Home » » Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup – Saat kembali menulis di blog ini, kenangan 25 tahun silam seolah membayang di depan mata. Ketika semalaman dipaksa oleh Kakek saya untuk memperhatikan segelas air comberan yang diambil dari parit di depan rumahnya. Saya bingung, tapi karena rasa ingin tahu yang besar tentang maknanya yang tersembunyi, maka saya menuruti saja perintah beliau.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup


Sampai dirumah kakek, ditengah belantara Alas Purwo, Banyuwangi, perasaan was-was dan khawatir seketika jadi hilang. Saya merasa tenang karena menganggap Kakek saya dapat menyelesaikan permasalahan yang tengah saya hadapi.

Kerasnya kehidupan kota Jakarta, memaksa saya untuk mengambil jalan kekerasan yang berujung dengan masalah hokum. Namun, karena belum siap menghadapi urusan yang bakal mengantarkan ke balik terali besi, saya melarikan diri. Hingga akhirnya, sampai di ujung timur pulau Jawa ini.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup

Bagi saya, Kakek adalah harapan terakhir yang dapat menyelesaikan permasalahan yang mengganggu ketenangan hidup saya. Karena beliau adalah sosok bijaksana dan disegani oleh masyarakat Suku Oseng, Banyuwangi.

Maka, tujuan pelarian saya hanyalah satu, rumah Kakek yang berada di Alas Purwo, Banyuwangi.  Meskipun harus bersusah payah dalam melakukan perjalanan jauh dari Jakarta menuju kota Blambangan dengan berganti kendaraan beberapa kali,akhirnya sampai juga di Alas Purwo, Banyuwangi, yang terkenal angker.

Namun, rupanya, Kakek saya mengetahui apa yang telah menimpa cucunya. Sehingga saat mengetuk pintu rumahnya, beliau sendiri yang membuka pintunya seolah sudah menunggu kedatangan saya. Lalu, beliau memberi saya sebuah gelas kosong dan menyuruh mengambil air yang ada di parit.

Setelah itu, tanpa ada basa-basi dan hidangan apapun, beliau menyuruh saya memperhatikan segelas air comberan tersebut dan tidak boleh tidur barang sekejap. Kemudian beliau meninggalkan saya sendirian di ruang tamu.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan

Meskipun sambil menggerutu, saya dengan terpaksa memperhatikan segelas air comberan itu. Air di dalam gelas itu berwarna coklat kehitaman dan kotor sekali karena kebetulan habis turun hujan.

Makna Dibalik Segelas Air Comberan : Satu Renungan Hidup

Satu jam pertama, saya tidak mengerti apa maksud kakek menyuruh memperhatikan segelas air dari parit itu. Saya duduk dan menaruh segelas air kotor itu di atas meja lalu melihatnya dengan penuh keheranan. Semenit kemudian, saya berganti posisi lalu kembali lagi ke posisi duduk semula, begitu seterusnya.

Dan tidak ada perubahan apapun di dalamnya, sehingga saya memilih mondar-mandir sambil mengawasinya.

Lelah berjalan, saya kembali duduk dan memperhatikan lagi segelas air parit itu. Masih sama, Cuma warnanya sedikit lebih bening dibandingkan semula.

Tiga jam kemudian, rasa kantuk menyerang sehingga saya berusaha mengusirnya dengan berjalan mondar-mandir mengitari ruang tamu. Saat kaki lelah melangkah, saya kembali duduk dan memperhatikan lagi segelas air kotor itu lalu jalan lagi mengusir kantuk. Duduk lalu jalan kemudian duduk lagi selanjutnya jalan lagi, itulah yang saya lakukan semalaman.

Karena sibuk mengatasi rasa kantuk, saya tidak begitu memperhatikan perubahan yang terjadi pada segelas air comberan itu. 

Hingga, tepat dini hari, Kakek keluar.

Coba perhatikan segelas air itu,” katanya tenang sambil menunjuk segelas air parit yang ada di meja.

Saya bergegas memperhatikannya. Segelas air comberan itu telah berubah. Warnanya menjadi bening dan kotoran-kotorannya mengendap di dasar gelas. Namun, saya masih bingung.

Ketika semalam kamu datang kemari, hati dan pikiranmu tak beda dengan air comberan yang ada di dalam gelas itu, keruh dan kotor. Sehingga kamu tidak akan mengerti dan memahami meskipun kakek memberikan nasehat sebagus apapun.” Kata kakek.

Sekarang, air comberan itu sudah berubah. Kotoran-kotorannya telah mengendap sehingga airnya menjadi bening. Dan sekarang, kamu bisa melihat kotoran apa saja yang ada di dalam gelas itu.” Lanjut Kakek.

Ya kek.” Jawabku sambil menundukkan wajah.

Seperti segelas air comberan itu, seharusnya kamu mengendapkan hati dan pikiranmu terlebih dahulu sebelum mengambil satu keputusan! Jangan menuruti emosi dan hawa nafsumu saja! Sekarang kamu merasakan akibatnya.” Tegur Kakek.

Maaf Kek, memang saya terbawa emosi. Tapi, apa yang harus saya lakukan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan saya?

Tinggallah disini selama seminggu, setelah itu, selesaikan masalahmu! Apapun resikonya kamu harus terima!” Perintah Kakek tegas, membuat saya tidak mungkin menolaknya.

Begitulah, setelah seminggu tinggal di Banyuwangi, saya kembali ke Jakarta dan mempertanggung-jawabkan perbuatan yang telah saya lakukan. Untungnya, korban dan keluarganya mau memaafkan kesalahan saya dan tidak memperpanjang lagi urusannya ke jalur hokum.

Namun, kejadian ini sudah cukup menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya sehingga berusaha tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Setiap kali terpancing emosi, saya berusaha mengenang kembali makna dibalik segelas air comberan.

Penutup

Itulah kisah pengalaman pribadi penulis yang berhubungan dengan segelas air comberan, satu renungan hidup yang dapat kita jadikan bahan pelajaran sebelum mengambil satu keputusan.

Ketika kita sedang emosi, hati dan pikiran tak ubahnya seperti segelas air parit yang kotor sehingga harus diendapkan terlebih dahulu. Dengan mengetahui kotoran-kotoran yang ada di dasar gelas, maka kita akan mengetahui kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan lalu mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikannya.


Semoga Bermanfaat..







2 komentar:

Posting Komentar