter giling dari Kalimantan.

Penutup

Demikian sekelumit kisah nyata dari seorang teman yang pernah merasakan misteri ilmu puter giling dari Kalimantan sehingga tidak bisa pulang kembali ke kampung halamannya.

Menurut pengamatan penulis, semua itu adalah buah dari perbuatannya sendiri. Dimana pun kita berada, memang sudah semestinya tidak mengobral janji apalagi janji untuk menikah dengan seseorang. Karena janji akan dibawa sampai mati maka janganlah berjanji apabila tidak mampu menepatinya.



Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta

Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta – Ada satu mitos yang berkembang di pulau Kalimantan yaitu alat kemaluan pria akan hilang atau berpindah tempat apabila kita melakukan kesalahan terhadap gadis-gadis pedalaman. Terutama jika sudah menjalin kasih namun sang pria tidak mau lagi melanjutkan hubungannya.

Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta

Cukup menyeramkan.

Saat mendengar cerita ini, sedikit ataupun banyak berpengaruh terhadap mereka yang mendengarnya, termasuk saya sendiri. Sehingga ketika merantau ke Kalimantan, kita akan berhati-hati dalam menjaga pergaulan dengan wanita pedalaman yang terkenal cantik dan berkulit kuning.

Berbeda dengan perantau asal kota Malang terutama yang memiliki jiwa petualang. Kisah-kisah seram seperti itu tidak membuatnya gentar malahan membuat mereka ingin mencoba dan membuktikan kebenarannya. 

Alhasil, mereka pun merasakan akibatnya.

Ada yang tidak bisa pulang ke Jawa lagi, ada yang alat vitalnya tidak berfungsi lagi dan ada pula yang merasakan kehilangan barang kesayangannya tersebut seperti dalam kisah diatas. Barulah, mereka sadar dan menyesal karena berbuat ceroboh dan bersikap sombong di pulau yang penuh misteri ini.

Sehingga jika kita bertanya apakah kisah-kisah tersebut adalah sebuah mitos belaka atau memang sebuah fakta, maka silahkan buktikan sendiri kebenarannya. Tapi, saran saya, jangan coba-coba melakukannya.

Karena penulis bersama teman-teman telah membuktikan kebenaran cerita tersebut. Sebaiknya anda baca juga tentang :

Kisah-kisah tersebut memang pelakunya dibuat fiktif untuk menjaga kerahasiaannya namun jalan ceritanya memang benar-benar terjadi.

Berikut ini adalah beberapa kisah nyata yang pernah dialami oleh teman-teman penulis saat mereka merantau ke Kalimantan.

Tiksan Dan Alat Vitalnya

Tiksan adalah seorang perantau dari kota Malang, tepatnya dari desa Mendalanwangi, Wagir, yang terkenal dengan perkebunan durian Montongnya. Pekerjaannya sebagai seorang pemborong bangunan mengharuskannya keluar masuk pedalaman Kalimantan.


Berbeda dengan Brodin dkk dalam cerita “Kisah Cinta Dalam Seikat Indomie”, Tiksan adalah sosok perantau yang tidak macam-macam. Niatnya merantau hanya untuk bekerja saja, tidak yang lain. Ia adalah seorang penganut agama Budha yang taat.

Namun, meskipun Tiksan tidak berbuat macam-macam dan selalu membatasi hubungannya dengan wanita, tapi malah membuat banyak wanita pedalaman yang penasaran akan sikapnya kemudian tertarik lalu menaruh hati kepadanya. Tapi Tiksan tidak menanggapinya.

Alat Vital Hilang Di Kalimantan : Mitos Atau Fakta
Ilustrasi
Sang gadis pedalaman, sebut saja namanya Omay, semakin penasaran. Di kampungnya, ia adalah bunga desa yang terkenal akan kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Sudah banyak pria yang jatuh hati dan berusaha mendapatkannya, namun ia menolaknya.

Kali ini, ketika perasaannya kepada Tiksan tidak ditanggapi, ia merasa sakit hati lalu mengadukannya kepada orangtuanya. Ayah Omay, menyuruh anaknya mengajak Tiksan ke rumahnya. Maka dengan bujuk rayu dan berbagai alas an, Omay berhasil mengajak Tiksan ke rumahnya yang berada di tengah belantara hutan Kalimantan.

Sesampainya dirumah Omay, Ayah Omay menyatakan kepada Tiksan jika anaknya menyukainya dan mau jadi istrinya. Namun, karena Tiksan sudah memiliki calon istri di Jawa, maka dengan sehalus mungkin, ia menolaknya.

Ayah Omay marah, lalu berkata, “Coba lihat burungmu sekarang!!!

Tiksan kaget lalu dengan reflek ia meraba alat vital kesayangannya. Wajahnya menjadi pucat, jantungnya berdegup kencang ketika mendapati barang kesayangannya tersebut tidak ada ditempatnya.

Lihat itu!!!” kata ayah Omay.

Tiksan mengarahkan pandangannya sesuai petunjuk orangtua itu. Kekagetanya semakin jadi, alat vitalnya berada diatas pintu, tergantung seolah sebuah hiasan. Tiksan terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Namun, kesadarannya perlahan timbul yang menuntunnya pada ajaran-ajaran yang pernah didengarnya, maka ia menetapkan hati dan fikirannya lalu mengarahkan pada sang Maha Pencipta, memohon bantuan dan pertolongannya.

Semua itu hanyalah semu..” Batinnya. Keyakinannya semakin lama semakin bertambah kuat lalu secara perlahan dirabanya lagi alat vitalnya.

Masih ada.” Gumamnya. Dan apa yang dilihatnya diatas pintu, hilang tak berbekas.

Ayah Omay menyadari kesalahannya lalu minta maaf. Perbuatannya tersebut hanya untuk menuruti kemauan anak gadisnya saja dan ternyata Tiksan memang tidak bersalah dan bukan jodoh anaknya. Maka, ayah Omay mengijinkan Tiksan pulang.

Itulah pengalaman menarik dari Tiksan, pemborong yang berasal dari desa Mendalanwangi, Wagir, Kabupaten Malang.

Penutup

Apa yang terjadi pada Tiksan menunjukkan bahwa hanya orang-orang bersalah yang akan menerima akibat perbuatannya seperti disebutkan diawal. Sedangkan orang yang benar dan memiliki keyakinan kuat seperti Tiksan akan selamat.

Pada umumnya, setiap daerah di belahan dunia memiliki tradisi dan keunikan masing-masing terutama dalam menjaga keluarga atau keturunannya dari gangguan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sehingga para orangtua menggunakan berbagai cara agar keluarganya tidak diganggu orang lain.

Semoga bermanfaat..